Dasar Sosialisme

Pengertian Sosialisme

Istilah “sosialisme” atau “sosialis” dapat mengacu ke beberapa hal yang berhubungan:

Kata ini mulai digunakan paling tidak sejak awal abad ke-19. Dalam bahasa Inggris, pertama digunakan untuk mengacu kepada pengikut Robert Owen pada tahun 1827. Di Prancis, digunakan untuk mengacu pada pengikut doktrin Saint-Simon pada tahun 1832 dan kemudian oleh Pierre Leroux dan J. Regnaud dalamn l’Encyclopédie nouvelle. Penggunaan kata sosialisme sering digunakan dalam berbagai konteks yang berbeda oleh berbagai kelompok, namun hampir semua sepakat bahwa istilah ini berawal dari pergolakan kaum buruh industri dan buruh tani pada abad ke-19 dan ke-20, yang berdasarkan prinsip solidaritas dan memperjuangkan masyarakat egalitarian, yang dengan sistem ekonomi, menurut mereka, dapat melayani masyarakat banyak, ketimbang hanya segelintir elite.

Marxisme (terutama Friedrich Engels), model dan gagasan sosialis dapat dirunut hingga ke awal sejarah manusia, sebagai sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial. Pada masa Pencerahan di abad ke-18, para pemikir dan penulis revolusioner seperti Marquis de Condorcet, Voltaire, Rousseau, Diderot, abbé de Mably, dan Morelly mengekspresikan ketidakpuasan berbagai lapisan masyarakat di Perancis.

Sejak abad ke-19, sosialisme telah berkembang ke banyak aliran yang berbeda:

Gerakan sosio-politik maupun intelektual di dalam Marxis-Sosialis dapat dikelompokkan lagi menjadi:

Sistem Ekonomi dalam sosialisme sebenarnya cukup sederhana. Berpijak pada konsep Marx tentang penghapuskan kepimilikan hak pribadi, prinsip ekonomi sosialisme menekankan agar status kepemilikan swasta dihapuskan dalam beberapa komoditi penting dan kepentingan masyarakat banyak, Seperti Air, Listrik, bahan pangan dll.

Sejumlah pemikir, pakar ekonomi dan sejarah, telah mengemukakan beberapa masalah yang berkaitan dengan teori sosialisme. termasuk di antara mereka adalah antara lain Milton Friedman, Ayn Rand, Ludwig von Mises, Friedrich Hayek, dan Joshua Muravchik.

Kritik dan keberatan tentang sosialisme dapat dikelompokkan menjadi kategori berikut:

  • Insentif
  • Harga
  • Keuntungan dan kerugian
  • Hak milik pribadi

Keuntungan dalam Anutan Sosialisme (“Kini” – an), telah dimungkinkan. Berhubungan dalam Keuangan dari Suatu Negara Sosialis. Untuk Transaksi atas Barang, walaupun bukan terhadap Pertanian.

Pemikiran Mao Zedong (Templat:Zh-sp), adalah varian dari Marxisme-Leninisme berasal dari ajaran-ajaran pemimpin komunis Tiongkok Mao Zedong (Wade-Giles Romanization: “Mao Tse-tung”).

Perlu dicatat bahwa istilah Pemikiran Mao Zedong lebih disukai oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan bahwa istilah Maoisme tidak pernah dipergunakan dalam terbitan-terbitan bahasa Inggrisnya kecuali dalam penggunaan peyoratif. Demikian pula, kelompok-kelompok Maois di luar tiongkok biasanya menyebut diri mereka Marxis-Leninis dan bukan Maois. Ini mencerminkan pandangan Mao bahwa ia tidak mengubah, melainkan hanya mengembangkan Marxisme-Leninisme. Namun demikian, beberapa kelompok Maois, percaya bahwa teori-teori Mao telah memberikan tambahan berarti kepada dasar-dasar kanon Marxis, dan karena itu menyebut diri mereka “Marxis-Leninis-Maois” (MLM) atau “Maois” saja.

Di RRT, pemikiran Mao Zedong adalah bagian dari doktrin resmi Partai Komunis Tiongkok, namun sejak 1978, permulaan pembaruan Deng Xiaoping yang berorientasi ekonomi pasar, dengan konsep tampilnya ke barisan depan “sosialisme dengan ciri khas Tiongkok” dalam politik, diberlakukanlah pembaruan ekonomi Tiongkok, dan definisi resmi serta pernaan ideologi asli Mao di RRT secara radikal telah diubah dan dikurangi (lihat Sejarah Tiongkok). Di luar RRT, istilah Maoisme digunakan sejak 1960-an, biasanya dalam pengertian yang negatif, untuk menggambarkan partai-partai atau orang-orang yang mendukung Mao Zedong dan bentuk komunismenya. Sejak kematian Mao dan pembaruan oleh Deng, kebanyakan partai yang secara tegas menyebut dirinya “Maois” telah lenyap, namun berbagai kelompok komunis di seluruh dunia, khususnya yang bersenjata seperti Partai Komunis India (Maois), Partai Komunis Nepal (Maois) dan Tentara Rakyat Baru di Filipina, terus memajukan gagasan-gagasan Maois dan memperoleh perhatian pers karenanya. Kelompok-kelompok ini biasanya berpendapat bahwa gagasan-gagasan Mao telah dikhianati sebelum sempat sepenuhnya atau dengan semestinya diterapkan.

Maoisme dan turunannya dengan kuat mendukung Uni Soviet dari era pra-Nikita Khruschev dan menganggap perkembangan dari Bahasa Rahasia telah memulai “revisionisme” dan “imperialisme-sosial” negara itu. Biasanya orang menganggap bahwa kaum Maois mengambil garis politik yang anti-revisionis dan yang umumnya lebih militan daripada “ko-eksistensi damai” yang diajukan oleh Soviet dan para pengikutnya setelah 1956. Biasanya kebanyakan Maois menganggap Joseph Stalin sebagai pemimpin sosialis sejati terakhir dari Uni Soviet.

// Teori Maois

Berbeda dengan bentuk-bentuk Marxisme-Leninisme yang lebih awal, di mana kaum proletar perkotaan dianggap sebagai sumber utama revolusi, dan daerah pedesaan pada umumnya diabaikan, Mao memusatkan perhatian pada kaum buruh-tani sebagai kekuatan revolusioner yang utama, yang, menurutnya, dapat dipimpin oleh kaum proletari dan pengawalnya, PKT. Model untuk ini adalah for perang rakyat berkepanjangan yang dilakukan oleh komunis Tiongkok di pedesaan pada 1920-an dan 1930-an, yang akhirnya mengantarkan PKT ke tampuk kekuasaan. Lebih jauh, berbeda dengan bentuk-bentuk Marxisme-Leninisme lain di mana pembangunan industri besar-besaran dipandang sebagai suatu kekuatan positif, Maoisme menjadikan pembangunan pedesaan keseluruhan sebagai prioritasnya. Mao merasa bahwa strategi ini masuk akal di masa tahap-tahap awal sosialisme di sebuah Negara di mana kebanyakan rakyatnya adalah buruh-tani.

Berbeda dengan kebanyakan ideology politik lainnya, termasuk ideologi sosialis dan Marxis, Maoisme mengandung doktrin militer yang integral dan secara eksplisit menghubungkan ideologi politiknya dengan strategi militer. Dalam pemikiran Maois, “kekuasaan politik berasal dari moncong senapan ” (salah satu kutipan ucapan Mao), dan kaum buruh-tani dapat dimobilisasi untuk melakukan “perang rakyat” dalam perjuangan bersenjata yang melibatkan perang gerilya dalam tiga tahap.

Tahap pertama melibatkan mobilisasi dan pengorganisasian kaum buruh-tani. Tahap kedua melibatkan pembanugnan wilayah basis di pedesaan dan peningkatan koordinasi di antara organisasi-organisasi gerilya. Tahap ketiga melibatkan transisi ke perang konvensional. Doktrin militer Maois menyamakan pejuang gerilya dengan ikan yang berenang di sebuah lautan yang penuh dengan buruh tani, yang memberikan dukungan logistik.

Maoisme menekankan “mobilisasi massa yang revolusioner ” (secara fisik memobilisasi sebagian besar penduduk dalam perjuangan demi sosialisme), konsep tentang Demokrasi Baru, dan Teori Angkatan Produktif sebagaimana yang diterapkan dalam industri-industri tingkat desa yang tidak tergantung dengan dunia luar (lihat Lompatan Jauh ke Depan). Dalam Maoisme, pengorganisasin yang cermat atas kekuatan militer dan ekonomi yang besar adalah perlu untuk mempertahankan wilayah revolusi dari ancaman luar, sementara sentralisasi menjaga agar korupsi dapat terus diawasi, di tengah-tengah kontrol yang kuat, dan kadang-kadang perubahan, melalui kaum revolusioner di ranah seni dan ilmu pengetahuan.

Sosialisme Utopis

Sosialisme Utopis atau Sosialisme Utopia adalah sebuah istilah untuk mendefinisikan awal mula pemikiran sosialisme modern. Para sosialis utopis tidak pernah benar-benar menggunakan ini untuk menyebut diri mereka; istilah “Sosialisme Utopis” awalnya diperkenalkan oleh Karl Marx dan kemudian digunakan oleh pemikir-pemikir sosialis setelahnya, untuk menggambarkan awal kaum sosialis intelektual yang menciptakan hipotetis masa datang dari penganut paham egalitarian dan masyarakat komunal tanpa semata-mata memperhatikan diri mereka sendiri dengan suatu cara dimana komunitas masyarakat seperti itu bisa diciptakan atau diperjuangkan.

Kata utopia sendiri diambil dari kisah pulau Utopia karangan Thomas Moore.

Karena Sosialisme utopis ini lebih merupakan sebuah kategori yang luas dibanding sebuah gerakan politik yang spesifik, maka sebenarnya sulit untuk mendefinisikan secara tepat istilah ini. Merujuk kepada beberapa definisi, desinisi sosialisme utopis ini sebaiknya melihat para penulis yang menerbitkan tulisan-tulisan mereka pada masa antara Revolusi Perancis dan pertengahan 1930-an. Definisi lain mengatakan awal mula sosialisme utopis jauh lebih ke masa lalu, dengan mengambil contoh bahwa figur Yesus adalah salah satu diantara penganut sosialisme utopis.

Walaupun memang terbuka kemungkinan siapapun yang hidup dalam waktu kapanpun dalam sejarah dapat disebut sebagai seorang sosialis utopis, istilah ini lebih sering dipakai terhadap para sosialis utopis yang hidup pada seperempat masa pertama abad 19. Sejak pertengahan abad 19 dan selanjutnya, cabang-cabang sosialisme yang lain jauh melebihi versi utopisnya, baik dalam perkembangan pemikirannya maupun jumlah penganutnya. Para sosialis utopis sangat penting dalam pembentukan pergerakan modern bagi komunitas intentional dan koperasi, techno komunisme.

Istilah “sosialisme ilmiah” kadang digunakan oleh para penganut paham Marxisme untuk menguraikan versi sosialisme mereka, terutama untuk tujuan membedakannya dari Sosialisme Utopis dimana telah terdeskripsi dan idealistis (dalam beberapa hal mewakili suatu yang ideal) dan bukan ilmiah, yaitu, yang dibangun melalui pemikiran dan berdasarkan pada ilmu-ilmu sosial.

Robert Owen (1771-1858) adalah seorang pelaku bisnis sukses yang menyumbangkan banyak laba dari bisnis nya demi peningkatan hidup karyawannya. Reputasi dia meningkat ketika dia mendirikan suatu pabrik tekstil di New Lanark, Skotlandia dan memperkenalkan waktu kerja lebih pendek, membangun sekolah untuk anak-anak dan merenovasi rumah-rumah tempat tinggal pegawainya. Ia juga merancang suatu komunitas Owenite yang disebut New Harmony (Keselarasan Baru) di Indiana, AS. Komunitas ini bubar ketika salah satu dari mitra bisnisnya melarikan diri dengan membawa semua laba yang ada. Kontribusi utama Owen bagi pikiran kaum sosialis adalah pandangan tentang dimana perilaku sosial manusia tidaklah tetap atau absolut, dan manusia mempunyai kehendak bebas untuk mengorganisir diri mereka ke dalam segala bentuk masyarakat yg mereka inginkan.

Étienne Cabet (1788–1856) dipengaruhi oleh pemikiran Robert Owen. Di dalam bukunya Travel and adventures of Lord William Carisdall in Icaria (1840) ia memaparkan suatu masyarakat komunal idealis. Usaha nya untuk membuatnya kembali (gerakan Icarian) gagal.

Charles Fourier (1772-1837) sejauh ini adalah seorang sosialis yang paling utopis. Menolak semua tentang Revolusi Industri dan semua permasalahan yang timbul menyertainya, ia membuat berbagai pendapat fantastis tentang dunia yang ideal yang ia impikan. Selain beberapa kecenderungan yang jelas-jelas tidak sosialis, ia tetap memberi kontribusi berarti bagi gerakan sosialis. Tulisan-tulisannya membantu Karl Marx muda dan membantunya memikirkan teori alienasi-nya. Fourier juga seorang feminisme radikal.

Sosialisme Utopis dalam kultur modern

Salah satu yang paling terkenal adalah United Federation of Planets yang dilukiskan pada kisah Star TrekThe Next Generation. Tidak ada kekurangan, tidak ada kemiskinan, tidak ada kejahatan, tidak ada penyakit atau ketidakpedulian di dunia; semua orang bekerja untuk kemajuan bagi semua umat manusia, bukan bagi kekayaan dirinya sendiri, sesuai dengan ketetapan federasi.

 

 

Asal Mula Penindasan Terhadap Perempuan

Perempuan berderajat lebih rendah daripada laki-laki – inilah anggapan umum yang berlaku sekarang ini tentang kedudukan kaum perempuan dalam masyarakat. Anggapan ini tercermin dalam prasangka-prasangka umum, seperti “seorang istri harus melayani suami”, “perempuan itu turut ke surga atau ke neraka bersama suaminya”, dll. Prasangka-prasangka ini mendapat penguatan dari struktur moral masyarakat yang terwujud dalam peraturan-peraturan agama dan adat. Lagipula, sepanjang ingatan kita, bahkan nenek-moyang kita, keadaannya memang sudah begini.

Tapi anggapan ini adalah anggapan yang keliru. Para ahli antropologi sudah menemukan bahwa keadaannya tidaklah selalu demikian.

Dalam masyarakat Indian Iroquis, misalnya, kedudukan perempuan dan laki-laki benar-benar setara. Bahkan, semua laki-laki dan perempuan dewasa otomatis menjadi anggota dari Dewan Suku, yang berhak memilih dan mencopot ketua suku. Jabatan ketua suku dalam masyarakat Indian Iroquis tidaklah diwariskan, melainkan merupakan penunjukan dari warga suku melalui sebuah pemilihan langsung yang melibatkan semua laki-laki dan perempuan secara setara. Keadaan ini berlangsung sampai jauh ke abad ke 19.

Dalam masyarakat Jermania, ketika mereka masih mengembara di luar perbatasan dengan Romawi, berlaku juga keadaan yang sama. Kaum perempuan mereka memiliki hak dan kewajiban yang setara dengan kaum laki-lakinya. Peran yang mereka ambil dalam pengambilan keputusanpun setara karena setiap perempuan dewasa adalah juga anggota dari Dewan Suku.

Demikian pula yang berlaku di tengah suku-suku Schytia dari Asia Tengah. Di tengah mereka, bahkan perempuan dapat diangkat menjadi prajurit dan pemimpin perang.

Namun jika kita cermati lebih lanjut, masyarakat-masyarakat di mana kedudukan perempuan dan laki-laki benar-benar setara ini adalah masyarakat nomaden, yang mengandalkan perburuan dan pengumpulan bahan makanan sebagai sumber penghidupan utama mereka. Suku-suku Indian Iroquis sudah mulai bertanam jagung, namun masih dalam bentuk sangat sederhana. Demikian pula yang berlaku di tengah masyarakat Jermania dan Schytia. Pertanian, bagi mereka, hanyalah pengisi waktu ketika hewan-hewan buruan mereka sedang menetap di satu tempat. Data-data arkeologi bahkan menunjukkan bahwa pertanian primitif ini hanya dikerjakan oleh kaum perempuan sebagai pengisi waktu senggang, dan tidak dianggap sebagai satu hal yang terlalu penting untuk dapat dikerjakan oleh seluruh suku secara bersama-sama.

Namun, ketika berbagai masyarakat manusia menggeser prikehidupannya ke arah masyarakat pertanian, seluruh struktur masyarakatpun berubah. Termasuk di antaranya hubungan antara laki-laki dan perempuan.

Pertanian dan Bangkitnya Patriarki

Berlawanan dengan pandangan umum tentang bangkitnya masyarakat pertanian, umat manusia tidaklah dengan sukarela memeluk pertanian sebagai cara hidup. Biasanya, orang beranggapan bahwa manusia mulai bertani ketika mereka menemukan daerah-daerah subur yang cocok untuk bertani. Namun, data-data arkeologi dan antropologi menunjukkan bahwa manusia mulai bertani ketika mereka terdesak oleh perubahan kondisi alam, di mana kondisi yang baru tidak lagi memberi mereka kemungkinan untuk bertahan hidup hanya dari berburu dan mengumpul bahan makanan.

Peradaban pertanian yang pertama kali muncul adalah peradaban Sumeria dan Mesir. Keduanya lahir dari terdesaknya suku-suku manusia yang mengembara di dataran padang rumput yang kini dikenal sebagai Afrasia. Padang rumput kuno yang kini sudah musnah ini membentang dari daerah pegunungan Afrika Timur melalui Arabia sampai pegunungan Ural di Asia Tengah. Sekitar 8.000 – 11.000 tahun yang lalu, ketika Jaman Es terakhir telah berakhir, padang rumput ini mengalami ketandusan akibat perubahan iklim. Ketandusan ini berawal dari daerah Arabia dan meluas ke utara dan selatan. Bersamaan dengan mengeringnya padang rumput ini, hewan-hewan buruan akan berpindah mencari tempat yang masih subur. Para pemburu dan pengumpul yang mengikuti hewan buruan ke utara akhirnya bertemu dengan lembah sungai Efrat dan Tigris, sementara yang ke selatan bertemu dengan lembah sungai Nil. Pada masa itu, sebuah lembah sungai merupakan medan yang tak tertembus oleh manusia, contoh modern dari lembah-lembah sungai yang masih perawan seperti ini dapat kita lihat di Papua. Karena terjepit antara dua keadaan yang berbahaya bagi kelangsungan hidup mereka, kelompok-kelompok pemburu dan pengumpul ini akhirnya memutuskan untuk bergerak memasuki lembah-lembah sungai ini dan berusaha menaklukkannya – setidaknya, di lembah-lembah sungai ini masih tersedia air.

Proses penaklukan ini pasti berjalan dengan amat beratnya karena peralatan yang mereka miliki, pada awalnya, hanyalah peralatan untuk berburu. Kini mereka harus menciptakan improvisasi bagi alat-alat mereka supaya dapat digunakan untuk membersihkan lahan. Karena peralatan mereka yang primitif itu, proses pembukaan lahan ini dapat berlangsung beratus tahun lamanya. Sementara jarang ada binatang buruan yang akan mengikuti mereka memasuki lembah-lembah sungai itu. Mereka dihadapkan pada keharusan untuk menemukan sumber makanan lain.

Dan di saat inilah, menurut data arkeologi, kaum perempuan muncul sebagai juru selamat. Mereka menggunakan ketrampilan mereka untuk mengolah biji-bijian menjadi tanaman untuk mendapatkan bahan makanan bagi seluruh komunitas. Apa yang tadinya hanya pengisi waktu senggang kini menjadi sumber penghidupan utama seluruh masyarakat.

Keharusan manusia untuk menemukan cara-cara baru untuk mempertahankan hidupnya membuat perkembangan teknologi berlangsung dengan pesat di tengah masyarakat pertanian, jika dibandingkan dengan perkembangan teknologi dalam masa-masa sebelumnya. Dengan perkembangan teknologi ini, apa yang tadinya hanya dapat dikerjakan bersama-sama (komunal) kini dapat dikerjakan secara sendirian (individual). Proses untuk menghasilkan sumber penghidupan kini berangsur-angsur berubah dari proses komunal menjadi proses individual.

Dan, hal yang paling wajar ketika pekerjaan sudah dilakukan secara individual adalah bahwa hasilnya kemudian menjadi milik individu (perorangan). Pertanian memperkenalkan kepemilikan pribadi pada umat manusia.

Di samping itu, pertanian sesungguhnya menghasilkan lebih banyak daripada berburu dan mengumpul. Tiap kali panen, manusia menghasilkan jauh lebih banyak daripada yang dapat dihabiskannya. Dengan kata lain, pertanian memperkenalkan hasil lebih pada pri-kehidupan manusia.

Namun, hasil lebih ini tidaklah muncul secara kontinyu, melainkan dalam paket-paket. Sekali panen, mereka mendapat hasil banyak, namun hasil itu harus dijaga agar cukup sampai panen berikutnya. Hal ini menumbuhkan keharusan untuk menjaga dan membagi hasil lebih ini. Melalui proses ratusan tahun, kedua keharusan ini menumbuhkan tentara dan birokrasi. Dengan kata lain, pertanian memperkenalkan Negara pada pri-kehidupan manusia.

Sekalipun berlangsung berangsur-angsur selama ratusan tahun, pada satu titik, perubahan-perubahan kecil ini menghasilkan lompatan besar pada pri-kehidupan manusia. Terlebih lagi setelah pertanian diperkenalkan, baik melalui penaklukan atau melalui proses inkulturasi, pada peradaban-peradaban lain di seluruh dunia.

Dan salah satu perubahan penting ini terjadi pada pembagian peran antara laki-laki dan perempuan.

Pertama, pertanian pada awalnya membutuhkan banyak tenaga untuk membuka lahan karena tingkat teknologi yang rendah. Hanya dari proses ekstensifikasi (perluasan lahan)-lah pertambahan hasil dapat diperoleh. Oleh karena itu, proses reproduksi manusia menjadi salah satu proses yang penting untuk mendapatkan sebanyak mungkin tenaga pengolah lahan pertanian. Aktivitas seksual, yang tidak pernah dianggap penting, bahkan dianggap beban, di tengah masyarakat berburu dan mengumpul, kini menjadi satu aktivitas yang penting. Dewi Kesuburan merupakan salah satu dewi terpenting di tengah masyarakat pertanian, bukan hanya berkenaan dengan kesuburan tanah melainkan juga tingkat kesuburan reproduksi perempuan.

Dan sebagai akibat logis dari keadaan ini kaum perempuan semakin tersingkir dari proses produktif di tengah masyarakat. Waktunya semakin lama semakin terserap ke dalam kegiatan-kegiatan reproduktif.

Kedua, teknologi pertanian yang maju semakin pesat ini ternyata malah membuat aktivitas produksi di sektor pertanian menjadi semakin tertutup buat perempuan. Penemuan arkeologi menunjukkan bahwa ditemukannya bajak (luku) telah menggusur kaum perempuan dari lapangan ekonomi. Bajak merupakan alat pertanian yang berat, yang tidak mungkin dikendalikan oleh perempuan. Terlebih lagi bajak biasanya ditarik dengan menggunakan tenaga hewan ternak, di mana pengendalian terhadap ternak memang merupakan wilayah ketrampilan kaum laki-laki. Intrusi (mendesak masuknya) peternakan ke dalam pertanian telah membuat ruang bagi kaum perempuan, yang keahliannya hanya dalam bidang pertanian, semakin tertutup.

Karena perempuan semakin tidak mampu bergiat dalam lapangan produksi, maka iapun semakin tergeser ke pekerjaan-pekerjaan domestik (rumah tangga). Dan ketika perempuan telah semakin terdesak ke lapangan domestik inilah patriarki mulai menampakkan batang hidungnya di muka bumi.

Kepemilikan Pribadi dan Patriarki

Tergesernya kaum perempuan dari lapangan produktif ini terjadi dalam konteks berkembangnya kepemilikan pribadi.

Dengan semakin bergesernya proses produksi menjadi sebuah proses perorangan, maka unit pengaturan masyarakat pun berubah. Jika tadinya unit pengaturan masyarakat yang terkecil adalah suku maka kini muncullah sebuah lembaga baru, yakni keluarga.

Hampir di tiap masyarakat yang terhitung primitif konsep tentang keluarga tidak dikenal. Penelitian arkeologis telah menemukan berbagai bentuk sistem reproduksi masyarakat komunal seperti ini. Seperti nyata di tengah masyarakat Zulu, di Afrika, di mana tiap waktu tertentu diadakan satu upacara di mana kaum perempuan memilih pasangannya untuk jangka waktu sampai upacara berikutnya diadakan. Suku-suku Afrika yang lain, semacam orang-orang Bush, menganut sistem di mana seorang perempuan adalah istri dari semua laki-laki yang ada di suku tersebut, sementara seorang laki-laki adalah suami dari semua perempuan di sukunya. Suku-suku aborigin Australia menganut sistem silang-suku, di mana mereka mengenal suku-saudara. Seorang perempuan aborigin adalah istri dari semua laki-laki dalam suku-saudara mereka, demikian sebaliknya yang terjadi dengan tiap laki-laki dalam suku tersebut.

Oleh karena pola reproduksi yang komunal semacam ini, garis keturunan seseoang hanya dapat dilihat dari siapa ibunya. Dari sinilah sebab mengapa dalam masyarakat primitif hanya dikenal garis matrilineal. Ini nampak nyata dalam asal-usul kata “gen” atau “genetik” itu sendiri, yang berasal dari kata kuno bangsa Arya gan atau kan yang artinya “kelahiran” atau “kehamilan”. Jadi, “keturunan” merupakan satu bentuk yang sangat bernuansa perempuan pada awalnya.

Namun demikian, garis matrilineal ini tidaklah berarti apa-apa selain penentu apakah seseorang dapat digolongkan sebagai “orang kita” atau bukan. Dalam makna yang lebih luas, apakah ia setelah dewasa akan dapat memperoleh tempat dalam Dewan Suku dan ikut mengambil keputusan-keputusan penting. Jadi, pada masa itu tidaklah dikenal Matriarki. Perempuan dan laki-laki benar-benar setara kedudukannya di tengah masyarakat.

Namun, pertanian mengubah semua itu.

Di atas kita telah melihat bahwa peranan perempuan perlahan-lahan tergusur dari lapangan produktif ke lapangan domestik. Pada awalnya ini adalah satu proses yang diterima baik oleh kaum perempuan karena pembagian kerja seperti ini dapat secepatnya meningkatkan hasil yang dapat diperoleh dari lapangan produksi itu sendiri. Dengan sukarela kaum perempuan menyerahkan tempatnya di lapangan produksi demi satu pembagian tugas yang akan meningkatkan hasil produksi setinggi-tingginya.

Yang tidak dapat dilihat oleh kaum perempuan masa itu adalah peranan kepemilikan pribadi dalam menempa sebuah sistem masyarakat.

Dalam hal ini, karena proses produksi telah menjadi sebuah proses perorangan, maka alat-alat produksi juga menjadi milik perorangan. Sistem kepemilikan suku atas alat-alat produksi semakin lama semakin pudar. Dan bersamaan dengan itu, kepemilikan atas hasil produksi juga berubah dari kepemilikan bersama menjadi kepemilikan perorangan.

Dan karena perempuan telah menyerahkan tempat mereka dalam lapangan produksi kepada laki-laki, maka kepemilikan atas alat-alat produksi itu kemudian juga jatuh kepada laki-laki. Dan karena kepemilikan atas alat produksi itu jatuh pada laki-laki, kepemilikan atas hasil produksinya juga jatuh ke tangan laki-laki.

Berikutnya, ketika kita bicara tentang bagaimana menjaga dan mengatur pembagian hasil produksi ini, siapakah yang berhak mengambil keputusan? Tentunya, karena merekalah yang bergiat di lapangan produksi, hak inipun jatuh pada laki-laki.

Ketika hak untuk mengambil keputusan dalam masyarakat telah secara eksklusif dipegang oleh kaum laki-laki, bangkitlah patriarki.

Perlahan-lahan, setelah proses ini berlangsung ratusan tahun, orangpun melupakan asal-usul pergeseran ini dan hak waris dari garis laki-laki kemudian terlembagakan. Demikian pula seluruh sistem nilai dalam masyarakat yang semula menjunjung tinggi kesamaan antara laki-laki dan perempuan kini tergeser dan tergantikan oleh sistem nilai di mana laki-laki berkuasa atas perempuan.

Salah satunya nampak dalam sistem kepercayaan, yang merupakan salah satu sistem nilai yang paling tua umurnya dalam sejarah manusia. “Agama-agama” paling kuno, seperti dinamisme atau animisme, sama sekali tidak membagi dewa-dewa mereka sebagai laki-laki atau perempuan. Bagi mereka, masalah jenis kelamin ini sama sekali tidak penting. Agama-agama yang muncul kemudian telah mulai membagi kekuatan-kekuatan supranatural ini menjadi dewa (laki-laki) dan dewi (perempuan). Namun di antara keduanya sama sekali tidak nampak perbedaan kekuasaan yang mencolok. Agama orang-orang Yunani, misalnya, sekalipun menempatkan Zeus (laki-laki) sebagai pemimpin tertinggi, namun ia seringkali tidak dapat menghalangi apa yang dimaui oleh istrinya, Hera. Untuk hampir tiap masalah, selalu ada pasangan dewa dan dewi yang menaunginya, seperti Athena-Aries (perang), Cupid-Venus (cinta), dll. Apollo jelas laki-laki, namun objek yang dinaunginya yakni matahari selalu harus menyerah pada bulan yang dilindungi oleh Artemis ketika malam tiba. Bahkan Apollo dan Artemis adalah kakak-beradik. Baru pada agama-agama monotheis-lah kekuatan supranatural tertinggi dilekatkan pada laki-laki, seperti yang nampak pada anggapan kebanyakan penganut monotheis mengenai apakah Tuhan adalah laki-laki atau perempuan.

Kemungkinan-kemungkinan untuk Pembebasan Perempuan

Di atas kita dapat melihat bahwa penempatan perempuan pada posisi kelas dua dalam masyarakat berawal dari tergesernya peranan kaum perempuan dalam lapangan produksi. Dan, pada gilirannya, tergesernya peran ini adalah akibat dari tingkatan teknologi masa itu yang tidak memungkinkan kaum perempuan untuk memasuki lapangan produksi.

Posisi kelas dua ini diperkukuh oleh sistem kepemilikan pribadi, yang pada gilirannya memunculkan diri dalam berbagai prasangka, sistem nilai dan ideologi yang menegaskan paham keunggulan laki-laki dari perempuan.

Karena ketertindasan perempuan berawal dari sebuah perjalanan sejarah yang objektif maka upaya pembebasan perempuan dari posisi yang ditempatinya sekarang ini harus pula menemukan kondisi objektif yang memungkinkan dilakukannya pembebasan tersebut. Kondisi itu adalah kembalinya kaum perempuan ke lapangan produksi kolektif.

Kondisi ini sesungguhnya telah diwujudkan oleh kapitalisme. Kapitalisme, yang mengandalkan mesin sebagai alat produksinya yang utama, telah memungkinkan kaum perempuan untuk kembali berkarya di bidang produksi kebutuhan masyarakat. Bahkan, sekarang ini, jika kita melihat di kota-kota besar, sudah jarang sekali ada kaum perempuan yang tidak memberikan sumbangan bagi perolehan kebutuhan hidup keluarganya.

Lagipula, kapitalisme telah membuat sistem produksi menjadi semakin lama semakin kolektif. Sepasang sepatu NIKE, misalnya, adalah buah karya ratusan, bahkan ribuan, orang dari berbagai negeri. Hampir tiap barang yang kita pergunakan untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari merupakan hasil kerja ratusan bahkan ribuan orang. Ini semua adalah pertanda bahwa sistem produksi komunal semakin hari semakin berjaya kembali.

Dapatlah kita lihat bahwa perkembangan kondisi objektif ini telah menghasilkan ruang yang sangat terbuka bagi perempuan. Gerakan emansipasi perempuan telah berkembang bersamaan dengan masuknya perempuan-perempuan ke pabrik-pabrik. Kini perempuan telah berhak turut serta dalam berbagai bidang pekerjaan. Kebanyakan perempuan juga telah bebas untuk memilih jalan hidupnya sendiri, termasuk memilih pasangan hidup.

Namun demikian, kondisi objektif ini tidak dapat berkembang menjadi pembebasan perempuan yang sepenuh-penuhnya karena sistem nilai yang ada di tengah masyarakat masih merupakan sistem nilai yang mendukung adanya peminggiran terhadap peran perempuan.

Kita dapat melihat bahwa pekerja perempuan kebanyakan diupah jauh lebih rendah daripada pekerja laki-laki. Dan ini bukan terjadi di pabrik-pabrik saja. Demikian pula yang terjadi di banyak kantor-kantor, bahkan di kalangan industri perfilman di mana aktris biasanya digaji lebih rendah daripada aktor.

Masih dalam bidang pekerjaan, kita tahu bahwa bidang-bidang tertentu masih diposisikan sebagai “bidangnya perempuan”. Seorang sekretaris, misalnya, haruslah cantik dan memiliki bentuk tubuh yang “menarik”. Banyak orang masih meremehkan seorang perempuan yang bercita-cita dan berusaha keras untuk, misalnya, menjadi seorang pilot.

Ini berkaitan erat dengan masih dijadikannya perempuan sebagai simbol seksual dalam masyarakat. Penilaian utama terhadap seorang perempuan diletakkan pada apakah ia “cantik”, “seksi” atau bentuk-bentuk penilaian fisik lainnya. Sesungguhnya, penilaian inipun sangat bergantung pada masyarakatnya karena apa yang “cantik dan seksi” untuk satu jaman belum tentu demikian untuk jaman lainnya. Dan pada titik ekstrimnya, kita melihat pelacuran sebagai bentuk eksploitasi puncak terhadap perempuan karena di sini bukan saja tenaganya yang dieksploitasi melainkan juga moral dan intelektualitasnya.

Di tengah masyarakat kita telah pula berkembang gerakan anti-emansipasi perempuan. Banyak bentuk yang diambil oleh gerakan ini, namun pada intinya gerakan ini berusaha mengembalikan posisi perempuan menjadi posisi terpinggirkan. Perempuan hendak dikembalikan pada posisi tidak turut dalam pengambilan keputusan, bahkan hendak dibatasi kembali ruang geraknya.

Sebaliknya, banyak pula dari kaum perempuan yang telah lolos dari jerat pembatasan-pembatasan, ternyata justru berbalik ikut membatasi gerak, bahkan turut menindas, kaum perempuan lainnya. Telah banyak pemimpin perempuan di muka bumi ini, tapi berapa banyak dari mereka yang berjuang untuk membebaskan kaum perempuan dari keterpinggiran dan keterbelakangan? Telah banyak pula manajer dan direktur perempuan di dalam perusahaan-perusahaan, tapi berapa banyak dari mereka yang berjuang agar buruh-buruh perempuan di pabriknya mendapatkan seluruh hak mereka sebagai perempuan?

Contoh paling kongkrit kita dapatkan di negeri sendiri. Presiden Megawati adalah seorang perempuan, namun sampai saat ini tidak satupun konvensi PBB yang memberikan perlindungan terhadap perempuan yang diratifikasi oleh Indonesia. Padahal, tindakan meratifikasi konvensi PBB adalah termasuk langkah politik yang moderat. Ia juga telah memotong berbagai subsidi barang-barang kebutuhan hidup. Pemotongan subsidi ini pasti memukul langsung nasib kaum perempuan Indonesia yang sampai saat ini masih terus terbelit dalam kungkungan tembok-tembok domestik.

Di atas telah kita lihat bahwa masih ada satu faktor lagi yang mengukuhkan ketertindasan perempuan: kepemilikan pribadi.

Kepemilikan pribadi tumbuh dari sebuah proses produksi yang perorangan, di mana seluruh barang kebutuhan dihasilkan oleh perorangan. Di bawah kapitalisme halnya tidak lagi demikian. Barang kebutuhan hidup telah dihasilkan secara komunal, secara kolektif. Namun, hasil produksi yang komunal ini masih dikangkangi secara pribadi, secara perorangan.

Dan oleh karena sistem kepemilikan pribadi masih berjaya, maka seluruh sistem nilai yang mendukung kepemilikan pribadi itu akan ikut berjaya pula. Dan kita tahu bahwa sistem nilai yang mendukung kepemilikan pribadi adalah juga sistem nilai yang mendukung peminggiran terhadap kaum perempuan.

Oleh karena itu, perjuangan pembebasan terhadap perempuan tidaklah dapat dilepaskan dari perjuangan untuk mengubah kendali atas proses produksi (dan hasil-hasilnya) dari tangan perorangan (pribadi) ke tangan masyarakat (sosial). Sebaliknya, pengalihan kendali ini tidak akan berhasil jika kaum perempuan belumlah terbebaskan. Tidaklah mungkin membuat satu pengendalian produksi (dan pembagian hasilnya) secara sosial jika kaum perempuan, yang mencakup setidaknya setengah dari jumlah umat manusia, tidaklah terlibat dalam pengendalian itu.

Di sinilah kita dapat menarik satu kesimpulan: perjuangan pembebasan perempuan akan berhasil dengan sempurna jika ia disatukan dengan perjuangan untuk mencapai sosialisme. Dan sebaliknya, perrjuangan untuk sosialisme akan juga berhasil dengan sempurna jika perjuangan ini menempatkan pembebasan perempuan sebagai salah satu tujuan utamanya. Kedua perjuangan ini tidak boleh dipisahkan, atau yang satu didahulukan daripada yang lain. Keduanya harus berjalan bersamaan dan saling mengisi.

Hanya dengan demikianlah kaum perempuan akan dapat dikembalikan pada posisi terhormat dalam masyarakat – sejajar dengan laki-laki dalam segala bidang kehidupan: ekonomi, sosial dan politik.

 

MARX TENTANG PENJELASAN ILMIAH

Jawaban-jawaban Marx atas pertanyaan-pertanyaan mengenai tujuan analisis teoretikal yang dipergunakan dalam CAPITAL, jika dikemukakan secara terpisah-pisah satu dari lainnya, pada pengelihatan pertama berbeda, dan kadang-kala bahkan saling bertentangan satu sama lainnya.

Tujuan analisis dalam CAPITAL, menurut Marx, adalah memberikan analisis mengenai modal dalam struktur dasarnya, menyajikan organisasi inti dari cara produksi kapitalis, bahkan dalam gaya idealnya.1) Di lain tempat Marx juga merumuskan tujuan analisis teoretikalnya mengenai kapitalisme itu dalam perumusan yang terkenal: ‘…..menjadi tujuan pokok karya ini untuk mengungkapkan hukum gerak ekonomi dari masyarakat modern…..2) Ini berarti menerangkan hukum-hukum istimewa yang menentukan asal- usul, keberadaan, perkembangan dan kematian suatu organisme sosial tertentu dan pergantiannya oleh suatu organisasi sosial lain yang lebih tinggi’ 3) Tekanan lebih dulu diletakkan atas organisasi inti, struktur dasar, kemudian atas hukum-hukum gerak, hukum-hukum perkembangan. Bagi Marx, suatu analisis struktural dan genetik tidak mengandung pertentangan, dan tidak menghasilkan suatu penanganan paralell atau beruntun. Yang menjadi perhatian Marx adalah menyajikan cara produksi kapitalis itu sebagai suatu struktur yang berkembang-sendiri, lahir-sendiri dan hancur-sendiri. Analisis teoretikal yang mengarah pada tujuan ini adalah suatu analisis struktural-genetik yang terpadu.

Dalam pengertian yang sama sebagaimana Marx berbicara tentang struktur dasar, ia juga merujuk pada hubungan-hubungan yang bersesuaian dengan konsep modal, tipe umum dari hubungan kapitalis.4) Maka dalam hubungan-arti itu memahami secara ilmiah bagi Marx berarti penyajian karakteristik-karakteristik dari suatu tipe, organisme atau keutuhan tertentu yang berkembang- sendiri…..melakukan suatu analisis struktural-genetik.

Originalitas prosedur Marx dapat didemonstrasikan dengan membandingkannya dengan yang oleh pendahulu-pendahulunya, teristiwa Ricardo, dalam ekonomi politik teoretikal diartikan dengan penjelasan ilmiah, dengan batasan bahwa mereka memaparkan tafsiran- tafsiran mereka mengenai penjelasan ilmiah itu hanya secara implisit (Ricardo) atau secara implisit dan eksplisit (Adam Smith).5)

Ada keterbatasan-keterbatasan dalam suatu analisis perbandingan seperti itu. Perbandingan-perbandingan dapat dilakukan dengan bermacam-macam cara: secara supra-historikal dan kontinjen……dalam hal mana perbandingan itu bukannya mendekatkan, melainkan bahkan menjauhkan kita dari suatu pemahaman yang benar, atau cara merujuk pada asal-mula asal-mula: dalam hal ini maka penerapan metode perbandingan itu, spesifikasi dari perbedaan- perbedaan atau persamaan-persamaan, menjadi perkiraan- perkiraan dan alat bagi pengumpulan material untuk penanganan lebih lanjut, akan suatu pemahaman secara materialis-dialektikal mengenai gejala dalam keharusan pekembangannya. Kita lakukan analisis perbandingan dalam pengertian yang kedua. Di antara sistem-sistem ekonomi Ricardo dan Marx terdapat suatu hubungan genetik langsung. Dua tipe penjelasan ilmiah yang berbeda terkandung dalam sistem- sistem ilmiah yang meliput subjek yang sama. Karenanya terdapat titik tolak yang menguntungkan bagi penafsiran originalitas konsep Marx mengenai penjelasan ilmiah, yaitu tipe logikal dari pemikiran ilmiah Marx pada tahap pertama perkembangannya. Namun, aku tidak mempersoalkan di sini aspek-aspek pertanyaan lebih luas mengenai bagaimana konsep metode ilmiah Ricardo–yaitu yang termasuk pada tipe logikal Locke–diklasifikasikan dalam tatanan historikalnya yang luas, kedudukan apa yang ditempatinya, dan hubungan apa yang dipunyainya dengan tipe-tipe metode ilmiah lainnya dalam ilmu modern, dsb.6) Analisis perbandingan awal yang kulakukan bagaimanapun tidak mempermasalahkan perbedaan antara konsepsi Marx dan suatu tipe penjelasan ilmiah pra-Marxis yang penting, sebagaimana yang dikembangkan dalam filsafat klasik Jerman, teristimewa oleh Hegel. Penggarapan konsekuensi-konsekuensi analisis perbandinganku yang bersifat pengantar tentu saja tidak mungkin dilakukan dalam bab-bab berikutnya tanpa meneliti peranan Hegel dalam perkembangan tipe logika Marx dan menerangkan originalitas konsep Marx dalam hubungannya dengan Hegel.

Dalam analisis Ricardo mengenai kapitalisme terkandung suatu konsep penjelasan ilmiah yang dapat dikarakterisasi sebagai berikut:

(a) Ia membedakan permukaan empirikal dari hakekat (esensi).

(b) Hakekat itu difahami sebagai sesuatu yang tidak dapat berubah, sesuatu yang sudah ada dan untuk selama-lamanya, jadi analog dengan hukum-hukum Newton. Bentuk-bentuk empirikal dari gejala-gejala dianggap sebagai bentuk-bentuk fenomenal langsung dari suatu esensi yang tetap, yang sebagian diteliti dan kemudian ditetapkan, dan sebagian lagi diterima sebagai suatu perkiraan yang berdiri sendiri. Bentuk-bentuk empirikal dari gejala-gejala adalah tetap karena sifat a-historikalnya dan bersamaan dengan itu bersifat variabel dalam hubungannya dengan perubahan-perubahan kuantitatif.

(c) Persoalan-persoalan mengenai sasaran seluruh analisis itu muncul dalam suatu bentuk yang lebih dijabarkan:

  1. perubahan-perubahan kuantitatif apakah yang terjadi pada bentuk-bentuk empirikal itu jika itu bergantung pada perubahan- perubahan dalam esensinya;
  2. Perubahan-perubahan kuantitatif apakah yang terjadi pada bentuk-bentuk empirikal itu jika bentuk-bentuk empirikal tertentu yang berada dalam suatu hubungan timbal-balik berbeda secara kuantitif?

Jumlah kerja yang diperlukan untuk produksi suatu barang dagangan jelaslah menjadi esensi tetap yang menjadikan mungkin–demikian menurut Ricardo–difahaminya secara asasi semua gejala ekonomi kapitalis dan untuk menetapkan hukum-hukum yang mengatur distribusi ini….. di antara tiga klas dalam masyarakat, yaitu pemilik tanah, pemilik saham atau modal…. dan kaum buruh….7) yang, menurut Ricardo, menjadi tugas pokok ekonomi politik.Perbedaan asali antara gejala empirikal dan esensi mula-mula muncul pada Ricardo dalam bentuk sebuah pertanyaan: apakah sebenarnya dasar nilai tukar semua barang?8) Jika kita meneliti kedalam struktur penyajian kapitalisme oleh Ricardo, setelah penentuan azas bahwa kerja adalah substansi nilai-tukar, maka yang kita dapatkan dalam kenyataannya adalah suatu pembagian bab-bab yang agak tidak logikal yang bercirikan pertanyaan- pertanyaan yang diajukan secara beruntun oleh Ricartdo. Pertanyaan-pertanyaan itu adalah yang berikut ini:

Apakah yang menjadi sebab utama dari perubahan-perubahan dalam nilai-nilai nisbi (relatif) suatu barang dagangan?

Apakah adanya kualitas-kualitas kerja yang berbeda menjadi sebab perubahan-perubahan dalam nilai nisbi suatu barang dagangan?

Apakah penggunaan modal konstan yang lebih besar atau yang lebih kecil mempengaruhi perubahan dalam nilai nisbi suatu barang dagangan?

Apakah naiknya atau turunnya upah-upah mempengaruhi salah satu perubahan dalam nilai nisbi suatu barang dagangan?

Akibat-akibat apakah yang timbul dari perubahan-perubahan dalam nilai uang atau dari perubahan-perubahan dalam nilai barang-barang dagangan yang ditukarkan dengan uang?

Apakah pemilikan atas tanah dan perkembangan sewa yang dihasilkan olehnya, mempengaruhi nilai nisbi barang-barang dagangan, secara tidak tergantung pada jumlah kerja yang diperlukan untuk produksi barang-barang dagangan?

Apakah yang menjadi sebab perubahan terus-menerus dalam laba dan tingkat bunga yang dihasilkan olehnya?

Secara keseluruhan kita meneliti perubahan-perubahan dalam nilai-tukar (suatu hubungan kuantitatif) dengan perkiraan bahwa kerja menjadi dasar nilai-tukar dan bahwa ia bergantung pada perubahan-perubahan kuantitatif pada faktor-faktor dan bentuk-bentuk empirikal yang berbeda dari ekonomi kapitalis.

Menamakan penelitian Ricardo sebagai suatu kuantitativisme berarti mengabaikan kenyataan bahwa ia tidak bekerja dengan suatu reduksi lengkap dari ciri-ciri kualitatif pada ciri-ciri kuantitatif. Ia juga tidak sampai pada mekanika klasikal dan materialisme mekanikal.9) Dalam penyajian-penyajiannya memang terdapat determinasi-determinasi kualitatif, tetapi analisis teoretikal Ricardo tidak memperlakukan itu sebagai determinasi-determinasi kualitatif, karena–bertentangan dengan sifat determinasi-determinasi kualitatif–itu semua ditarik secara tidak kritikal dari permunculan-permunculan, dari dunia empirikal, sebagai tetap, tidak dapat berubah, langsung. Maka, misalnya upah, laba dan bunga adalah bentuk-bentuk pendapatan dalam kapitalisme yang secara kualitatif dibeda-bedakan. Ricardo tidak meneliti itu semua, namun, dalam hubungan kualitas-kualitas khasnya, melainkan menganggap itu sebagai tiga sumber alamiah yang konstan dari tiga klas alamiah yang konstan dari kependudukan dan mengabdikan seluruh penelitiannya pada masalah perbedaan-perbedaan dalam hubungan-hubungan kuantitatif yang berbeda di antara ketiga bentuk pendapatan itu, teristimewa antara faktor-faktor yang berbeda dalam cara produksi kapitalis dan bentuk-bentuk pendapatan itu.10) Ini menunjukkan betapa pendirian kuantitatif yang berat-sebelah itu menyertai pendirian a-historikal.

Pendirian kuantitatif juga terdapat dalam karya Ricardo dengan masuknya perbedaan dasar antara nilai-tukar dan esensinya, sebagaimana disebut di atas. Ricardo tidak selalu konsisten dalam pembedaan itu. Sekalipun lebih sering dibedakannya antara hubungan-hubungan kuantitatif (dalam hubungan soal ini nilai relatif) dan yang dapat orang sebut nilai mutlak yang muncul dalam hubungan kuantitatif itu, Ricardo kadang-kadang mengacaukan persoalan-persoalan, yang di kemudian hari dibikin terang oleh Marx dengan membedakan antara nilai (substansi-nilai) dan nilai-tukar (bentuk nilai). Pada umumnya, Ricardo tidak mengembangkan perbedaan ini, padahal ini diperlukan agar memahami dasar sesungguhnya dari nilai-tukar dan untuk memusatkan analisis secara tepat pada penelitian atas perubahan-perubahan kuantitatif dalam nilai-nilai tukar.

Filsafat Hegel

KRITIK ATAS HEGEL DALAM MANUSKRIP-MANUSKRIP PARIS
oleh Jindrich Zeleny

Masalah tahap-tahap yang di dalamnya Marx bertentangan dengan filsafat Hegelian patut mendapatkan perhatian khusus. Tahap-tahap terpenting kritik Marxian atas Hegel–dan yang paling sulit ditafsirkan– merupakan perkembangan intelektual dalam manuskrip-manuskrip Paris tahun 1844 (Economic and Philosophical Manuscripts) hingga The German Ideology.

NEGASI DARI NEGASI

Kritik Marxian atas Hegel di dalam manuskrip-manuskrip Paris1) adalah suatu usaha untuk memenuhi suatu tugas teoretikal–sebagaimana dikatakan oleh Marx–yang tidak dapat ditiadakan jika kejelasan mengenai metode kritik mesti berlaku dalam gerakan revolusioner.2) The German Ideology juga menyalahkan kaum Hegelian muda: mereka tidak memeriksa perkiraan-perkiraan filosofik dari kritik mereka; seandainya mereka melakukannya, mereka tidak akan harus bertentangan dengan filsafat penjelasan mengenai metode kritisisme ini, penelitian atas perkiraan-perkiraan filosofik dari kritik ini, difahami oleh Marx sebagai suatu tugas teoretikal; ini merupakan isi positif dari keyakinannya akan akhir dari filsafat (spekulatif); dan ini mempunyai suatu jangkauan metafilosofikal; ini antara lain adalah suatu revisi dan suatu konsepsi Dalam kritiknya atas Hegel dalam manuskrip-manuskrip Paris Marx pada awalnya memegang garis Feuerbachian. Tetapi kemudian ia memisahkan dirinya dari Feuerbach dalam interpretasinya mengenai negasi dari negasi Hegelian. Feuerbach–dalam pendapat Marx–mengabaikan aspek-aspek penting dari konsepsi Hegelian mengenai negasi dari negasi: ia memahami negasi dari negasi hanya sebagai suatu operasi intelektual yang memungkinkan Hegel menguatkan filsafat teologikal (yaitu, teologi yang dirasionalisasi), setelah sebelumnya menegasikannya. Negasi dari negasi Hegel memungkinkan, menurut Feuerbach, suatu negasi semu, tetapi pada hakekatnya adalah suatu penguatan dan pembelaan apologetik mengenai religi dan teologi sebagai suatu ungkapan keterasingan [alienasi = alienation]*) dan ketidak-bebasan manusia.4)

Marx menangkap suatu arti lebih dalam pada negasi dari negasi Hegel: suatu konsepsi baru, yang merevolusionerkan filsafat, mengenai keberadaan sebagai suatu kemenjadian dan sebagai sejarah; Hegel cuma menemukan ungkapan abstrak, logikal, spekulatif dari gerak sejarah. Gerak sejarah ini belumlah sejarah real dari manusia sebagai suatu subjek tertentu, ia cuma proses dari penciptaannya, sejarah dari permunculannya5)

Hegel memahami gerak sejarah ini secara tidak kritikal, secara abstrak, sedangkan–menurut pendapat Marx pada tahun 1844–teori komunistik, yang berawal dari kritik Feuerbachian mengenai keterasingan(alienasi) religius, telah mengambil suatu sikap kritikal; ia berkonsentrasi pada keterasingan(alienasi) ekonomik dalam kerja upahan dan hak milik perseorangan dan memahami komunisme sebagai ditemukannya kembali dan penguasaan esensi manusia yang terasing/terampas. Komunisme adalah tindak penempatan (positing) sebagai negasi dari negasi, dan karenanya merupakan suatu tahap real, yang perlu bagi periode berikutnya dari perkembangan historikal, di dalam emansipasi dan penemuan kembali umat manusia.6) Bagi manusia komunis, sejarah dunia sebelumnya tidak lain daripada penciptaan manusia lewat kerja manusia,7) suatu bukti bahwa manusia telah menciptakan dirinya sendiri. Dalam manuskrip-manuskrip Paris Marx melihat komunisme sebagai penggantian positif dari hak milik pribadi sebagai pengasingan-diri manusia, dan karenanya merupakan penguasaan esensi manusia yang sebenarnya melalui dan bagi manusia…… Ia adalah pemecahan atas teka-teki sejarah dan mengetahui dirinya sendiri sebagai pemecahan itu.8)

Dari sudut pendirian itulah Marx menilai Phenomenology of Mind Hegel telah (i) memahami manusia sebenarnya sebagai hasil dari kerjanya sendiri, dan (ii) memahami penciptaan-diri-sendiri manusia sebagai suatu proses pengasingan(alienasi) dan pengabstrakkan(transcendensi) alienasi itu.9)

1. Kerja difahami di sini dalam suatu pengertian lengkap sebagai kegiatan manusia yang tidak saja memproduksi barang- barang, tetapi seluruh lingkungan. Analisis Marxian sebelumnya di dalam Economic and Philosophical Manuscripts merujuk pada kenyataan bahwa ekonomi politik burjuis sejak Adam Smith tidak menganggap benda-benda mati tetapi kerja itu sendiri sebagai sumber kekayaan. Kerja adalah hakekat subjektif dari kekayaan. Dalam ekonomi politik klasik, kata Marx, kerja karenanya telah ditingkatkan dalam bentuk mutlaknya–yaitu bentuk abstraknya–menjadi prinsip.10) Tanah sebagai modal juga merupakan suatu aspek dari kerja.11) Kerja sebagai produksi adalah realisasi dan aktualisasi dari manusia. Agama, keluarga, negara, hukum, moral, ilmu, kesenian, dsb., hanyalah bentuk- bentuk khusus dari produksi.12) Secara analog, benda-benda, lembaga-lembaga historikal, konsep-konsep dan sebagainya difahami sebagai produk-produk dan aspek- aspek dari produksi oleh Hegel pada suatu tingkat filosofik yang lebih umum.13) Dalam hal itu Hegel mengambil pendirian ekonomi politik modern juga.14) Jika kita menggantikan kesadaran-diri Hegel dengan manusia, kita dapat mengatakan bahwa Hegel memahami kerja, tindak memproduksi itu, sebagai esensi manusia.15)

Jelasnya, tanggapan Marx adalah: Satu-satunya kerja yang dikenal dan diakui Hegel adalah kerja mental abstrak16) Tetapi jelaslah bukan karena Hegel gagal mengenali kegiatan-kegiatan bekerja yang lain kecuali yang intelektual. Tidak saja dari manuskrip-manuskrip Jena, yang tidak dikenal oleh Marx, tetapi juga, misalnya, dari bab ke empat Phenomenology, yang sebaliknya adalah jelas. Bahkan semua produksi, semua kerja objektif adalah–dalam pandangan Hegel–akhirnya dan secara ekslusif merupakan suatu kerja dari pikiran, yaitu, suatu produksi dan swa-produksi dari pikiran. Lewat kerja manusia, sesuatu yang lain, yang lebih penting, yang lebih dalam daripada kerja manusia dan kehidupan manusia dimanifestasikan.17)

2. Pada tahun 1844 Marx mengakui adanya titik tolak bagi suatu pandangan kritikal mengenai sejarah dalam teori estetika Feuerbach, yang menyatakan bahwa perkembangan umat manusia berlandaskan pada swa-generasinya sendiri dan menuju dari kesatuan originalnya dengan alam melalui suatu keharusan18) objektivisasi dan alienasi dari kekuatan-kekuatan esensial manusia pada pengatasan alienasi itu melalui penguasaan atas kekuatan-kekuatan esensial manusia itu. Adalah jelas bahwa pandangan Feuerbach–sekalipun sikap polemikalnya terhadap Hegel–tidaklah dapat dibayangkan tanpa idealisme Jerman dan bahwa ia secara khusus berada di bawah pengaruh Phenomenology. Sejauh Marx–terpengaruh oleh teori-teori komunis sezaman dari Engels dan Hess–menggunakan teori ateistik Feuerbach mengenai alienasi dan penemuan kembali bangsa (species) manusia berada dalam suatu kritik mengenai ekonomi politik burjuis, suatu pengertian yang dikatakan kritikal mengenai sejarah sebelumnya sebagai swa-generasi manusia muncul secara yang berikut ini pada tahun 1844:

Manusia tidak dapat menjadi manusia dalam arti seutuhnya dengan suatu keputusan sekali-jadi, melalui pendidikan individual atau semacam itu, melainkan hanya melalui suatu perkembangan historikal yang di dalamnya ia mengerahkan–bersama orang-orang lain–seluruh kekuatan species-nya dalam kegiatan kolektif dan memperlakukan mereka sebagai objek-objek.19) Ide bahwa manusia hanya melampaui objektivikasi mencapai kesadaran-diri manusia sejati adalah salah satu dari ide-ide sentral dari filsafat klasik Jerman dan dipakai dalam bentuk yang diubah oleh Feuerbach dan oleh Marx dalam teori komunisnya pada tahun 1844. Menurut Marx:

….objektivikasi hakekat manusia, secara teoretikal maupun secara praktikal, diperlukan untuk membuat akal budi manusia menjadi manusiawi maupun untuk menciptakan suatu akal budi manusia yang patut bagi keseluruhan kekayaan kemanusiaan dan alam.20)

Menurut teori komunis Marx tahun 1844, objektivikasi mau tak mau telah terjadi dalam alienasi kondisi-kondisi kerja, dengan demikian dari hak milik perseorangan–yaitu, hakekat manusia telah diobjektivikasi secara tidak manusiawi.21)

Kenyataan ini hanya berarti bahwa objek yang dihasilkan oleh kerja, produknya, berdiri berlawanan dengannya sebagai sesuatu yang asing, sebagai suatu kekuatan yang lepas dari yang memproduksinya. Produk kerja adalah perwujudan kerja dan dijadikan material dalam suatu objek, ia adalah objektivikasi dari kerja. Realisasi kerja adalah objektivikasinya. Di dalam suasana ekonomi politik [yaitu, dalam kondisi-kondisi yang dilukiskan dalam ekonomi politik klasik – J.Z.] realisasi kerja ini muncul sebagai suatu kehilangan realitas bagi pekerja, objektivikasi sebagai kehilangan atas dan perbudakan pada objek, dan penguasaan sebagai pemisahan, sebagai alienasi.22)

Marx menekankan bahwa dalam Phenomenology Hegel, swa-generasi manusia difahami sebagai suatu proses, objektivikasi sebagai menjadi yang sebaliknya, sebagai eksternalisasi,23) dan sebagai pengabstrakkan eksternalisasi itu. Marx memuji Phenomenology dalam hal-hal karya itu bersesuaian dengan azas-azas teori komunis, khususnya dalam hal-hal di mana teori komunis pada tahun 1844 masih berada dalam konsepsi-konsepsi fundamental tertentu dari Phenomenology Hegelian.

Dalam kritik Marxian atas Hegel di dalam Economic and Philosophical Manuscripts kita dihadapkan pada suatu perangkaian berbagai motif intelektual. Tanpa penjelasan Hegelian mengenai sejarah sebagai alienasi dan pengabstrakkan alienasi itu, kritik Feuerbach mengenai religi dan teorinya tentang sesuatu yang disebut manusia sejati tidaklah mungkin ada. Tanpa antropologi Feuerbach, komunisme Engels, Hess dan Marx dari tahun 1844, juga tidaklah mungkin ada. Tetapi hanya komunisme Marx tahun 1844 yang mampu melakukan suatu kritik yang tuntas atas Hegel, sedangkan teori Feuerbach mengenai alienasi religius tidak mampu melakukan itu. Hanya pada Marx tahun 1844 Phenomenology Hegel tampil sebagai teori komunisme yang dimistifikasi.

Pada mulanya Marx bermaksud, dengan mengajukan suatu kritik atas Hegel yang lebih tajam daripada Feuerbach, menegaskan dan membuktikan penemuan-penemuan filosofikalnya.24) Economic and Philosophical Manuscripts secara sebagian telah menyajikan suatu terobosan seperti itu.

Bagi Marx di tahun 1844, negasi dari negasi Hegelian adalah suatu ungkapan abstrak, spekulatif, logikal bagi gerak sejarah. Feuerbach tidak melihat segi ini dari negasi dari negasi Hegelian, sekalipun ia menangkap gerak sejarah, yang darinya Hegel telah mengabstraksikan suatu isi yang spekulatif, yang logikal. Hingga batas-batas tertentu ia sepakat dengan Hegel; bagi Hegel, sebagaimana juga bagi Feuerbach, sejarah sebelumnya adalah suatu gerakan dari suatu kesatuan original (kesatuan langsung dari manusia dan alam) kepada perpisahan dan pengasingan, dan kemudian melalui pengatasan (transcendance) pengasingan kepada suatu kesatuan lebih tinggi yang berlandaskan pada kembalinya manusia pada dirinya sendiri (dengan Hegel: kembalinya kesadaran diri pada dirinya sendiri.)

Struktur gerakan ini, yang tidak dikenal dalam ilmu alam kontemporer dan dalam ontologi dan logika yang berkaitan dengannya, telah diabstraksi oleh Hegel dari sejarah real;25) Hegel meletakkannya pada sejarah temporal dan ketentuan-ketentuan logikal yang abadi dan menjelaskannya dengan pengertian mengenai gaya keberadaan mutlak, gaya keberadaan dari kemutlakan. Dengan cara itu, menurut Marx, Hegel mencapai determinasi-determinasi logikal seperti a.l. keumuman konkret, kontradiksi, swa-diferensiasi, identitas konkret, Cara mistikal ini mengungkapkan suatu konsepsi metafilosofikal revolusioner yang berlawanan dengan ontologi tradisional Eropa, yang menyatakan bahwa tidak ada yang disebut proses historikal itu; bagi Hegel yang historikal itu sendiri adalah tingkat fundamental dari keberadaan. Demikianlah, kita telah sampai, berkat Marx, pada suatu sumber mistifikasi Hegelian: sejarah dan struktur dari gerak yang layak bagi sejarah dikonseptualisasikan oleh Hegel, dan struktur yang dikonseptualisasi ini diakui sebagai suatu realitas supra-temporal, yang lebih tinggi, yang primer. Sejarah aktual yang berlangsung dalam waktu lalu difahami sebagai perwujudan struktur yang dikonseptualisasi secara supra-temporal dari yang historikal.

Karena Feuerbach tidak melihat hubungan-hubungan ini, filsafat Hegel bagi Feuerbach hanyalah teologi yang dirasionalisasi, dan filsafat spekulatif Hegel sebagai suatu teori sejarah yang dimistikkan sepenuhnya masih tetap berada di luar jangkauan penilaian (dan apresiasi) kritikalnya, yaitu, sebagai suatu percobaan untuk merevolusionerkan ontologi tradisional. Berlawanan dengan itu, Marx memperhatikan negasi dari negasi Hegel, yang dengannya Hegel berusaha menangkap yang benar dan satu-satunya yang positif, yaitu sejarah, dengan cara yang baru.26) Ini mempengaruhi segala keberadaan, dan adalah suatu usaha untuk secara rasional menyatakan tindak swa-penggerak dari semua keberadaan.27) Menurut Marx hasil akhir dari Phenomenology adalah dialektika negativitas sebagai suatu azas yang bergerak dan melahirkan28), yaitu usaha untuk memahami sejarah.

Hegel hanya mencapai suatu ungkapan abstrak, spekulatif, logikal bagi gerak sejarah sebelumnya, yaitu Hegel tidak mencapai suatu pengertian kritikal mengenai gerak historikal, karena berkenaan dengan esensi pengasingan dan penggantinya, Hegel membuat suatu kesalahan serius dari sudut pandangan komunisme Marxian tahun 1844. Ini terjadi karena Hegel hanya memperhatikan alienasi dari pikiran murni, yaitu pikiran filosofikal abstrak.29) Berbagai bentuk terjadinya pengasingan hanyalah bentuk-bentuk yang berbeda-beda dari kesadaran dan kesadaran-diri.

Bukanlah karena hakekat manusia mengobjektifkan dirinya sendiri secara tidak-manusiawi, secara bertentangan dengan dirinya sendiri, melainkan karena ia mengobjektifkan dirinya sendiri secara berbeda dari dan secara bertentangan dengan pikiran abstrak yang merupakan hakekat dari alienasi sebagaimana adanya dan sebagaimana ia harus digantikan.30)

Sejarah alienasi dan penggantiannya di dalam Phenomenology hanyalah sejarah dari pengetahuan mutlak, sejarah pikiran spekulatif logikal. Dalam suatu penilaian kritikal, penguasaan atas dunia objektif oleh manusia menyiratkan bahwa religi, kekayaan dsb. hanyalah merupakan realitas yang dialienasi dari objektivikasi manusia, dari kekuatan-kekuatan yang benar-benar manusiawi yang dilahirkan dalam kerja, dan karenanya hanyalah jalan menuju pada realitas manusia yang sebenarnya…31) Dalam konsepsi Hegel–yang menurutnya hakekat sebenarnya dari manusia adalah roh dan karenanya bentuk sebenarnya dari roh itu adalah roh yang berpikir, gerak konseptual spekulatif– penguasaan dunia objektif oleh manusia muncul dalam religi, kekayaan, kekuasan politik dan sebagainya, adalah, seperti objektivitas dalam kebenarannya, dikuatkan sebagai

aspek-aspek dari roh, hakekat spiritual.

Penggantian alienasi difahami sebagai transcendensi objektivitas, teristimewa sebagai ekstraksi pikiran filosofikal dari sifat subjektif (spiritual) segala jenis objektivitas.

POSISI HEGEL YANG TAMPAKNYA KRITIKAL

Sekalipun konsepsi Hegel mengenai hakekat alienasi dan penggantian alienasi itu di dalam Phenomenology jelas-jelas spekulatif dan idealis, ia memberikan–menurut manuskrip-manuskrip Paris Marx–titik-tolak teoretikal bagi kritik hubungan-hubungan sosial dan konsep-konsep yang ada:

…..sejauh ia [dalam Phenomenology] memahami keterasingan manusia –sekalipun manusia hanya muncul dalam bentuk pikiran– semua unsur kritik ada terkandung di dalamnya, dan seringkali dipersiapkan dan disusun dengan suatu cara yang jauh melampaui titik pandangan Hegel sendiri.32)

Sejauh ini di dalam Phenomenology perampasan kekuatan-kekuatan dasar manusia dan penggantian objektivitas asing yang memusuhi manusia akhirnya dan secara tuntas dimerosotkan menjadi gerakan konseptual, dengan demikian dimerosotkan menjadi suatu aktivitas yang membuyarkan alienasi sentuh sedikitpun. Dengan cara ini maka kekuatan kritikal dari Phenomenology menjadi sangat berkurang.

Menurut Marx di dalam Phenomenology Hegel terdapat suatu posisi kritikal yang menyembunyikan suatu hal lainnya lagi:

….positivisme tidak kritikal dan idealisme yang juga tidak kritikal dalam karya-karya belakangan dari Hegel, pembubaran filosofikal dan pemulihan dunia empirikal, sudah dapat ditemukan dalam bentuk latent, dalam embrio, sebagai suatu potensialitas dan suatu rahasia.33)

Di sini kita dapati suatu kritik dalam bentuk teralienasi, karena negasi terus-menerus dari konsepsi-konsepsi dan hubungan-hubungan yang ada, sebagaimana yang kita jumpai dalam Phenomenology, bagi Hegel bukanlah kegiatan historikal manusia sebagai satu-satunya subjek dari proses historikal, melainkan suatu proses teleologikal dari ide yang direalisasi melalui perantaraan generasi demi generasi manusia. Di dalam Phenomenology Marx menemukan unsur-unsur dari suatu kritik yang dipersiapkan dengan suatu cara yang membayangkan perkembangan dan proyek-proyek yang melampaui titik pandangan Hegel;34) yaitu unsur-unsur suatu kritik atas hubungan-hubungan ekonomik dan politik serta kebudayaan pra-burjuis dan burjuis dari posisi teori komunis tahun 1844.

Dibandingkan dengan Feuerbach, Marx memahami secara lebih mendalam dan dengan diskriminasi lebih besar, teka-teki filosofikal dari posisi Hegel yang tampaknya kritikal. Feuerbach sepintas-lintas melihat hakekat itu dalam hubungan Hegel dengan religi: religi tradisional dibuang namun kemudian diperkenalkan kembali dalam bentuk teologi yang dirasionalisasi. Hal ini harus difahami secara umum, dan Marx menduga35)–dan melukiskannya dalam analisisnya atas bab terakhir Phenomenology–modifikasi-modifikasi yang khas Hegelian sebagai suatu apologi tidak langsung bagi realitas yang ada.

Kesadaran-diri sebagai suatu keberadaan lain masih berada di dalam dirinya sendiri…. demikian Hegel berujar. Ketika Marx menggantikan kesadaran-diri itu dengan manusia, diperolehnya dalam arti tersembunyi tesis Hegelian, tesis umum bahwa kemanusiaan berada dalam keterasingan dengan dirinya sendiri, atau hubungan-hubungan ekonomik, politikal dan kebudayaan dikarakterisasi oleh keterasingan adalah mutlak bagi kehidupan manusia dan karenanya merupakan hubungan-hubungan abadi, yang tidak dapat berubah. Yaitu, yang dalam bahasa kurang filosofikal, menjadi keyakinan para ekonom-ekonom politikal burjuis klasik. Dalam hal ini Hegel mengambil pendirian ekonomi-politik modern.36) Manusia yang telah menyadari bahwa di dalam hukum, politik,dsb.dirinya menjalani suatu kehidupan terasing, menjalani kehidupan manusia yang sebenarnya dalam kehidupan keterasingan seperti itu.37) Eksternalisasi dapat dipertahankan jika itu diakui dan diketahui sebagaimana adanya. Ia diatasi dan sekaligus dipertahankan. Dialektika Hegel adalah bagian dari suatu pendirian yang menurutnya keterasingan itu dihapuskan dan diangkat dalam arti rangkap, yaitu digantikan (dalam pikiran) dan diberi pembenaran (dalam kenyataan). Akar-akar filosofikal suatu posisi yang tampaknya kritikal, yang berubah menjadi suatu positivisme apologetik diketemukan, menurut Marx, dalam khayalan-khayalan spekulasi dialektikal, pemahaman idealis akan negativitas.

Bab terakhir Phenomenology yang berjudul Pengetahuan Mutlak memikat perhatian Marx dalam manuskrip-manuskrip Paris sedemikian rupa, sehingga Marx membuat ringkasan-ringkasan ekstensif dan mengabdikan suatu komentar kritikal yang terperinci mengenainya. Dalam pandangan Marx, bab ini secara terpadu mengandung jiwa Phenomenology, hubungannya dengan dialektikas spekulatif, dan sekaligus pengetahuan Hegel mengenai kedua hal itu dan saling hubungan kedua hal itu satu sama lainnya.38) Semua itu dilihat oleh Marx sebagai dasar paling cocok untuk memperagakan keberat-sebelahan Hegel dan keterbatasan-keterbatasannya.39)

Patut diperhatikan bahwa Marx tidak saja menyebarkan suatu kritik atas Phenomenology dalam manuskrip-manuskrip ekonomik, sebagaimana sering dituduhkan orang. Marx menyajikan suatu kritik mengenai perlakuan atas dialektik dalam Phenomenology dan Logic,40) dan lebih dari itu: ia mempersoalkan seluruh filsafat Hegel.41) Ia memulai dengan suatu kritik atas Phenomenology, tempat kelahiran sesungguhnya dan rahasianya filsafat Hegelian,42) yaitu rahasia sistem filosofikal Hegel; dari sini Marx beralih pada suatu kritik atas Encyclopedia, sekalipun ia tidak mengembangkan kritiknya atas logika, filsafat alam dan filsafat spekulatif Hegelian setajam dan semendalam seperti kritiknya atas Phenomenology.

OBJEKTIVITAS DAN OBJEKTIVIKASI

Di dalam komentar kritikalnya mengenai bab terakhir Phenomenology, Marx meneliti tesis Hegelian yang menyatakan bahwa alienasi kesadaran-diri mengandung objektivitas.43) Dengan cara itu ia merumuskan konsepsinya tentang objektivitas dan manusia sebagai manusia objektif.

Pada mulanya ia mengambil pokok-pokok esensial dari kritik Feuerbachian atas konsepsi spekulatif Hegel mengenai objektivitas. Pada tahun 1839, di dalam karyanya The Critique of Hegelian Philosophy Feuerbach mengemukakan bahwa Hegel tidak mengenal objektivitas real di luar pikiran dan mengandaikan–bab pertama Phenomenology merupakan buktinya–suatu konsepsi idealis Fichtian mengenai objekt-objekt pengalaman. Bagi Feuerbach realitas segala sesuatu di luar pikiran adalah suatu kebenaran yang diterakan dengan darah kita.44)

Menurut Feuerbach dan Marx, semua objekt adalah aktif sebagai objekt-objekt, adalah hakekat alamiah yang beraksi secara objektif, dan sekali gus merupakan hakekat pasif, karena mereka terbuka pada pengaruh-pengaruh objektif dari objekt-objekt alamiah lainnya.

Marx menulis, sesuai dengan Feuerbach:45)

Matahari adalah suatu objekt bagi tanaman, suatu objekt yang tidak bisa tiada guna menguatkan kehidupannya, presis seperti tanaman adalah suatu objekt bagi matahari, suatu ungkapan dari kekuatan pembangkut-kehidupannya dan kekuatan esensialnya yang objektif…… Suatu keberadaan non-objektif adalah suatu non-keberadaan.46)

Bagi Marx, manusia adalah secara langsung suatu keberadaan alamiah.47) Itu sendiri tidaklah cukup bagi konsep mengenai manusia, tetapi bagaimanapun itu adalah suatu aspek penting dari kebenaran mengenai manusia. Manusia darah-daging yang sebenarnya adalah suatu hakekat objektif yang hanya mencipta dan mengajukan objekt-objekt, karena ia dibuktikan oleh objekt-objekt, karena itu secara fundamental adalah alamiah.48)

Bagi Feuerbach objektivikasi yang terasing, yang religius, yang manusiawi merupakan suatu permasalahan yang bersifat utama. Ketika ia berbicara tentang berbagai tipe hubungan objektif, misalnya, saling-hubungan saling-hubungan segala sesuatu alamiah yang non-manusia, hubungan-hubungan serba-intelektual, manusiawi dengan objekt-objekt, ia menekankan pada analogi-analogi, benang-benang yang umum bagi berbagai tipe hubungan objektif.49) Ia mempersamakan ciri-ciri mereka satu sama lainnya, menerapkan pada objektivikasi manusia (dalam penyurutannya pada objektivikasi alienasi, pada objektivikasi religius) yang menurut pendapatnya adalah benar dalam objektivikasi pada alam non-manusia, dan sebaliknya bagi berbagai tipe hubungan jektif itu berlakulah aspek-aspek tertentu yang baginya merupakan hakekat dari objektivikasi religius.

Feuerbach melewati suatu pemahaman kontemplatif mengenai objektivitas, yang secara intelektual terbatas, dengan menjulukkan arti yang amat penting pada hubungan-hubungan emosional individu-individu manusia pada objekt-objekt dan pada yang satu sama yang lainnya, dan lebih jauh lagi dengan memperkenalkan unsur-unsur dari suatu hubungan praktikal ke dalam penelitian hubungan-hubungan manusia dengan objekt-objekt.50) Namun dalam analisis sesungguhnya ia menarik unsur-unsur suatu hubungan praktikal dan meneliti hubungan-hubungan objektif manusia dalam bentuk kontemplatif intelektualnya.

Feuerbach akhirnya melihat sekilas sumber dari pemahaman Hegelian mengenai objektivitas di dalam peranan51)–yang sepintas lintas amat penting artinya secara historikal–filsafat spekulatif sebagai negasi dari teologi di dalam batas-batas teologi, di dalam usaha merasionalisasi dan dengan begitu memanusiawikan teologi di dalam batas-batas alienasi religius. Sejauh ia menarik konsepsi-konsepsi paling penting mengenai filsafat spekulatif dari sejarah, sejarah disurutkan baginya menjadi suatu sejarah religi, pada suatu sejarah mengenai objektivikasi alienasi dari manusia dalam religi dan penggantian religi oleh generasi bangsa (species) manusia. Ia tidak mengakui objektivikasi alienasi lain yang manapun kecuali yang religius dan modifikasi-modifikasinya–yang sebagian kritikal, namun pada hakekatnya bersifat apologetik–: swa-objektivikasi dari aku (kesadaran diri, pikiran) dalam filasafat spekulatif. Bagaimanapun juga, manusia real Feuerbach adalah suatu hakekat–karena bersifat

sensual–yang objektif; namun ia bukan suatu keberadaan yang mengobjektivikasi dirinya melalui kerja masyarakat, seperti halnya dengan manusia real bagi Marx. Persoalan apakah objektivikasi ekonomik dan politikal dalam sejarah mengakibatkan atau tidak mengakibatkan alienasi, yaitu, dalam keadaan-keadaan yang bagaimana dunia ekonomik dan politik52) yang diciptakan oleh manusia memiliki atau tidak memiliki sifat/watak dari suatu objektivitas alienasi, tidaklah teramat penting bagi Feuerbach.

Bagi Marx filsafat spekulatif adalah suatu teori yang berdasarkan alienasi–tidak hanya religius, melainkan juga dan di atas segala-galanya bersifat sosial dan ekonomik, suatu ungkapan dan aspek dari objektivikasi manusia dan penciptaan sejarah di bawah persyaratan-persyaratan kerja yang dialienasi. Hanya dari sudut pandangan Marxian inilah kritik konsepsi Hegelian mengenai objektivitas memperoleh dimensi-dimensi baru ini: (a) Konsepsi Hegelian mengenai kebendaan (thingness) dijelaskan sebagai suatu ungkapan yang dimistikkan bagi produksi objektivitas real oleh kegiatan ekonomik dan politikal manusia; dan (b) suatu sorotan kejelasan diarahkan atas identifikasi Hegelian mengenai aksi objektif dengan aksi, aktivitas, pengedepanan, subjekt yang telah dipikirkan, aktivitas yang semurni-murninya pada dirinya sendiri, pengedepanan itu sendiri, teristimewa pengedepanan yang pengandungnya adalah pikiran yang memberi bobot–yaitu ide.

Dalam kritiknya atas filsafat spekulatif Hegelian Feuerbach telah mencapai pengertian-pengertian fundamental tertentu. Tetapi kritiknya atas Phenomenology Hegel secara keseluruhan tetaplah sama sekali tidak dapat dimengerti dan membingungkan. Segala sesuatu yang mau dikatakan Feuerbach telah dikatakannya dalam komentarnya atas bab

pertama Phenomenology mengenai kepastian pengertian.

Marx menilai dan mengeritik Phenomenology Hegel tidak hanya berkenaan dengan penggantian alienasi religius, melainkan juga mengenai penggantian alienasi ekonomik. Hanya dari titik pandangan itulah dialektika Hegel mengungkapkan arti tersembunyinya, yang tetap tidak terungkapkan oleh Feuerbach, dan orang dapat mengenali saat-saat positif dialektika Hegelian53) tidak saja sebagai persiapan bagi penggantian Feuerbachian bagi religi, melainkan juga bagi teori komunis Marxian tahun 1844.

Yang dijulukkan Feuerbach pada manusia secara berlawanan dengan hewan adalah suatu objektivikasi alienasi dalam religi dan penggantiannya –didapatkannya suatu kesadaran species ateistik dan dengan itu suatu kehidupan species. Lain halnya dengan Marx: manusia memiliki kapasitas bagi suatu objektivikasi ekonomik dan politikal yang produktif, terasing dalam keadaan-keadaan tertentu, dengan demikian memproduksi dunia objektif yang kepadanya manusia adalah pelaku. Alienasi religius adalah suatu aspek derivatif dari objektivikasi dan alienasi praktikal dan dasar itu. Manusia menghasilkan dengan suatu cara yang berbeda dari hewan.54)

Karenanya Marx berangkat dari pemahaman Feuerbach mengenai hakekat alamiah manusia, tetapi melangkah lebih jauh di dalam manuskrip-manuskrip Paris itu dalam hal-hal esensial tertentu, yang akhirnya membawanya–dengan penjelasan lebih lanjut dalam Thesis on Feuerbach dan dalam The German Ideology–pada suatu konfrontasi kritikal dengan Feuerbach.

LOGIKA DAN ENCYCLOPEDIA

Kritik Marx atas Phenomenology di dalam manuskrip-manuskrip Paris merupakan titik berangkat bagi suatu penafsiran kritikal atas Logic dan Encyclopedia. Di dalam Logic dan Encyclopedia, menurut Marx, swa-generasi manusia diungkapkan pada suatu tingkat abstraksi dan perumusan yang lebih tinggi daripada di dalam Phenomenology.

Bagi Marx analisis kritikal atas negasi dari negasi Hegelian merupakan kunci bagi suatu pemahaman kritikal mengenai keseluruhan filsafat Hegelian. Dalam analisis kritikal ini interpretasi Marxian atas konsepsi dasar Hegel diperluas hingga meliputi berbagai aspek dan sumber.

(a) Pada awalnya Marx percaya bahwa negasi dari negasi Hegelian mengungkapkan arti tersembunyinya jika ia difahami sebagai pengungkapan spekulatif, logikal, abstrak bagi gerak sejarah dari alienasi kerja hingga penggantian alienasi itu (yaitu, pada komunisme seperti dalam teori komunistik Marxian-Feuerbachian tahun 1844).

(b) Dengan persangkaan bahwa Phenomenology terutama ditafsirkan

sebagai suatu teori dari kelahiran (penggenerasian) manusia komunis lewat kerjanya sendiri–melalui penggantian alienasi kerja sebagai penguasaan kesadaran species (bangsa) komunis dan keberadaan species (bangsa)–ia tampak pada Marx sebagai kesalahan Hegel55) bahwa alienasi dan penggantian alienasi dalam Phenomenology disurutkan esensi-esensinya pada eksternalisasi alienasi pikiran dan penggantiannya, demikian dengan Hegel alienasi diabstrakkan, ketika semua objektivitas di luar pikiran difahami sebagai suatu aspek dari aktivitas swa- generatif dari jiwa (spirit).

Keterasingan, yang dengan demikian merupakan kepentingan nyata dari alienasi ini dan penggantiannya, merupakan perlawanan dari dalam dirinyanya sendiri dan bagi dirinya sendiri, dari kesadaran dan kesadaran-diri, dari objekt dan subjekt……56)

Di sini Marx menghadapkan suatu sumber primer kedua dari negasi dari negasi Hegelian, yaitu kesatuan appersepsi (persepsi pikiran akan dirinya sendiri) sintetik Kant yang dikonseptualisasikan oleh Hegel dalam negasi dari negasi (kesamaan [identity] penuh subjekt dan objekt di dalam kesamaan penuh [identity] dari yang saling bertentangan) sebagai azas spekulasi.

(c) Dalam hubungan ini Marx mungkin kembali pada awal analisis kritikalnya atas dialektika Hegelian dalam manuskrip-manuskrip Paris, dan membenarkan dan menyimpulkan komentar-komentarnya atas Feuerbach. Pada pinggiran manuskrip itu ia menambahkan: Feuerbach masih memahami negasi dari negasi, konsep kongkret sebagai pikiran yang melampaui dirinya sendiri dalam pikiran dan sebagai pikiran yang mau menjadi persepsi langsung, sifat, realitas.57) Dalam bagian-bagian akhir teks manuskrip itu58) Marx bekerja dengan konsepsi negasi dari negasi Hegelian ini, dan menyatukannya dengan interpretasi awalnya sendiri mengenai negasi dari negasi sebagai ungkapan spekulatif, logikal, abstrak bagi gerak sejarah.

Pemahaman abstrak, hipostatik mengenai tindak swa-generasi atau swa-pengobjektivikasian manusia59) yang disusutkan menjadi gerakan dalam pikiran, sebagaimana yang didapati Marx di dalam Phenomenology adalah–menurut Marx– diabstrakkan dan dirumuskan lebih jauh di dalam Logic dan Encyclopedia; bentuk alnieasinya dikembangkan lebih jauh. Dalam arti khusus yang bagaimanakah konsepsi Hegelian dalam Logic dan Encyclopedia suatu konsepsi yang abstrak, formal, terasing menurut Marx?

Dalam manuskrip-manuskrip Paris suatu konsepsi abstrak adalah setiap konsepsi yang terpisah dari manusia aktual dan perkembangan historikalnya dan yang dijadikan bebas dari manusia aktual, dengan manusia real dan perkembangan historikal dari manusia sesuai pengertian komunisme Marxian, komunisme Feuerbachian tahun 1844.

Dari titik pandang itu Marx mendapatkan dalam filsafat Hegel suatu abstraksi bertingkat-banyak.

(a) Kesadaran-diri gantinya manusia real60)–ini tingkat pertama dari abstraksi. Dalam arti, kata Marx, bahwa perkembangan historikal dari manusia aktual disajikan secara abstrak oleh Hegel sebagai perkembangan dari kesadaran dan kesadaran-diri. Negasi dari negasi sebagai perkembangan manusia aktual (sesuai teori komunisme Marxian tahun 1844) difahami secara abstrak oleh Hegel sebagai swa-generasi historikal dari kesadaran-diri sejati (pengetahuan mutlak).

(b) Tingkat abstraksi lebih tinggi: penetapan negativitas sebagai suatu aktivitas yang berdiri sendiri, yang isinya adalah kategori-kategori yang secara khusus logikal. Kesatuan prosedural dan identitas isi dan bentuk ini adalah konsep Hegelian itu, bentuk kehidupan roh yang mutlak. Karenanya ide adalah suatu konsep yang merealisasi diri sendiri:

Aktivitas konkret, indrawi, vital, tiada hentinya dari swa-objektivikasi [yaitu, kelahiran [penggenerasian] manusia melalui kerjanya sendiri – J.Z.] karenanya disurutkan menjadi sekedar abstraksinya, negativitas mutlak, suatu abstraksi yang kemudian diberui bentuk permanen dan diterima suatu aktivitas yang berdiri sendiri, sebagai aktivitas itu sendiri. Karena yang dinamakan negativitas ini tidak lebih daripada bentuk kosong, bentuk abstrak dari tindak kehidupan real itu, maka isinya hanya mungkin suatu isi formal belaka, yang diciptakan oleh abstraksi atas semua isi; bentuk-bentuk fikiran dan kategori-kategori logikal yang direnggut dari pikiran real dan alam real.61)

Secara skematikal maka abstraksi Hegel yang bertingkat-banyak ini dapat dinyatakan sebagai berikut: sejarah praktikal manusia aktual difahami secara abstrak sebagai gerak dari kesadaran-diri, gerak kesadaran diri sebagai gerak pikiran, gerak pikiran sebagai gerak kategori-kategori logikal, yang bentuk gerak dan bentuk keberadaan mutlaknya adalah negativitas.

Atau diungkapkan dalam istilah teori yang teralienasi: Logic dan Encyclopedia merupakan abstraksi yang teralienasi lebih lanjut (yaitu, suatu pemisahan dari manusia real dan perkembangan historikalnya) dari teori yang teralienasi yang disajkikan dalam Phenomenology mengenai swa-penggenerasian manusia secara historikal, yang oleh filsafat Hegelian secara keseluruhan diubah menjadi suatu versi dari kelahiran manusia dan dunia secara teologikal.

Yang cuma mempunyai arti sebagai suatu aspek dari kehidupan manusia di dalam alam, yang adalah suatu produkt dari manusia aktual, dipisahkan dari manusia dalam konsepsi-konsepsi yang dialienasi dan dijadikan otonomn; lalu manusia difahami sebagai bergantung pada produktnya.

Dalam arti itu filsafat Hegelian–bagi Marx–merupakan ungkapan filosofik-spekulatif mengenai pengasingan (alienasi) umum dari hakekat manusia62) dan juga–sebagai suatu aspek dari pengasingan (alienasi) kehidupan di dalam praktek–pengasingan (alienasi) pikiran manusia. Sejauh yang mengenai pemahaman kategori-kategori logikal, kenyataan yang dialienasi yang dinyatakan dengan menjulukkan pada kategori-katgegori logikal suatu kebebasan tertentu terhadap alam dan sejarah manusia; bahwa semua itu dipancangkan dalam arti itu, namun dalam arti lain bertentangan dengan pemahaman Kantian mengenai kategori-kategori, misalnya, mereka dilucuti dari sifat tetapnya dan disajikan sebagai bergerak, sehingga karenanya mereka saling berinteraksi satu sama lain dan berlawanan dengan sejarah manusia yang difahami seecara idealistik.

Hubungan-hubungan mereka disajikan sebagai suatu gerak yang merupakan keharusan swa-gerak (self-movement), swa-membeda (self-differentiation) yang struktur fundamentalnya, yang bentuk gerak mutlaknya, adalah negasi dari negasi itu, adalah negasi mutlak itu. Bentuk yang dengannya Hegel membebaskan kategori-kategori logikal dari keterpancangan dan mengangkatnya menjadi totalitas–menurut Marx–bukanlah bentuk yang sewenang-wenang, bukan hasil dari suatu imajinasi teoretikal yang kebetulan, melainkan berlandaskan atas struktur dari sejarah manusia terdahulu, sejarah perkembangan kesadaran manusia, dan perkembangan filsafat khususnya. Peranan istimewa dari kesadaran-diri dan filsafat berarti bahwa bagi Hegel, perkembangan sebelumnya dari umat manusia adalah sautu alat bagi swa-realisasi dari pelaku(subjekt) mutlak, yaitu ide dari manusia-dewa.

Negasi dari negasi, negativitas, penggantian, mencapai–menurut Marx–suatu jenjang rangkap dari abstraksi di dalam filsafat Hegelian: di satu pihak sebagai sejenis kehidupan fenomenal dari kehidupan–sebagai negasi dari negasi dalam waktu; di lain pihak–pada suatu jenjang abstraksi yang lebih tinggi–sebagai suatu bentuk gerak bagi kategori-kategori logikal, yang adalah struktur umum (metode) dari swa-generasi ide mutlak dalam unsur logikalnya sendiri. Ini merupakan sejenis kesejarahan ekstra-temporal, supra-temporal, yang menurut Hegel bersifat fundamental; idea sebagai pelaku mutlak menggunakan waktu sebagai suatu alat bagi swa-realisasinya.

Di dalam abstraksi teralienasi berjenjang-banyak ini Marx sepintas lintas melihat sumber formalisme Hegelian, yang berbeda dari formalisme matematikal, misalnya matematika universal dari Leibniz.

Sebagai penutup baiklah kini beralih pada dua pertanyaan, yang memang cuma dapat disketsa jawabannya.

(a) Adakah dalam Thesis on Feuerbach dan The German Ideology penggunaan kritikal yang sama atas filsafat Hegelian sebagaimana hal itu diungkapkan dalam Economic and Philosophical Manuscripts? (b) Dan lebih lanjut: dapatkan kritik Marxian atas Hegel di dalam manuskrip-manuskrip Paris bertahan dalam terang perkembangan kontemporer, karya teoretikal berbagai generasi, sekalipun kita memiliki manuskrip-manuskrip Hegelian yang mendahului Phenomenology dan yang sama sekali tidak dikenal oleh Marx?

Mengenai (a): sejauh yang mengenai perkembangan hubungan kritikal antara Marx dan Hegel, agaknya di dalam The German Ideology Marx telah menyingkirkan dari teori komunismenya unsur-unsur eskatologikal dan ideologikal60) dari sumber/asal Feuerbachian, teristimewa konsepsi mengenai keberadaan/makhluk bangsa (species) sebagai tujuan akhir sejarah. Di dalam The German Ideology komunisme tidak difahami sebagai pemecahan teka-teki sejarah64) secara definitif, realisasi dari bangsa (species) manusia, lebih daripada konsepsi ini, yang muncul kembali dalam bentuk yang lebih rendah di dalam teori-teori kaum sosialis sejati, telah dikritik dengan tajam. Marx menjauhkan dirinya dari pandangan-pandangan kaum sosialis sejati, dari–dalam kata-kata Marx:–kepercayaan buta pada kesimpulan-kesimpulan filsafat65)

….kepercayaan mutlak pada kesimpulanb-kesimpulan filsafat German, sebagaimana yang dirumuskan oleh Feuerbach, yaitu, bahwa Manusia, manusia hakiki, manusia murni, adalah tujuan akhir dari sejarah dunia, bahwa religi adalah hakekat manusia yang diasingkan, bahwa hakekat manusia adalah hakekat manusia dan tolok-ukur dari segala sesuatu.….

Marx menjauhkan dirinya dari pandangan mereka bahwa

….uang, kerja-upahan, dsb., adalah juga pengasingan dari hakekat manusia, bahwa sosialisme Jerman adalah realisasi dari filsafat Jerman dan kebenaran teoretikal dari sosialisme dan komunisme luar negeri…….

Sehubungan dengan itu, selagi Marx mengkongkretkan konsepsinya mengenai alienasi dan kerja yang teralienasi, membebaskannya dari unsur-unsur eskatologikal dan ideologikal dan memperdalam analisis ekonominya mengenai masyarakat burjuis, Marx berhenti menilai Phenomenology Hegelian sebagai suatu teori komunisme yang dimistikkan. Ia membenarkan pandangannya yang terdahulu, yang menyatakan bahwa antropologi Feuerbach merupakan dasar filosofikal bagi komunisme, dan bersamaan dengan itu melepaskan pandangannya sebelumnya bahwa Hegel menangkap hakekat kerja dan swa-generasi manusia oleh kerja. Marx melepaskan konsepsi mengenai swa-produksi bangsa (species)66) dan menyebutkan itu suatu misteri idealis yang spekulatif. Sebagai suatu tanda –menurut Marx– dari pengertian akan realitas yang di-demistifikasi, Marx menulis dalam thesis ketiga mengenai Feuerbach: Terjadinya secara bersama perubahan keadaan-keadaan dan kegiatan manusia atau swa-perubahan dapat difahami dan dimengerti seecara rasional hanya sebagai praktek revolusioner.67)

Marx memandang hakekat dan arti filsafat Hegelian karena filsafat Hegelian itu menyusun suatu teori yang dimistifikasi dari kesatuan praktikal dan historikal dari manusia dan objektivitas sosial yang alamiah,68) suatu teori yang menciptakan persangkaan-persangkaan intelektual bagi penggantiuan segala filsafat ideologikal, spekulatif, termasuk materialisme abstrak yang berlandaskan materialisme praktikal, konsep mengenai praxis.

Interpretasi Marx atas Hegel di dalam manuskrip-manuskrip Paris mengandung pernyataan-pernyataan yang pada satu titik tertentu saling bertentangan satu sama lain:

(a) Hegel menangkap manusia (bangsa manusia=species man) sebagai hasil kerjanya sendiri; Hegel menangkap swa-generasi manusia melalui kerjanya sendiri; (b) Hegel hanya mengenal suatu kerja intelektual, yang abstrak.

Thesis pertama mungkin dapat diungkapkan secara lebih tegas: Hegel menangkap kesedaran-diri-sendiri filosofikal–dalam arti ini: bangsa manusia–sebagai suatu produkt dari aktivitasnya sendiri. Penggantian, yang lazim bagi Hegelianisme muda, manusia untuk kesadaran-diri merupakan suatu pembenaran bagi konsepsi manusia real sebagai bangsa manusia dalam peengertian Feuerbachian, yang mengandung suatu unsur teleologikal eskatologikal. Dalam komunisme Feuerbachian Marxian tahun 1844, sejarah adalah swa-produksi bangsa manusia aktual atas analogi dengan swa-produksi kesadaran-diri filosofikal dalam Phenomenology Hegel. Dengan pemahaman manusia real sebagaimana yang diungkapkan dalam The German Ideology, analogi itu dan karenanya pembenaran bagoi suatu penggantian secara esensial telah dilemahkan. Tekanan dalam penafsiran Phenomenology dan keseluruhan filsafat Hegelian telah bergeser: Hegel adalah seorang besar karena telah memahami keberadaan sebagai pemroduksian, sebagai kesejarahan, karena khususnya telah diciptakannya perkiraan-perkiraan teoretikal tertentu yang memungkinkan dikaitkannya materialisme baru Marx secara kritikal. Tetapi, dikarenakan Hegel pada akhirnya hanya mengenal kerja dari pikiran, Hegel tidak menangkap hakekat kerja dan praxis sebagai jalan menuju emansipasi manusia. Dalam arti itu Marx mencatat dalam The German Ideology–dalam pasase mengenai tugas teori komunis agar menangkap manusia real di dalam aktivitas praktikal mereka: ..Dengan persenjataan teoretikal yang diwarisi dari Hegel, adalah –tentu saja– tidak mungkin bahkan untuk memahami sikap material, empirikal dari orang-orang ini.69)

Mengenai (b): dari suatu titik pandangan yang melihat dalam gerakan komunis revolusioner suatu bentuk kontemporer dari emansipasi manusia dan dalam hasil-hasil teoretikal Marx landasan teoretikal bagi tahap permulaannya, kritik Marxian atas Hegel di dalam manuskrip-manuskrip Paris, sekalipun adanya kedalaman dan bobotnya, tampak berat-sebelah dan tidak dikembangkan secara lengkap.

1. Marx menilai negativitas mutlak Hegel–untuk sebagian besar–sebagai suatu konseptualisasi bentuk-bentuk tertentu dari sejarah dunia. Sumber konsepsi Hegel dalam sintesis Kant mengenai appersepsi tetap belum dijajaki. Di dalam kritik Marxian atas Hegel hanya ada sedikit penyebutan atas niat Hegel untuk menciptakan, atas dasar transcendentalisme Kant, suatu teori filsafat yang konsisten mengenai jangkauan lengkap pengalaman dan sekaliogus suatu filsafat kebebasan yang lebih konsisten daripada yang mungkin bagi Kant, Fichte dan Schelling. Seperti Fichte, Hegel mulai dari Kant dalam menangkap objektivitas dan pengalaman, teristimewa dari deduksi transcendental konsep-konsep pengertian murni; sebagai hasilnya, objektivitas–di atas segala-galanya– difahami sebagai produkt daripada Keakuan.70) Dari sini para idealis mulai mengubah dan menggelarkan pandangan Kant mengenai tindakan dari keakuan. Mereka mencoba menyusun suatu teori metafilosofikal baru mengenai keberadaan, pengalamman dan kebenaran. Jika perangkat persoalan ini–deduksi Kantian mengenai konsep-konsep pengertian, yang diradikalkan oleh Fichte, sebagai sumber dialektika Hegelian–dipertimbangkan secara layak, maka tidak akan tampak sebagai kesalahan71) belaka bahwa Hegel menyusutkan semua objektivitas mengjadi isi kesadaran-diri; orang dapat mengikuti terus logika abadi dari arah yang diambil Kant dan Fichte, yang akan –kukira–mengungkapkan suatu aspek penting dari rahasia dialektika Hegelian.

2. Ia merupakan suatu indikasi belaka dalam kritik Marxian atas Hegel, sekalipun bahan penting jelas terkandung di dalam karya- karya kemudian dari Marx, bahwa konsepsi Hegelian mengenai negativitas dialektikal mempunyai salah satu sumber-sumbernya dalam suatu usaha untuk menjelaskan pertanyaan mengenai bagaimana kehidupan menjadi kehidupan kesadaran diri dari individu-individu manusia.

Hal sebenarnya yang harus dipersoalkan secara kritikal pada Hegel adalah usahanya dalam suatu penjelasan sinthetik atas semua realitas historikal, alamiah dan inter-personal melalui konsepsinya mengenai negativitas dialektikal.

Catatan:

*) Alienation = alienasi:

1. isolasi dari setiap aspek masyarakat

2. perasaan tidak berarti

3. penolakan keyakinan dan nilai-nilai masyarakat

4. ketidakmampuan individu untuk menemukan kegiatan yang menguntungkan dirinya

5. hak pemilik atau penyewa untuk menentukan kepentingannya

Normative alienation = penolakan ketidaktentuan yang menyangkut norma atau nilai suatu masyarakat.

Political alienation = ketidaktercakupan dalam atau perasaan tentang ketiadaan arti yang menyangkut politik.

Role alienation = isolasi individu dari peranannya dalam masyarakat.

Work alienation = perasaan ketiadaan tenaga untuk mengendalikan kondisi-kondisi kerja seseorang.

 

HUBUNGAN – HUBUNGAN KAUSAL

Seperti telah diperlihatkan dalam bab sebelumnya, derivasi dialektikal Marxian menyaratkan bahwa hubungan sebab dan akibat mengambil suatu bentuk dan peranan baru di dalam konsepsi- konsepsi ontologikal dan logikal yang berkaitan pada perkembangan-sendiri objek. Mari kita perhatikan persoalan itu secara lebih terinci.

J. Cibulka, di antara lain, mempersoalkan penggunaan sebab dan akibat dalam analisis materialis-dialektikal Marxian.

Kita akan mencoba menerangkan persoalan yang sedang diteliti itu lewat rujukan kritikal pada penafsiran Ilenkov dan pada penafsiran-penafsiran lainnya dalam literatur modern Marxis yang secara perseptif mempersoalkan konsep kausalitas Marxian (Sos, Filkorn, Lange, Tondl, dsb.)

Ketika Cibulka memeriksa bab pembukaan buku ketiga CAPITAL mengenai hukum kecendcerungan turunnya tingkat laba rata-rata, ia sampai pada kesimpulan bahwa regularitas-regularitas kausal dalam CAPITAL Marx difahami sebagai akibat-akibat dari regularitas-regularitas dialektikal yang lebih dalam. Misalnya, menurut penafsiran Cibulka tentang Marx, produktivitas sosial dari kerja mempunyai dua jenjang.

Jenjang dasar dari produktivitas sosial dari kerja adalah proses kontradiktori, di mana nilai lebih relatif timbul (atau di mana unsur-unsur modal konstan menjadi lebih murah). Ini muncul sebagai perubahan (konversi) suatu modal tertentu menjadi nilai, sebagai suatu pengecilan (diminusi) saham (bagian) modal variabel dalam hubungan dengan modal konstan, sebagai menjadi murahnya unsur-unsur modal konstan, sebaghai suatu penurunan tingkat laba dan perpan jangan proses itu, suatu peningkatan dalam permintaan akan kerja, dsb.; setiap dari gejala-gejala itu adalah suatu bagian integral dari proses keseluruhan (total). Jenjang permukaan dari proses itu adalah suatu jaringan hubungan-hubungan kausal di antara faktor-faktor yang berdiri sendiri-sendiri….. Gerak kontradiktori dalam mengandung pada dirinya sendiri suatu massa faktor-faktor individual yang muncul sendiri-sendiri bertentangan dan terkait satu-sama lain dalam hubungan-hubungan kausal. Gerak fondamental ini, yang secara esensial kontradiktori mereproduksi diri sendiri di dalam jaringan hubungan-hubungan kausal sebagai banyak gerak kausal individual, yang masing-masingnya memiliki suatu arah tertentu dan menyilangi yang lainnya. Kontradiksi-dalam dari produktivitas kerja bertingkah pada jenjang abstrak ini sebagai suatu persilangan dua rangkaian kausal.

Jenjang abstrak ini bukan sekedar penampilan, melainkan ia lebih merupakan jenjang permukaan yang real dari kontradiksi- kontradiksi antagonistik, yang setiap anggotanya adalah pada dan karena dirinya sendiri mandiri.

Cibulka beranggapan bahwa kemandirian faktor-faktor individual di dalam kontradiksi-kontradiksi antagonistik adalah suatu masalah keharusan. Hubungan-hubungan kausal yhang mereproduksi gerak kontradiktori-dalam itu, menyatakan suatu jenjang penting dari proses keseluruhan. Bagi kepentingan analisis ekonomik cukuplah untuk puas dengan memahami hubungan-hubungan kausal itu.

Analisis Cibulka merupakan satu langkah maju, teristimewa dalam hal bahwa ia tidak berhenti dengan menetapkan subordinasi hubungan-hubungan kausal pada hubungan-hubungan dialektikal yang lebih dalam, melainkan mencoba menerangkan subordinasi ini secara lebih terinci. Satu hasil positif dari penelitian Cibulka adalah kritiknya atas konsepsi-konsepsi umum tertentu yang mengingatkan pikiran-pikiran Lenin mengenai kausalitas sebagai suatu aspek dari hubungan-hubungan pada umumnya, tetapi sesungguhnya menjadikan kausalitas itu suatu kemutlakan. Sekarang, marilah kita berkonsentrasi pada suatu kritik terhadap kesimpulan-kesimpulan Cibulka. Dengan menggunakan suatu analisis perbandingan yang logikal dari penjelasan-penjelasan Ricardo dan Marx mengenai kapitalisme, kita sampai pada suatu penafsiran yang agak berbeda.

Metode menggunakan hubungan kausal yang dikarakterisasi dalam karya Cibulka bukanlah satu-satunya yang dipakai oleh Marx.

1. Dalam penjelasan Marxian menenai kapitalismne kita dapatkan hubungan kausal digunakan dengan suatu cara yang dapat kita namakan Galilean atau Galilean-Newtonian. Ini pada hakekatnya pemahaman yang sama mengenai kausalitas yang memainkan suatu peranan khusus dan dominan dalam penjelasan Ricardo mengenai kapitalisme. Penggunaan bentuk-bentuk kausal dari jenis itu oleh Marx adalah sama dengan transendensi Marx atas pendirian kuantitatif Ricardo yang berat-sebelah.

Ricardo, misalnya, memeriksa sebab-sebab variasi-variasi nilai relatif barang-dagangan barang-dagangan; Marx mengajukan pertanyaan serupa, tetapi ia tidak berhenti hingga di situ; ia tidak terbatas di situ seperti halnya dengan Ricardo. Dalam analisis Marxian maka penjelasan Galilean mengenai kausalitas, sejauh itu ikut berperan, telah digabungkan sebagai suatu aspek subordinate (rendahan) ke dalam suatu hubungan pengertian (konteks) baru, yang sama sekali tidak dikenal ilmu pengetahuan Galilean–yaitu konsepsi monistik tentang realitas.

Secara sama Marx menyelidiki hubungan sebab-akibat dengan merujuk dari persediaan dan permintaan tidak menjelaskan apa-apa, sampai kita memastikan dasar yang menopang hubungan itu.

Tetapi, sebelum kita menyelidiki dasar dalam analisis Marxian yang menopang berlangsungnya hubungan-hubungan kausal persediaan dan permintaan itu, marilah kita menggambarkan beberapa hal lagi di mana analisis Marx beroperasi dengan hubungan sebab-akibat dalam pengertian yang senmpit dan hakekatnya adalah Galilean.

Ketergantungan kausal dari variasi-variasi kuantitatif dari satu jenis pada variasi-variasi kuantitatif satu jenis lainnya dibuktikan oleh Marx, misalnya, ketika ia berbicara tentang hubungan kuantitas uang sebagai satu alat peredaran (sirkulasi) dengan harga-harga barang-dagangan:…yang naik atau turun dalam jumlah mata-uang manakala nilai logam-logam mulia tetap konstan selalu merupakan konsekuensi (akibat), tidak pernah menjadi sebab, dari variasi-variasi harga….

Dalam hal-hal serupa Marx menganggap bahwa secarea ilmiah layaklah membuktikan ketiadaan suatu hubungan kausal. Demikianlah di dalam polemiknya terhadap Darimon Proudhonis, Marx menyinggung persoalan apakah ada sesuatu jenis hubungan kausal di antara kuantitas uang kertas dan uang logam, sebagaimana yang dikemukakan oleh Proudhon.

Marx menyatakan:

Karena peningkatan dalam portfolio dengan 101 juta tidak menutupi penurunan dalam kekayaan logam, 144 juta, maka kemungkinan terbuka bahwa tidak ada kaitan kausal apa pun antara kenaikan di satu pihak dan penurunan di pihak lainnya.

Untuk membuktikan apakah ada satu nexus (ikatan, kaitan, hubungan)di antara kuantitas-kuantitas, bagi Marx tersedia metode yang diindikasikan oleh ketentuan Herschel-Mill.

2. Di samping kausalitas dalam pengertian Galilean yang sempit, Marx menggunakan hubungan sebab-akibat untuk mengkarakterisasi aspek-aspek tertentu dari proses dialektikal, tidak hanya pada jenjang permukaan fenomenalnya, melainkan juga di jenjang-jenjang esensi yang berkembang.

Istilah-istilah sebab-akibat dipakai secara sangat bebas oleh Marx bagi berbagai bentuk akibat ekstra-mekanikal, bagi penamaan berbagai jenis momen-momen efektual, jenis-jenis mediasi yang sangat berbeda-beda.

Orang tidak dapat mengatakan bahwa Marx telah menggunakan hubungan sebab-akibat semata-mata untuk mengkarakterisasi permukaan fenomenal, karena ini, misalnya, dapat kita baca dalam analisisnya tentang kapitalisme:

Jika, karena itu, suatu derajat tertentu dari akumulasio modal tampil sebagai suatu kondisi dari cara produksi kapitalis tertentu itu, maka yang tersebut belakangan itu sebaliknya menimbulkan suatu akumulasi modal yang dipercepat. Dengan akumulasi modal, karenanya, cara produksi kapitalis tertentu itu berkembang, dan dengan cara produksi kapitalis itu berkembang pula akumulasi modal.

Jika, misalnya, Marx menyelidiki bidang-bidang tanah kecil yang dikuasai petani-petani bebas, Marx menulis:

Sebab-sebab yang mengakibatkan keruntuhannya membuktikan keterbatasan-keterbatasannya. Yaitu: Penghancuran industri domestik pedesaan, yang merupakan tambahan normalnya sebagai hasil perkembangan industri besar; suatu pemiskinan berangsur dan pengurasan habis tanah yang dikenakan pada kultivasi ini; perampasan oleh tuan-tanah tuan-tanah besar atas tanah-tanah umum yang merupakan tambahan kedua dari pengelolaan bidang-bidang tanah di mana-mana dan yang memungkinkannya mengusahakan peternakan; persaingan, baik itu dari sistem perkebunan atau pertanian besar kapitalis.

Lembaga-lembaga perkreditan modern menurut Marx tiada bedanya merupakan akibat dan sebab dari konsentrasi modal….. hanya merupakan satu momen dari konsentrasi modal itu (yaitu, satu aspek dari proses konsentrasi). Atau, suatu contoh lain: modal menurut Marx, serentak mempunyai kecenderungan menghancurkan pauperisme (kemiskinan) maupun menciptakannya. Efek kontradiktori ini adalah, bahwa mula-mula kecenderungan pertama dan kemudian kecenderungan kedua yang berdominasi sebuah polemik:

….bahwa segala sesuatu akhirnya dapat menghancurkan sebabnya sendiri adalah suatu absurditas logikal semata-mata bagi lintah darat (tukang riba) yang terpikat oleh suku bunga tinggi. Kebesaran bangsa Romawi adalah sebab dari penaklukan-penaklukan mereka, dan penaklukan-penaklukan mereka menghancurkan kebesaran mereka. Kekayaan adalah sebab dari kemewahan dan kemewahan mempunyai efek menghancurkan pada kekayaan.

Orang tidak dapat mengatakan bahwa Marx menggunakan hubungan kausal itu hanya pada jenjang permukaan; tidak ada pembenaran sedikitpun bagi anggapan sebaliknya, yang dinyatakan oleh Sos bahwa menurut Marx, orang tidak dapat menemukan sebab itu di atas permukaan, karena ia berkaitan dengan alam keharusan dan hakekat dan termasuk di dalamnya.

Kini, marilah kita meninjau analisis itu: (a) Konsepsi Galilean-Newtonian mengenai hubungan sebab-akibat adalah mekanikal dan kuantitatif. Kausalitas difahami dalam artian stasis mekanikal–orang mencari sebab dari gangguan atau penegakkan keseimbangan (equilibrium) sebagai satu kondisi normal atau–dalam dinamika mekanistik–orang mencari sebab-sebab variasi-variasi dalam gerak di mana azas tanggungan-beban (penopang-berat = load-bearing) disyaratkan/diperkirakan.

Sama halnya dengan Ricardo, yang memperkirakan satu perjalanan normal alamiah dari ekonomi kapitalis, berusaha menemukan:

1. sebab dari norma; ia menemukannya dalam hukum-hukum yang tidak dapat berubah, sama seperti hukum-hukum Newtonian (misalnya, hukum alam dari pembagian produk di antara tiga klas alamiah; dalam hubungan ini maka teori kerja dari nilai merupakan sebab dasar, yang dengannya barang-dangangan barang-dagangan dipertukarkan dalam suatu hubungan tertentu);

2. sebab-sebab yang menjelaskan, atas perkiraan azas kerja dari nilai, mengapa hubungan kuantitatif dalam pertukarang barang-dagangan dan karakteristik-karakteristik kuantitatif dari bentuk-bentuk kualitatif ekonomi kapitalis diubah;

3. sebab-sebab penyimpangan-penyimpangan umum dari norma yang, menurut Ricardo, lazimnya dapat dilihat.

Lagi pula, ia mengakui sebab-sebab kebetulan (contingent) yang memainkan suatu peranan penting dan yang tidak dapat dijelaskan secara ilmiah.

Perbedaan fondamental antara Marx dan Ricardo adalah, bahwa Marx mempertentangkan hubungan sebab dan akibat yang didasarkan pada esensi yang berkembang-sendiri dengan kausalitas yang didasarkan pada konsepsi suatu esensi tetap.

Marx bekerja dengan bentuk-bentuk akibat yang berbeda dari yang diakui oleh kausalitas Galilean. Segala sesuatu yang ada (yang bukan sekedar abstraksi intelektual), mempunyai sesuatu [jenis tertentu] akibat; berada = mempunyai suatu efek. Konsepsi Marx mengenai berbagai bentuk efek secara tidak terpisahkan terkait pada dua azas (merupakan satu aspek dari kedua azas itu): azas kesatuan dunia dan azas berkembang-sendiri, yaitu pandangan bahwa kondisi mutlak benda-benda dan gejala-gejala harus dicari di dalam proses perubahan, dalam gerak.

Jika realitas difahami sebagai berkembang-sendiri, maka setiap sesuatu mengandung sesuatu dalam dirinya sendiri, yang di muka sudah kita karakterisasi sebagai substansi; ia adalah –sejauh yang berkaitan dengan berkembang-sendiri itu–causa sui Dengan menterapkan azas kelembaman (inertia) secara mutlak ia sampai pada konsep-konsep baru tentang benda, efek, dan saling-efek. Apabila Marx berbicara tentang bentuk-bentuk efek yang sama sekali asing bagi kausalitas Galilean-Newtonian, maka karakteristik-karakteristik ini dapatlah difahami jika kita mendasarkannya pada keseluruhan konsepsi baru Marx mengenai determinasi gejala- gejala. Masalah kausalitas bagi Marx adalah, karena itu, suatu persoalan yang dirumuskan secara tidak tepat, yang seharusnya berbunyi: konsepsi baru mengenai determinisme (bentuk-bentuk hubungan-hubungan dan bentuk-bentuk keumuman dan keharusan) apakah yang telah dikembangkan oleh Marx?

Manakala Marx menggunakan bentuk-bentuk pikiran kausal untuk memahami aspek-aspek tertentu dari hubungan-hubungan yang sangat beerbeda-beda dan jenis-jenis efek-efek yang sangat berbeda-beda, lmaka konsep sebab dipakai secara sinkronikal atau sebagai suatu sinonim bagi konsep-konsep kondisi, persyaratan, dasar, dan sebagainya

(b) Sebagaimana menjadi jelas dari ilustrasi yang dikutib di atas, kita menjumpai sebab dan akibat secara serentak (atau: perkiraan dan hasil secara serentak), kondisi dan konsekuensi secara serentak, dsb.) dalam analisis Marx. Dengan penggunaan ini Marx memahami suatu hubungan antara aspek-aspek terentu dari proses perkembangan sebagai suatu keutuhan.

Maka itu ia membedakan: (i) transisi dari sebab menjadai akibat dan vice versa (perkiraan menjadi hukum, pembentukan menjadi yang terbentuk dan vice versa, penentuan menjadi yang tertentu dan vice versa) dalam tahap perkembangan genesis objek itu; dan (ii) transisi sebab menjadi akibat dan vice versa dalam perkembangan objek yang telah berkembang.

Dalam kasus pertama, gejala A hanya dalam rangkaian sementara menjadi perkiraan, sebab. kondisi dari gejala B; gejala B yang terealisasi kemudian mau-tak-mau menyebabkan realisasi gejala A yang dengan itu gejala A tampil sebagai akibat (hasil, produk) dari gejala B, yang adalah akibat original dari gejala A. Kini gejala A, yang originalnya menjadi sebab dari gejala B, berubah menjadi akibat, produk dari gejala B. Sebab berubah menjadi akibat, akibat menjadi sebab.

Demikianlah, misalnya dalam proses perkembangan modal, uang tampil sebagai perkiraan dari modal. Ia sendiri adalah buah dari suatu proses rumit sebelumnya, namun bersangkutan dengan pembentukan modal ia adalah jelas suatu perkiraan, kondisi. Segera setelah modal berkembang, ia menghasilkan dan mereproduksi uang dan berbagai fungsi-fungsi ekonomiknya sebagai suatu aspek dari geraknya sendiri.

Marx membedakan persyaratan-persyaratan, sebab-sebab, dan kondisi-kondisi (i), yang tampil setelah mereka berguna bagi perkembangan objek, dan tidak direproduksi oleh gerak dari objek yang telah berkembang (misalnya, akumulasi original), (ii) yang tetap merupakan satu aspek dari keberadaan dabn gerak dari objek yang telah berkembang (misalnya, sirkulasi uang, pasaran dunia, dsb.).

Suatu kasus lain dari transisi sebab menjadi akibat dan vice versa (dalam perkembangan objek yang telah berkembang) adalah bahwa gejala yang sedang diperiksa sekaligus adalah sebab dan akibat, dalam pengertian itu suatu momen dalam efek timbal balik, proses perkembangan objek yang merupakan kesatuan/gabungan dari banyak momen. Jelaslah bahwa efek timbal-balik ini pada hakekatnya berbeda dari efek timbal-balik yang diteliti dalam mekanika, misalnya dengan bantuan paralelogram kekuatan-kekuatan (Stevin).27) Persoalan kita adalah efek timbal-balik atas dasar esensi yang sedang berkembang. Marx menyatakan beberapa ide umum mengenai efek timbal-balik dan transisi dari sebab menjadi akibat dan vice versa dalam kaitan dengan perkembangan modal. Modal menciptakan kondisi-kondisi dan persyaratan-persyaratan keberadaannya dan pertumbuhannya sesuai dengan esensi tetap (immanent)nya. Persyaratan-persyaratan dan kondisi-kondisi keberadaan modal sebagai objek yang telah berkembang (yaitu, sejauh ia mulai bergerak atas dasarnya sendiri, sesuai dengan watak tetapnya), adalah suatu konsekuensi dari pelaksanaan dirinya sendiri. Jelaslah bahwa pemahaman transisi dari sebab menjadi akibat dan vice versa ini mempersyaratkan konsepsi pengetahuan dalam konsep-konsep Marxian dan dasar ontologikalnya sebagaimana dipaparkan di atas.

Dalam pandangan Engels, bahwa seseorang hanya mencapai hubungan kausal dengan menganggap efek bersama (mutual effect) sebagai primer, konsep efek bersama haruslah difahami sebagai materialis-dialektikal dalam isinya, yaitu, sesuai dengan pemahamam baru Marxian mengenai determinisme.

(c) Dalam filsafat Hegel, terutama dalam logikanya, yang sangat penting bagi Marx dalam mempersiapkan satu pengertian baru mengenai determinisme, kausalitas dalam arti Galilean-Newtoniannya dilucutu dari tempatnya yang layak dalam penjelasan ilmiah. Ia difahami sebagai satu dari banyak bentuk mediasi.

Hegel telah mencoba dalam Logic-nya untuk memberi suatu jawaban atas persoalan determinismee yang dinyatakan oleh Kant dan Jacobi.

Kedua pemikir itu–masing-masing dengan caranya sendiri dan dengan hasil yang berbeda–membuktikan bahwa determinisme ilmiah yang didasarkan pada pemutlakan kausalitas mekanikal adalah tidak dapat dipertahankan.

Kant menarik kesimpulan-kesimpulan agnostik mengenai watak subjektif dari bentuk-bentuk pikiran (sedangkan ia, sebagai secara tepat dikatakan oleh Hegel, meninggalkan bentuk-bentuk pikiran ini sebagai esensi-esensi yang tidak dapat berubah dan menerimanya dalam bentuk determinis, dengan mengambil kausalitas mekanikal mutlak sebagai suatu dasar.

Jacobi meninggalkan objek-objek yang final, yang dikondisikan di dalam kompetensi determinisme mekanikal, dan ia menetapkan kondisionalitas sebagai kondisionalitas dalam arti kausalitas mekanikal, dikondisikan dalam pengertian determinisme mekanikal. Objek-objek dari jenis apa pun tidak dapat, menurut Jacobi, menjadi objek-objek pengenalan rasional; mereka cuma rentan pada sesuatu jenis pengetahuan langsung irasional. Hegel mengangkat (dari Fichte, Schelling, dsb.) problematik ini dan mencoba menyusun suatu konsepsi baru mengenai determinisme ilmiah yang dapat menggantikan determinisme yang didasarkan pada pemutlakan kausalitas mekanikal. Inilah logika Hegelian. Sekalipun usaha ini di dalam kedua jilid Science of Logic adalah–karena penyimpangan-penyimpangan idealistik–suatu kegagalan total, namun Hegel telah mengungkapkan bahan-bahan yang cukup berharga yang dapat dirujuk secara kritikal oleh Marx, sebagaimana sudah kita lihat dalam analisis mengenai struktur logikal dari CAPITAL–ketika Marx menciptakan konsepsinya mengenai determinisme baru yang menggantikan determiisme yang didasarkan pada kausalitas mekanikal.

Ketika Lenin, di dalam Philosophical Notebooks mengatakan, bahwa Hegel menggolongkan sejarah sepenuhnya di bawah kausalitas dan memahami kausalitas seribu kali lebih dalam dan kaya daripada massa kaum terpelajar dewasa ini, ia tidak mendukung pandangan bahwa hubungan kausal tradisional mempunyai suatu peranan dominan dalam pikiran Hegel. Lebih tepat dikatakan bahwa itu suatu masalah penekanan akan konsepsi determinis Hegelian, yang deterministik secara baru. Di sini istilah kausalitas adalah sebuah sinonim bagi determinisme. Penafsiran ini didukung oleh pernyataan Lenin:

Jika seseorang membaca Hegel mengenai kausalitas, pada pengelihatan pertama akan tampak ganjil, mengapa ia secara begitu singkat mempermasalahkan tema Kantian yang amat disukai itu. Mengapa? Yah, hanya karena kausalitas baginya cuma salah satu dari determinasi-determinasi koneksi universal, yang difahaminya dengan lebih dalam dan lengkap pada suatu tahap lebih dini dalam seluruh penyajiannya, selalu dalam koneksi yang menekankan dapat saling berubah-ubahnya transisi-transisi, dsb.

Hegel menggolongkan semua bentuk koneksi di bawah konsep mediasi; salah satu dari bentuk-bentuk ini, namun bukan bentuk yang diistimewakan, adalah hubungan kausal; ia memberikan isi pada konsep umum mediasi dalam pemahaman idealisnya mengenai realitas, suatu isi yang ditarik dari mediasi intelektual dan koneksi-koneksi logikal.

Dengan Marx konsep mediasi tidak memiliki arti penting umum ini.

Pada umumnya ia mengandung segala macam efek dan koneksi-koneksi, termasuk kondisionalitas, koneksi, efek, sehingga dalam isi baru yang kaya dari konsep itu tertinggallah suatu kontinuitas terminologikal tertentu antara Marx dan ilmu pengetahuan Galilean-Newtonian. Di sini kita tidak mempersoalkan sekedar kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan terminologikal yang kebetulan: di dalam konsep ini muncul perbedaan esensial antara Hegel dan Marx mengenai ilmu pengetahuan alam dari abad-abad ketujuhbelas dan delapanbelas yang dipengaruhi oleh matematika.

(d) Tinggal satu pertanyaan penting: peranan apakah yang dimainkan kausalitas Galilean (mekanikal) dalam pemahaman Marxian mengenai bentuk-bentuk efek yang berbeda-beda? Marx sepenuhnya mengeluarkan objek penelitiannya, cara produksi kapitalis, dari kompetensi ilmu pengetahuan Galilean-Newtonian, yaitu, tipe pikiran ilmiah yang cocok bagi sistem-sistem yang berkarakter mekanikal.36) Cara produksi kapitalis, menurut Marx, bukan suatu hablur solid ataupun suatu sistem yang bergerak-sendiri seperti sebuah lonceng; ia adalah suatu organisme yang telah mengalami suatu proses perkembangan terus-menerus, setiap dari aspek-aspeknya hanya terdapat dalam gerak, serentak sebagai suatu persyaratan dan hasil dari gerak objek itu. Ia adalah suatu keutuhan yang bersambung secara dialektikal.

Karenanya, menurut analisis Marx, analisis membawa pada pengetahuan mengenai keutuhan yang bersambung secara dialektikal dan berubah-ubah itu, yang unsur-unsurnya dapat dianalisa sebagai sistem-sistem mekanikal, misalnya sistem-sistem yang analog (sistem-sistem isomorfik [penghabluran dalam bentuk-bentuk yang sama atau geometrik yang erat berkaitan] hingga mekanikal). Itu adalah suatu unsur yang rendahan namun absah.Dalam analisis Marxian mengenai kapitalisme, analisis sistem-sistem mekanikal digunakan (dengan bentuk-bentuk pikiran yang pada hakekatnya sama dengan ilmu pengetahuan abad ke tujuhbelas) dalam tahap-tahap tertentu sebagai unsur-unsur dari seluruh analisis struktural- genetyil materialis-dialektikal, yang menggunakan bentuk logikal dan metodologikal baru pengetahuan dalam konsep-konsep.

Mereka dipakai manakala hubungan dan ketergantungan kuantitas-kuantitas tertentu yang khas pada ekonomi kapitalis dapat diperiksa di bawah persyaratan bahwa (i) kuantitas-kuantitas ini adalah sesuatu yang secara kualitatif lengkap (suatu abstraksi dari sifat dialektikalnya) dan bahwa (ii) ketergantungan mereka difahami sebagai ketergantungan faktor-faktor mandiri yang eksternal satu sama lainnya (yang secara tidak terpisahkan terkait dengan (i). Persyaratan-persyaratan ini, jelas sekali, mempunyai dasarnya pada realitas objektif (dalam stabilitas relatif dari bentuk-bentuk ekonomi kapitalis), namun dalam bentuk murninya mereka pertama-tama adalah suatu produk abstraksi. Pembenaran abstraksi ini adalah, bahwa stabilitas kualitatif yang ada dapat dicari di dalam batas-batas tertentu dan dapat difahami tanpa membenarkan pandangan bahwa ia sebenarnya satu momen dari proses perkembangan dialektikal. Agaknya itu bukan hanya satu kemungkinan saja, melainkan juga suatu keharusan bagi analisis. Penggunaan suatu prosedur di mana sistem-sistem mekanikal dibentuk dari aspek-aspek tertentu dari suatu keutuhan kesinambungan dialektikal, sistem-sistem yang mula-mula diteliti dalam bentuk disederhanakan itu dan yang sama dengan ilmu pengetahuan mekanikal dari abad ke tujuhbelas, secara jelas dianggap oleh Marx sebagai suatu momen pengintegrasian dari keseluruhan kesinambungan dialektikal itu.

Jelas sekali bahwa seperti dalam kasus-kasus lain, analisis atas struktur logikal dan metodologikal CAPITAL membawa kita–di satu pihak–untuk mencari suatu pemecahan pasti atas masalah-masalah logikal dan metodologikal dalam masalah-masalah ontologikal yang dimediasikan oleh watak-salinan bentuk-bentuk logikal dan metodologikal: –di lain pihak, kita datang lagi pada otonomi relatif dari teori yang mencoba memahami suatu keutuhan kesinambungan dialektikal yang dipertentangkan pada suatu realitas yang diketahui secara objektif.

KAUSALITAS DAN KONTRADIKSI

Keterkaitan erat antara kedua masalah ini timbul dari kenyataan bahwa dasar dari konsepsi Marxian mengenai semua hubungan dan dengan begitu dari hubungan-hubungan kausal adalah penafsiran atas realitas sebagai bergerak-sendiri, yang azasnya yang paling dalam adalah kesatuan dan perjuangan dari pertentangan- pertentangan. J. Cibulka telah memberikan perhatian besar pada aspek CAPITAL Marx ini.

Untuk melengkapi analisisnya kita memasukkan pertimbangan- pertimbangan tertentu yang bersangkutan dengan analisis perbandingan logikal dari Ricardo dan konsepsi-konsepsi Marx mengenai kategori-kategori antitesis dan kontradiksi, sebagai persiapan bagi pertanyaan umum: peranan apakah yang dimainkan oleh konsepsi Marx mengenai kontradiksi di dalam penggantian suatu determinisme yang tergantung pada kausalitas mekanikal, dan dalam penciptaan determinisme materialis-dialektikal?

Kita menyadari bahwa observasi-observasi yang ditarik dari analisis mengenai struktur logikal yang terkandung dalam CAPITAL hanya merupakan bahan mentah bagi pemecahan pertanyaan umum yang diajukan di atas.

(a) Salah satu sebab esensial, jika bukannya sebab yang paling esensial–dengan mengenyampingkan kondisi-kondisi historikal dan sosial serta dengan berkonsentrasi pada teori–mengapa Ricardo dan kaum ekonom pra-Marxis pada umumnya tidak mencapai suatu pemahaman lebih dalam mengenai esensi kapitalisme, adalah konsepsi mereka yang miskin dan dangkal mengenai hubungan dari pertentangan-pertentangan (relation of opposites). Juga menjadi kegagalan mereka untuk memahami bahwa objektivitas, keberadaan determinasi-determinasi yang antitetikal dalam hubungan-hubungan yang sangat berbeda-beda, termasuk identitas antitesis-antitesis, adalah termasuk pada esensi objek, sehingga tanpa penyajian teoretikal dari suatu objektivitas tertentu, objek itu tidak dapat difahami dalam esensinya, pengetahuan objek itu tetap sepotong-sepotong, kabur (seperti halnya dengan pengetahuan tentang kapitalisme yang dicapai oleh ekonomi politik burjuis).

Manakala Ricardo menjumpai suatu antitesis di dalam penelitiannya mengenai kapitalisme–sebagaimana pasti terjadi–dan merumuskannya, perumusan Ricardo tidak lengkap: Ricardo tidak melihat apa yang dihadapinya, ia tidak mengerti bagaimana harus berbuat dengan sebuah antitesis; antitesis-antitesis dalam perumusan ilogikal dan yang tidak disadari itu tidak memiliki fleksibilitas alamiah dan tidak mengungkapkan esensi tersembunyi yang berubah- ubah dari objek itu, sebagaimana kemudian diungkapkan di dalam teori-teori Marx, sang dialektikus.

Bagaimanakah Ricardo memahami, misalnya, antitesis nilai-tukar dan nilai-pakai? Ricardo jelas membedakan nilai-tukar dari nilai-pakai. Ia mengritik Say, misalnya, karena Say tidak membedakan nilai tukar dan nilai-pakai dengan secukupnya, dan beroperasi dengan suatu konsep membingungkan mengenai suatu nilai yang dianggapnya tergabung.

Dalam Bab.20 dari bukunya Principles, Ricardo menunjukkan bahwa nilai-tukar dan nilai-pakai begitu tajam berbeda satu sama lainnya, sehingga kebesaran-kebesaran mereka dapat bergerak serentak dalam arah bertentangan. Ia juga menekankan, bahwa nilai-tukar terkait pada nilai-pakai, dan melihat kesatuan mereka pada kenyataan bahwa nilai-pakai merupakan prasyarat bagi keberadaan nilai-tukar sesuatu barang- dagangan.

Dalam hal itu Ricardo melihat antitesis-antitesis dan kesatuan dari pertentangan-pertentangan, tetapi hanya sampai satu titik tertentu, dan hanya secara dangkal. (Sebagai kebalikannya, Ricardo hanya melihat kerja sederhana dalam hubungan dengan asal-usul nilai-tukar. Ia sama sekali tidak melihat kenyataan bahwa kerja yang menghasilkan barang-dagangan barang-dagangan dan menciptakan nilai adalah kerja yang mempunyai sifat-sifat konkret dan abstrak antitetikal.)

Analisis Ricardo berhenti dengan pertentangan nilai-tukar dan nilai-pakai dan kesatuan dari pertentangan-pertentangan itu (yang tidak palsu, melainkan hanya elementer, permulaan (initial). Di situlah Marx memulai penelitian atas rahasia bentuk barang-dagangan dan uang, ketika ia membuktikan dalam seksi-seksi pertama CAPITAL bahwa di dalam barang-dagangan, nilai-pakai dan nilai-tukar berada berdampingan satu sama lain (sebagai dua faktor barang-dagangan itu — tanpa berkata apa-apa mengenai watak antitetikal mereka) dan bahwa nilai-pakai adalah kondisi bagi nilai-tukar, dan bukannya vice versa.) Yang diungkapkan Marx setelah penelitian lebih lanjut sebagai suatu polaritas, sebagai suatu hubungan dalam dari pertentangan-pertentangan, sebagai suatu transisi pertentangan-pertengan yang satu menjadi yang lainnya, sebagai identitifikasi pertentangan-pertentangan, dsb., adalah yang diperkenalkannya pada awal-mulanya ksebagai perbedaan-perbedaan, sebagai sifat-sifat yang berbeda-beda. Ketika, misalnya, Marx mulai menganalisa dan membuktikan bahwa kerja memiliki suatu sifat rangkap-dua, ia menjelaskan bahwa sejauh itu mendapatkan ungkapannya dalam nilai, ia tidak memiliki karakteristik-karakteristik yang sama yang menjadi miliknya sebagai suatu pencipta nilai-pakai nilai-pakai.

Di sini –sebagaimana kemudian dijelaskan oleh Marx– pertentangan yang menghasilkan kontradiksi itu dipaparkan secara sangat bebas, terbuka dan berani. Marx mempersiapkan materialnya bagi penyelidikan selanjutnya untuk mengungkapkan hubungan-hubungan lebih dalam dari objek-objek itu, polaritas mereka dan watak kontradiktori mereka.

Marx memuji Ricardo, dengan mengatakan bahwa Ricardo menemukan, mengungkapkan pertentangan ekonomik klas-klas – sebagaimana hubungan dalam itu mengungkapkannya…..

Tetapi pada titik ini Marx telah maju melampaui Ricardo dalam pemahaman pertentangan-pertentangan itu, karena dari perang klas-klas di bawah permukaan masyarakat kapitalis ia menyimpulkan bahwa perjuangan ini secara tidak terelakkan menghasilkan kediktatoran proletariat.

Marx menganggapnya sebagai jasa besar bahwa Ricardo menyadari perbedaan antara harga produksi dan nilai dan bahwa ia –secara tidak jelas dan hanya sebagai suatu tpenerapan hukum nilai– merumuskan kontradiksi antara determinasi nilai suatu barang-dagangan dengan kerja dan keberadaan tingkat rata-rata laba.

Di antara teoretikus-teoretikus ekonomi politikan klasik burjuis Sismondi, menurut pendapat Marx, telah mau paling jauh dengan antitesis-antitesis dan kontradiksi-kontradiksi bentuk-bentuk ekonomik kapitalios. Ia nyaris sampai pada kesimpulan bahwa cara produksi kapitalis adalah kontradiktori: kemungkinan pertumbuhan produktivitas yang tidak terbatas dan kekayaan dan bersamaan dengan itu keperluan untuk membatasi massa pada kebutuhan- kebutuhan kehidupan. Ia menganggap krisis-krisis adalah suatu pengungkapan dari kontradiksi-kontradiksi intern dari kapitalisme.

Dari sudut pandangan kita adalah penting untuk menetapkan posisi apakah yang diambil oleh para pasca-Ricardian dan oleh para ekonom politikal masa-kini mengenai konsepsi-konsepsi Ricardo dan Sismondi tentang sifat antitetikal bentuk-bentuk ekonomik, bagaimana Marx secara kritikal merujuk padanya, dan bentuk-bentuk pikiran baru apakah muncul dalam konsepsi materialis-dialektikal Marx tentang sifat antitetikal dan kontradiktori bentuk-bentuk itu.

James Mill bersusah-payah memberikan suatu bentuk sistematik pada teori Ricardo dan menyusunnya, sehingga teori itu dapat berguna lebih baik dalam memberikan suatu dasar dan dukungan pada bentuk produksi kapitalis sebagai suatu bentuk wajar dan kekal. Ia mengerti–walaupun secara ilogikal dan tidak jelas– akan sifat antitetikal dari konsepsi-konsepsi Ricardo. Ia mencoba menutup-nutupi antitesis-antitesis dan kontradiksi-kontradiksi

itu, menyajikannya sebagai tampaknya saja (begitu), sehingga ia tidak sampai pada hakekat ekonomi kapitalis.

Ketika ia menetapkan jenis hubungan ekonomik apapun sebagai suatu kesatuan dari determinasi-determinasi antitetikal, James Mill menekankan kesatuan mereka, sehingga ia sesungguhnya mengingkari watak antitetikal mereka. Ia menjadikan kesatuan pertentangan-pertentangan itu identitas langsung dari pertentangan-pertentangan itu. Garis ini kemudian diikuti dalam ungkapan- ungkapan dangkal para apologis vulgar (MacCulloch, Bastiat, dsb.).

Pengingkaran atas watak antitetikal dan kontradiktori bentuk-bentuk ekonomik kapitalis itu merupakan suatu bagian pokok teori-teori mereka.

Marx mengritik para ekonom vulgar yang hanya melihat perbedaan-perbedaan eksternal antara bentuk-bentuk ekonomik, sedangkan Smith dan Ricardo sudah menyusun suatu pengertian pasti, sekalipun tidak lengkap mengenai watak antitetikal itu.

Patut diperhatikan bahwa kaum apologis reaksioner tidak saja sekedar mengabdi untuk meremehkan dan menghapus antitesis-antitesis, melainkan juga untuk mengungkapkan dan menekankan watak antitetikal dari bentuk-bentuk ekonomi kapitalis yang difahami secara tidak-dialektikal.

Malthus, misalnya, dengan maksud-maksud reaksioner menyambar doktrin Sismondi mengenai watak kontradiktori dari banyak bentuk kapitalis. Ia memutarbalikkan doktrin itu melawan Ricardo, tetapi tidak untuk membawa ekonomi politikal melampaui konsepsi tentang watak kontradiktori dari kapitalisme itu pada suatu bentuk lebih tinggi, melainkan untuk menentang teori Ricardo sejauh itu merupakan ungkapan teoretikal dari kekuatan-kekuatan di dalam ekonomi kapitalis yang membela masyarakat pra-kapitalis.

Dibandingkan dengan Ricardo dan Sismondi, yang telah memaparkan dalam ekonomi politikal klasik burjuis pra-Marxis watak antitet-kal dan kontradiktori dari bentuk-bentuk ekonomik kapitalis, Marx melangkah lebih jauh dengan berlanjut pada antitesis-antitesis dan kontradiksi-kontradiksi yang difahami sebagai kekal adanya. Bahkan Sismondi, yang dibungkam sepenuhnya oleh Ricardo, menurut Marx kekurangan kontradiksi yang difahami sebagai kekal adanya itu. Ini adalah suatu kontradiksi yang difahami sedemikian rupa bahwa, dalam kondisi-kondisi tertentu, ia menandakan identitas dari pertentangan-perten-tangan, yang terkait (sesuai) dengan penafsiran realitas sebagai berkembang-sendiri. Watak antitetikal dan kontradiktori yang difahami sebagai tetap ada (immanently) yang tidak dikenal Ricardo dan ilmu pengetahuan Lockean telah diantisipasi oleh filsafat klasik Jerman, terutama oleh Hegel, yang mengritik pemahaman lama yang dangkal mengenai watak antitetikal dan pengucilan kontradiksi dari ilmu pengetahuan, sebagaimana yang dirumuskan–misalnya–dalam metafisika Jerman pra-Kantian.

Marx menganggap konsepsi immanen mengenai kontradiksi pokok sekali bagi analisis ilmiah materialis-dialektikal (dan bagi lompatan dari pembuktian, dan penilaian kritikal mengenai kontradiksi-kontradiksi bagi suatu pemahaman mengenainya). Pernyataan Marx menunjukkan bahwa kontradiksi (yaitu, kontradiksi yang difahami sebagai tetap ada, sekalipun difahaminya secara idealistik) Hegelian, adalah sumber dari dialektikanya.

Pada Marx kita dapatkan suatu gerak dari pembedaan eksternal lewat pertentangan yang kurang-lebih eksternal kepada kontradiksi yang difahami sebagai kekal adanya. Ia berbuat seperti itu, misalnya, dengan analisis mengenai barang-dagangan dan aspek- aspek-aspek objektifnya, nilai.

Atau, misalnya, sehubungan dengan penyelidikannya mengenai keterkaitan unsur-unsur individual dari proses pembentukan-nilai, Marx mengatakan:

Sejauh ini di dalam proses pelaksanaan, kita hanya dapatkan ketidak-acuhhan momen-momen individual satu terhadap yang lainnya; bahwa mereka saling menentukan satu sama lain secara internal dan saling mencari satu sama lain secara eksternal; namun mereka saling menemukan satu sama lain atau tidak, saling mengimbangi satu sama lain, bersesuaian satu sama lain. Keharusan pokok dari momen-momen yang termasuk segolongan, dan keberadaan mereka yang bebas dan tanpa saling mengacuhkan satu sama lain, sudahlah merupakan suatu dasar kontrakdiksi-kontradiksi. Namun, kita belum selesai. Kontradiksi antara produksi dan realisasi –yang darinya, modal -menurut konsepnya- adalah kesatuannya–haruslah difahami secara lebih hakiki daripada sekedar penampilan momen-momen individual dari proses itu, atau lebih tepatnya dari totalitas proses-proses itu, yang tidak acuh satu sama lain dan seakan-akan bebas satu sama lain secara timbal-balik.

Dalam analisis Marx kita dapatkan prosedur yang berlawanan–dari kontradiksi-kontradiksi tetap hingga antitesis-antitesis eksternal sebagai bentuk fenomenal dari kontradiksi-kontradiksi dalam yang tetap.

Misalnya, Marx menulis:

Pertentangan atau kontras yang terdapat secara internal dalam tiap barang-dagangan antara nilai-pakai dan nilai, adalah, kar-nanya, dibikin jelas secara eksternal oleh dua barang-dagangan yang ditempatkan dalam hubungan satu sama lain yang sedemikian rupa, hingga barang-dagangan yang nilainya dicari ungkapannya, tampil langsung sebagai suatu nilai-pakai semata, sedangkan barang-dagangan yang menyatakakan nilai itu, tampil langsung sebagai nilai tukar semata. Dari situlah bentuk elementer dari kontras yang dikandung barang-dagangan, antara nilai-pakai dan nilai, menjadi jelas.

Bentuk fenomenal yang berkembang paling tinggi dari antitesis intern itu adalah antitesis barang-dagangan–uang.

(b) Apakah hubungan analisis kontradiksi ini (apakah ia berlangsung dari perbedaan-perbedaan dan antitesis-antitesis eksternal menjadi perbedaan-perbedaan dan antitesis-antitesis intern yang berlawanan) dengan penjelasan kausal, misalnya, dalam teori moneter Marxian? Dalam Bab mengenai derivasi dialektikal, di mana kita mencoba menjelaskan hubungan derivasi dialektikal- logikal dan historikal tentang uang, telah dikatakan bahwa dalam penyelidikan mengenai asal-usul uang, Marx tidak mengajukan pertanyaan sederhana: apakah sebab perkembangan uang? Marx menyelidiki hubungan-hubungan yang harus dan umum, berbagai bentuk akibat dan transisi yang harus, yang karakteristik bagi perkembangan uang, yang menjawab pertanyaan bagaimana esensi uang harus difahami sebagai suatu gejala (transitori = yang berubah-ubah) historikal. Karenanya, itulah pertanyaan yang menggantikan–dalam determinisme Marxian–pertanyaan sederhana mengenai sebab asal-usul uang; esensi sebagai berkembang sendiri harus dipersyaratkan.

Sekalkipun banyak kaum ekonom melihat asal-usul uang pada kesulitan-kesulitan yang merupakan pembawaan barter, Marx merumuskan perkembangan uang lewat kontradiksi tetap dari bentuk barang-dagangan.64)

Kita dapati dalam analisis Marx suatu struktur perkembangan-sendiri yang kompleks, yang dasarnya adalah kontradiksi tetap dari barang-dagangan.

Dalam berbagai tahap kematangan produksi barang-dagangan dan kemudian dalam produksi barang-dagangan kapitalis, ia mengambil bentuk-bentuk yang berbeda-beda. Kontradiksi-kontrtadiksi tetap itu menemukan pernyataan mereka dalam gejala-gejal (relatif) eksternal dari hubungan-hubungan sosial yang antagonistik; di situ kita berurusan dengan lebih dari dua jenjang. Hubungan di antara jenjang-jenjang individual, efek-efek dan tahap-tahap individual dari perkembangan lazimnya diungkapkan oleh Marx dalam konsep-konsep penciptaan, keharusan trandisi, keharusan bentuk penampilan, dsb.–semua kategori dari determinisme barunya–dan kadang-kadang diungkapkan dalam pengertian- pengertian kausal. Sebab dalam hal ini difahami sebagai suatu aspek efektif dari suatu keutuhan organik yang berkembang- sendiri. Hubungan kausal difahami di sini dalam satu pengertian lengkap yang tidak-spesifik yang menjelaskan suatu perubahan khusus dari suatu realitas khusus, suatu kondisi atau hubungan yang menjawab pertanyaan mengapa. Dalam hal-hal seperti itu orang tidak dapat menerapkan hubungan kausal pada kontradiksi tetap itu; orang tidak dapat, misalnya, secara rasional menanyakan sebabnya apabila kontradiksi intern dari barang-dagangan memiliki watak yang diungkapkan oleh teori Marx, dan bukan watak lainnya.

Dapat dijelaskan secara rasional mengapa kontradiksi-kontradiksi barang-dagangan itu memiliki suatu watak tertentu, sedangkan perkembangan historikal dari barang-dagangan itu telah diungkapkan (dan karenanya juga perluasan dari proses pertukaran);65) ini menyerupai cara Marx menjelaskan perkembangan uang, bahwa di antara suatu produk (selama itu bukan suatu barang-dagangan) dan suatu produk dalam bentuk barang-dagangan tidak terdapat hubungan perkembangan langsung sebagaimana yang terdapat di antara bentuk barang-dagangan sederhana dan uang.

Ketika Marx menunjukkan bahwa perkembangan kontradiksi-kontradiksi dari suatu bentuk-produksi historikal [adalah]……. satu-satunya cara historikal dari pembubaran dan pembentukan (penataan) baru;66) ia maksudkan bahwa sebab utama (sekalipun konsep itu, jika diterapkan pada suatu proses dialektikal, tidak mampu memahami hubungan-hubungan dari suatu struktur yang berkembang-sendiri) dari transisi pada suatu tatanan sosial baru adalah kontradiksi-kontradiksi di dalam pembentukan itu, yang selamanya ada sebagai suatu perkembangan kontradiksi-kontradiksi dan sebagai suatu struktur kontradiktori dari jenjang-jenjang yang lebih banyak lagi.

Perkembangan kontradiksi-kontradiksi tetap (immanent), yang secara tertentu adalah causa sui, dapat muncul sebagai sebab dari keberadaan dan perkembangan antitesis-antitesis eksternal.67) Perkembangan dari antitesis-antitesis eksternal ini, perkembangan aspek-aspek dari perkembangan kontradiksi-kontradiksi intern ini, bentuk perkembangannya, mempunyai efek itu dan dapat muncul dalam tahap-tahap dan aspek-aspek individual sebagai sebab dari perkembangan kontradiksi-kontradiksi intern. Karenanya Marx menulis, misalnya, mengenai efek perluasan umum Undang-undang Pabrik:

Dengan mematangkan kondisi-kondisi material, dan kombinasi dalam skala sosial dari proses-proses produksi, ia mematangkan kontradiksi-kontradiksi dan antagonisme-antagonisme bentuk produksi kapitalis, dan dengan itu membekali–bersama dengan unsur-unsur bagi pembentukan suatu masyarakat baru–kekuatan-kekuatan untuk meledakkan masyarakat lama.68)

Jelaslah bahwa kita berurusan dengan suatu efek dalam suatu proses organik dari perkembangan; Marx berbicara dalam hal-hal seperti itu tentang umpan balik.Kadang-kadang kelihatannya seakan-akan Marx menganggap watak kontradiktori sebagai sesuatu yang dihasilkan juga oleh suatu dasar lain dari perkembangan. Misalnya, ia mengatakan dalam CAPITAL bahwa ia tidak berurusan dengan suatu titik lebih tinggi atau lebih rendah dari perkembangan antagonisme-antagonisme soaial yang berasal dari hukum-hukum wajar dari produksi kapitalis, melainkan ia mempersoalkan hukum-hukum itu sendiri, yang dengan kecenderungan-kecenderungan yang bekerja dengan keharusan besi menuju hasil-hasil yang tidak terelakkan.69) Tujuan Marx adalah menelanjangi hukum gerak ekonomik dari masyarakat modern.70) Atau dengan kata-kata lain: induk antagonisme adalah industri besar-besaran, dsb.71) Sebenarnya, kontradiksi selalu diartikan sebagai dasar perkembangan. Menelanjangi hukum perkembangan ekonomik berarti mengungkapkan keharusan bentuk- bentuk perkembangan yang umum dari kontradiksi-kontradiksi ter-tentu dari kapitalisme; perkembangan ini adalah, sebagaimana baru kita lihat, satu-satunya jalan transisi dari kapitalisme ke suatu tatanan baru. Demikian pula jika Marx berbicara tentang antagonisme-antagonisme yang timbul dari hukum itu, itu cuma suatu cara lain untuk mengatakan bahwa kita menghadapi antagonisme- antagonisme yang adalah suatu ungkapan72) dari kontradiksi tetap dari kapitalisme yang sedang berkembang. Hukum dalam hal ini adalah hukum nilai, suatu konsepsi mengenai perkembangan teratur dari kontradiksi-kontradiksi tetap dari barang-dagangan dan bentuk-bentuk ekonomik kapitalis.73)

(c) Dalam analisis mengenai bentuk-bentuk tertentu dari antitesis-antitesis dan kontradiksi-kontradiksi dalam barang-dagangan dan bentuk-bentuk ekonomik kapitalis Marx merumuskan gagasan-gagasan tertentu mengenai bentuk umum antitesis-antitesis itu, yang, walaupun mereka tidak memecahkan persoalan-persoalan umum ini, mempunyai arti yang penting sekali bagi penyelidikan- penyelidikan selanjutnya.74)

Marx, sebagaimana telah kita ketahui, yakin bahwa konsepsi Hegel mengenai kontradiksi walaupun dengan pemutar-balikan idealistiknya, adalah sumber dari dialektikanya.75) Hegel menemukan bentuk umum dari dialektika itu (yaitu, bentuk umum dari antitesis dan kontradiksi), 76) sekalipun itu diputar-balikkan oleh idealisme.

Pada umumnya Marx mengkarakterisasi konsepsi materialis-dialektikal mengenai antitesis dan kontradiksi sebagai sudah mencakup dalam pemahaman dan pengakuan positifnya atas keadaan yang berlaku, sekaligus, juga, pengakuan mengenai negasi (peniadaan) keadaan itu, mengenai pembubarannya yang tidak terelakkan; karena ia memandang setiap bentuk sosial yang berkembang secara historikal sebagai berada dalam suatu gerak yang berubah-ubah (fluid), dan karena memperhitungkan sifat berubah-ubahnya (tidak tetap) itu tidak kurang daripada keberadaan sementaranya; karena ia tidak membiarkan apapun memaksa dirinya, dan dalam hakekatnya bersifat kritikal dan revolsuioner.77)

Itu juga pengertian pandangan umum Lenin bahwa kesatuan dari pertentangan-pertengangan adalah relatif, perjuangan dari pertenangan-pertentangan adalah mutlak. Dengan demikian suatu tanda hakiki dari semua proses yang berkembang-sendiri difahami jika kita menyadari bahwa kesatuan dari pertentangan-pertentangan adalah jelas dan selalu tertentu, dan bahwa demikian pula halnya dengan antitesis-antitesis.78)

Bentuk-bentuk dan penyelesaian dari suatu kontradiksi seperti itu dapat dikenali dalam berbagai tahapnya. Dalam analisis mengenai kontradiksi-kontradiksi produksi barang-dagangan dan bentuk-bentuk ekonomik kapitalis Marx pada umumnya mengakui dua bentuk dasar:

1. Bentuk yang tampaknya menyamakan, memperbarui suatu keseimbangan yang melaluinya berlangsung pemecahan kontradiksi-kontradiksi, dengan mempertahankan dasar kualitatif originalnya; melalui pemecahan kontradiksi-kontradiksi ia sampai pada perubahan-perubahan kualitatif, pada perkembangan bentuk-bentuk kualitatif baru yang di dalamnya kontradiksi original–lazimnya dalam bentuk yang diubah– direproduksi;79)

2. Bentuk yang menandakan penghapusan kontradiksi lama dan penciptaan suatu kesatuan baru dari pertentangan-pertentangan (maka itu perkembangan dari bentuk-bentuk baru atas suatu dasar lain daripada yang dari kapitalisme).80)

Harus diakui bahwa Marx jarang mengutarakan gagasan-gagasan umum mengenai antitesis-antitesis. Pada pokoknya ia menekankan bahwa antitesis dan kontradiksi, sebagaimana itu terjadi dalam produksi barang-dagangan dan bentuk-bentuk ekonomik kapitalis, hanya berlaku bagi gejala-gejala khusus dalam suatu cara tertentu, tetapi tidak bagi semua tipe antitesis dan kontradiksi.81) Pengetahuan ilmiah mengenai suatu objek hanya mungkin pengetahuan mengenai kesatuan dari pertentangan-pertentangan dan bentuk-bentuk pertentangan dalam suatu kasus tertentu.

 

Masyarakat dan Kelas-Kelas

I. Produksi Barang-Barang Kebutuhan Adalah Basis Dari Kehidupan Sosial

Kita harus memulainya dari pemahaman yang sangat mendasar. Bahwa untuk mempertahankan dan melanjutkan hidupnya, manusia harus dapat mencukupi kebutuhan utamanya yaitu: makanan, pakaian dan tempat tinggal. Oleh karena itu manusia harus memproduksi semua kebutuhan-kebutuhannya.[1][1] Dalam proses produksi inilah, manusia menggunakan dan mengembangkan alat-alat produksi (alat alat kerja dan obyek kerja) disamping tenaga kerjanya sendiri. Dari mulai tangan, kapak, palu, lembing, palu, cangkul hingga komputer serta mesin-mesin modern seperti sekarang ini. Alat-alat produksi (ada teknologi didalamnya) dan tenaga kerja manusia (ada pengalaman, ilmu pengetahuan didalamnya) tidak pernah bersifat surut melainkan terus maju disebut sebagai Tenaga produktif masyarakat yaitu kekuatan yang mendorong perkembangan masyarakat.

II. Hubungan Produksi, Tenaga Produktif dan Cara Produksi

Dalam suatu aktivitas proses produksi guna memenuhi kebutuhannya manusia berhubungan dengan manusia lain. Karena Proses produksi selalu merupakan hasil saling hubungan antar manusia, maka sifat dari produksi juga selalu bersifat sosial. Saling hubungan antar manusia dalam suatu proses produksi ini disebut sebagai hubungan sosial produksi. Dari kegiatan produksi ini kemudian muncul kegiatan berikutnya yaitu distribusi dan pertukaran barang. Hubungan sosial produksi dalam sebauh masyarakat bisa bersifat kerja sama atau bersifat penghisapan. Hal ini tergantung siapakah yang memiliki atau menguasai seluruh alat-alat produksi (alat-alat kerja dan obyek kerja).

Hubungan sosial produksi dan tenaga produktif (alat-alat produksi dan tenaga kerja) inilah kemudian membentuk suatu cara produksi dalam suatu masyarakat. Misalnya cara produksi komunal primitif, perbudakan, feodalisme, kapitalisme dan sosialisme. Perubahan yang terjadi dari suatu cara produksi tertentu ke cara produksi yang lain terjadi akibat berkembangnya tenaga produktif dalam suatu masyarakat yang akhirnya mendorong hubungan produksi lama tidak dapat dipertahankan lagi dan menuntut adanya hubungan produksi baru. Inilah hukum dasar sejarah masyarakat dan merupakan sumber utama dari semua perubahan sosial yang ada.

III. Kelas-Kelas Dalam Masyarakat

Berdasarkan Posisi dan hubungannya dengan alat-alat produksi inilah masyarakat kemudian terbagi kedalam kelompok-kelompok yang disebut kelas-kelas. Misalnya Dalam suatu masyarakat berkelas selalu terdapat dua kelas utama yang berbeda yang saling bertentangan berdasarkan posisi dan hubungan mereka dengan alat-alat produksi. Tetapi, tidak semua cara produksi masyarakat terdapat pembagian kelas-kelas. Dalam sejarah umat manusia terdapat suatu masa dimana belum terdapat pembagian masyarakat ke dalam kelas-kelas. Misalnya dalam cara produksi komunal primitif, alat-alat produksi dimiliki secara bersama (atau alat produksi adalah milik sosial). Posisi dan hubungan mereka atas alat-alat produksi adalah sama. Semua orang bekerja dan hasil produksinya dibagi secara adil diantara mereka. Karena alat produksi masih primitif hasil produksinya pun belum berlebihan diatas dari yang dibutuhkan oleh masyarakat. Sehingga tidak ada basis/alasan orang/kelompok untuk menguasai hasil kerja orang lain. Oleh karena itu tidak ada pembagian kelas-kelas dalam masa ini. Yang ada hanyalah pembagian kerja, ada yang berburu, bercocok tanam dan lain-lain.

Masyarakat berkelas muncul pertama kali ketika kekuatan-kekuatan produksi (alat-alat kerja dan tenaga kerja) berkembang hingga menghasilkan produksi berlebih. Kelebihan produksi inilah yang pertama kali menjadi awal untuk kelompok lain untuk mengambil kelebihan produksi yang ada. Dalam setiap masyarakat berkelas yang ada selalu didapati adanya pengambilan/perampasan atas hasil produksi. Perampasan atas hasil produksi inilah yang kemudian sering dinamakan dengan penghisapan.

Lain halnya dalam cara produksi setelah komunal primitif yaitu perbudakan, yang menghasilkan dua kelas utama yaitu budak dan pemilik budak. Dalam masa perbudakan alat-alat produksi beserta budaknya sekaligus dikuasai oleh pemilik budak. Budaklah yang bekerja menghasilkan produksi. Hasil produksi seluruhnya dikuasai oleh pemilik budak. Budak sama artinya dengan sapi, kerbau atau kuda. Pemilik budak cukup hanya memberi makan budaknya.

Sementara dalam masa feodalisme (berasal dari kata feodum yang berarti tanah) dimana terdapat dua kelas utama yaitu tuan feodal (bangsawan pemilik tanah) dengan kaum tani hamba atau petani yang pembayar upeti. Produksi utama yang dihasilkan didapatkan dari mengolah tanah. Tanah beserta alat-alat kerjanya dikuasai oleh tuan feodal atau bangsawan pemilik tanah. Kaum Tani hambalah yang mengerjakan proses produksi. Ia harus menyerahkan (memberikan upeti) sebagian besar dari hasil produksinya kepada tuan feodal atau para bangsawan pemilik tanah.

Begitu pula halnya dalam sistem kapitalisme yang menghasilkan dua kelas utama yaitu kelas kapitalis dan kelas buruh. Proses kegiatan produksi utamanya adalah ditujukan bukan untuk sesuai dengan kebutuhan manusia, melainkan untuk menghasilkan barang–barang dagangan untuk dijual ke pasar, untuk mendapatkan keuntungan yang menjadi milik kapitalis. Keuntungan yang didapat ini kemudian dipergunakan untuk melipatgandakan modalnya. Keuntungan yang didapatkan dari hasil kerja buruh ini, dirampas dan menjadi milik kapitalis. Buruh berbeda dengan budak atau tani hamba. Buruh, adalah manusia bebas. Ia bukan miliknya kapitalis. Tetapi 7 jam kerja sehari atau lebih dalam hidupnya menjadi milik kapitalis yang membeli tenaga kerjanya. Buruh juga bebas menjual tenaga kerjanya kepada kapitalis manapun dan kapanpun ia mau. Ia dapat keluar dari kapitalis yang satu ke kapitalis yang lain. Tetapi akibat sumber satu-satunya agar ia dapat hidup hanya menjual tenaga kerjanya untuk upah, maka ia tidak dapat pergi meninggalkan seluruh kelas kapitalis. Artinya buruh diikat, dibelenggu, diperbudak oleh seluruh kapitalis, oleh sistem kekuasaan modal, oleh sistem kapitalisme. Kita akan membahas persoalan lebih detail lagi.

KAPITALISME

Kapitalisme, adalah sebuah nama yang diberikan terhadap sistem sosial dimana alat-alat produksi, tanah, pabrik-pabrik dan lain-lain dikuasai oleh segelintir orang yaitu kelas kapitalis (pemilik modal). Jadi kelas ini hidup dari kepemilikannya atas alat-alat produksi. Sementara kelas lain (buruh) yang tidak menguasai alat produksi, hidup dengan bekerja ( menjual tenaga kerjanya ) kepada kelas kapitalis untuk mendapatkan upah.

Kepemilikan alat-alat produksi kemudian dipergunakan untuk menghasilkan barang-barang untuk dijual ke pasaran untuk mendapatkan untung. Keuntungan ini kemudian dipergunakan kembali untuk menambah modal mereka untuk produksi barang kembali, jual kepasar, dapat untung. Begitu seterusnya. Inilah yang kemudian sering dikatakan bahwa tujuan dari kapitalis adalah untuk mengakumulasi kapital (modal) secara terus menerus.

Pengusaha yang pandai adalah seorang yang membayar sekecil mungkin terhadap apa yang dibelinya dan menerima sebanyak mungkin terhadap apa yang dijualnya. Tahap awal menuju keuntungan yang tinggi adalah menurunkan biaya-biaya produksi. Salah satu biaya produksi adalah upah buruh. Oleh karena itulah kepentingan pengusaha untuk membayar upah serendah mungkin. Selain itu pengusaha juga berkepentingan untuk mendapatkan hasil kerja buruhnya sebanyak mungkin.

Kepentingan dari para pemilik modal ini bertentangan dengan kepentingan orang-orang yang bekerja (buruh) kepada mereka. Kelas buruh berkepentingan terhadap meningkatnya upah, meningkatnya kesejahteraannya. Kedua kelas ini bertindak sebagaimana kepentingan (keharusan) yang ada pada mereka. Masing-masing hanya dapat berhasil dengan mengorbankan yang lain. Itulah mengapa, dalam masyarakat kapitalis, selalu ada pertentangan antara dua kelas tersebut.

I. NILAI LEBIH

Kelas buruh yang tidak memiliki alat produksi harus menjual tenaga kerjanya untuk mendapatkan upah untuk membeli sejumlah barang untuk kebutuhan hidupnya. Tetapi apakah upah itu? Bagaimana upah itu ditentukan?

Upah adalah jumlah uang yang dibayar oleh kapitalis untuk waktu kerja tertentu. Yang dibeli kapitalis dari buruh adalah bukan kerjanya melainkan tenaga kerjanya. Setelah ia membeli tenaga kerja buruh, ia kemudian menyuruh kaum buruh untuk selama waktu yang ditentukan, misalnya untuk kerja 7 jam sehari, 40 jam seminggu atau 26 hari dalam sebulan (bagi buruh bulanan).

Tetapi bagaimana kapitalis atau (pemerintah dalam masyarakat kapitalis) menentukan upah buruhnya sebesar 591.000 perbulan (di DKI misalny) atau 20 ribu per hari (untuk 7 jam kerja misalnya)? Jawabanya karena tenaga kerjanya adalah barang dagangan yang sama nilainya dengan barang dagangan lain. Yaitu ditentukan oleh jumlah kebutuhan sosial untuk memproduksikannya (cukup agar buruh tetap punya tenaga untuk bisa terus bekerja). Yaitu kebutuhan hidupnya yang penting yaitu kebutuhan pangan (Misalnya 3 kali makan), sandang (membeli pakaian, sepatu dll) dan papan (biaya tempat tinggal) termasuk juga untuk untuk menghidupi keluarganya. Dengan kata lain cukup untuk bertahan hidup, dan sanggup membesarkan anak-anak untuk menggantikannya saat ia terlalu tua untuk bekerja, atau mati. Lihat misalnya konsep upah minimum yang ditetapkan oleh pemerintah.

Jadi upah yang dibayarkan oleh kapitalis bukanlah berdasarkan berapa besar jumlah barang dan keuntungan yang diperoleh kapitalis. Misalnya saja sebuah perusahan besar (yang telah memperdagangkan sahamnyadi pasar saham) sering mengumumkan keuntungan perusahaan selama setahun untung berapa ratus milyar. Tetapi dari manakah keuntungan ini di dapat?

Jelas keuntungan yang didapat dari hasil kegiatan produksinya. Tetapi yang mengerjakan produksi bukanlah pemilik modal melainkan para buruh yang bekerja di perusahaannya lah yang menghasilkan produksi ini. Yang merubah kapas menjadi banang, merubah benang menjadi kain, merubah kain menjadi pakaian dan semua contoh kegiatan produksi atau jasa lainnya. Kerja kaum buruh lah yang menciptakan nilai baru dari barang-barang sebelumnya.

Contoh sederhana misalnya. Seorang buruh di pabrik garmen dibayar 20.000 untuk kerja selama 8 jam sehari. Dalam 8 jam kerja ia bisa menghasilkan 10 potong pakaian dari kain 30 meter. Harga kain sebelum menjadi pakaian permeternya adalah 5000 atau 150.000 untuk 30 meter kain. Sementara untuk biaya benang dan biaya-biaya produksi lainnya (misalnya listrik, keausan mesin dan alat-alat kerja lain) dihitung oleh pengusaha sebesar 50.000 seharinya. Total biaya produksi adalah 20.000 (untuk upah buruh) + 150.000 (untuk kain) + 50.000 (biaya produksi lainnya) sebesar 220.000. Tetapi pengusaha dapat menjual harga satu kainnya sebesar 50.000 untuk satu potong pakian atau 500.000 untuk 10 potong pakaian di pasaran. Oleh karena itu kemudian ia mendapatkan keuntungan sebesar 500.000 – 220.000 = 280.000.

Jadi kerja 8 jam kerja seorang buruh garmen tadi telah menciptakan nilai baru sebesar sebesar 240.000. Tetapi ia hanya dibayar sebesar 20.000. Sementara 220.000 menjadi milik pengusaha. Inilah yang disebut nilai lebih. Padahal bila ia dibayar 20.000, ia seharusnya cukup bekerja selama kurang dari 1 jam dan dapat pulang ke kontrakannya. Tetapi tidak, ia tetap harus bekerja selama 8 jam karena ia telah disewa oleh pengusaha untuk bekerja selama 8 jam. Jadi buruh pabrik garmen tadi bekerja kurang dari satu jam untuk dirinya (untuk menghasilkan nilai 20.000 yang ia dapatkan) dan selebihnya ia bekerja selama 7 jam lebih untuk pengusaha (220.000).

II. Akumulasi Kapital Dan Krisis Kapitalisme

Seperti yang di jelaskan sebelumnya bahwa kapitalisme hidup pertama dari kepemilikan mereka atas alat-alat produksi yang seharusnya menjadi milik sosial (lihat sejarah masyarakat bahwa pada awalnya alat-alat produksi ini adalah milik bersama/sosial). Kepemilikan alat-alat produksi ini dipergunakan untuk menghasilkan barang-barang yang dijual ke pasaran untuk mendapatkan untung. Keuntungan ini kemudian dipergunakan kembali untuk menambah modal mereka untuk produksi barang kembali, jual kepasar, dapat untung. Begitu seterusnya. Inilah yang kemudian sering dikatakan bahwa tujuan dari kapitalis adalah untuk mengakumulasi kapital (modal) secara terus menerus.

Sederhananya, kapital menuntut kapitalis untuk terus mengakumulasi modal, untuk menjadi kaya, kaya sekaya-kayanya untuk semakin kaya lagi, dan tidak ada kata cukup untuk menambah kekayaan. Ini semua bukanlah persoalan kapitalisnya serakah atau rakus atau karena kapitalisnya adalah orang yang tidak taat agama, orang Cina, Amerika, Jepang, Korea, Arab dll. Semua kapitalis adalah sama. Karena memang tuntutan ini bukan karena ada watak-watak serakah dari individu-individu kapitalis. Melainkan tuntutan dari cara kerja sistem kapitalisme menuntut setiap kapitalis untuk menjadi demikian. Penjelasannya seperti di bawah ini.

Misal bahwa harga ditentukan oleh komposisi permintaan dan penawaran. Adanya permintaan yang besar terhadap suatu barang, sementara penawaran (persedian) yang ada lebih kecil dari permintaan pasar menyebabkan harga suatu barang barang dagangan meningkat. Kejadian ini menyebabkan kapital akan bergerak ke keadaan dimana permintaan meningkat, yang menyebabkan kapital berkembang.

Ketika harga suatu barang dagangan tinggi akibat permintaan lebih besar daripada barang yang tersedia di pasar, maka untuk memperbesar keuntungan maka si kapitalis meningkatkan jumlah barang dagangannya. Ini dilakukan dengan cara meningkatkan/menambah jumlah mesin yang ia miliki, menambah jumlah buruh, melakukan pembagian tugas/kerja yang lebih canggih (lebih kecil), melakukan percepatan, dan meningkatkan efisiensi dalam pabrik.

Tetapi mesin-mesin juga menciptakan kelebihan populasi pekerja, mereka juga mengubah watak buruh. Buruh-buruh trampil menjadi tidak berguna ketrampilannya karena ketrampilannya telah diganti oleh mesin. Lihat misalnya para sarjana yang kerja di perbankan, atau di perusahaan-perusahaan lainnya, mereka yang telatih menggunakan komputer, memiliki kemampuan akutansi, memiliki bermacam keahlian. Semua ketrampilan dan keahlian ini menjadi tidak berguna. Karena dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terjadi proses mekanisasi kerja. Kerjanya kini hanya memasukkan data-data setiap harinya. Terus berulang-ulang. Dengan penggantian mesin, anak-anak juga dapat dipekerjakan.

Penambahan mesin-mesin baru yang lebih modern/canggih (ingat sifat dari teknologi yang terus berkembang) memungkinkan seorang buruh dapat memproduksi sebanyak tiga kali lipat, sepuluh kali lipat, tujuh belas, atau puluhan kali lipat dari sebelumnya. Dengan cara ini, maka hasil produksi dapat jauh lebih besar. Harga biaya produksi bisa lebih diperkecil.

Tetapi semua tindakan kapitalis diatas tidak saja dilakukan oleh satu kapitalis saja melainkan kapitalis yang lain juga melakukan tindakan yang sama. Masing-masing berlomba untuk dapat menguasai pasar, bahkan dengan menurunkan harga barang dagangan tadi (walaupun harganya tetap diatas biaya produksi). Persaingan ini terus terjadi. Dimana disatu titik akan menyebabkan beberapa kapitalis yang kalah dalam persaiangan ini terpaksa kalah, bangkrut atau pindah ke usaha lain yang berkembang. Kapitalis-kapitalis yang modalnya lebih besar memenangkan pertarungan ini.

Sejak satu abad yang lalu, dengan mesin-mesin baru yang lebih canggih (hasil dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi) kemampuan produksi kapitalisme telah dapat memenuhi jumlah dari permintaan yang ada, bahkan telah jauh diatasnya. Hingga akhirnya produksi barang jauh lebih besar dibanding dengan kemampuan pasar untuk membeli barang-barang ini. Akhirnya si kapitalis kini bukan saja harus memikirkan bagaimana mendapatkan untung dari penjualan barang produksinya melainkan juga bagaimana dapat menjual barang dagangannya yang berlimpah (diatas permintaan pasar) yang juga harus bersaing dengan kapitalis lain, menyebabkan kebangkrutan dari beberapa kapitalis. Kebangkrutan jelas juga membawa akibat terphknya buruh di perusahaan yang kalah bersaing ini. Rakyat pekerja dilempar ke jalan-jalan menjadi pengangguran. Sementara itu, barang-barang produksi melimpah di pasar, sementara masyarakat tidak memiliki daya beli untuk mengkonsumsi barang—barang ini. Ini juga menyebabkan kebangkrutan kembali dari perusahaan-perusahaan yang ada. Inilah cara kerja kapitalisme, dimana didalam keteraturannya (ketertibannya) terkandung ketidaktertibannya, liar, anarki produksi.

III. NEGARA

Klas kapitalis, melalui penghisapannya terhadap klas pekerja, telah mendapatkan kenyamanan, kekayaan dan martabat. Sementara klas buruh justru mendapatkan kemiskinan, dan kesengsaraan.

Mengapa kelas yang sebenarnya minoritas dalam jumlah populasi di bumi ini (kapitalis) justru lebih diuntungkan dibandingkan dengan kelas mayoritas penduduk dunia (buruh). Kondisi terus bertahan hingga saat ini karena terdapat sistem kekuasaan sosial ekonomi oleh kelas minoritas yang kaya terhadap mayoritas kelas buruh. Alat untuk mempertahankan penindasan satu kelas terhadap kelas lain adalah negara.

Dalam pertentangan kelas kapitalis dan kelas buruh kelas kapitalis menggunakan negara sebagai sebuah senjata yang sangat diperlukan melawan pihak yang tidak memiliki.

Kita sering didengungkan oleh kampanye pemerintahan kapitalis bahwa mereka mewakili semua orang, yang kaya dan miskin. Tetapi sebenarnya, sejak masyarakat kapitalis yang didasarkan atas kepemilikan pribadi atas alat produksi serangan apapun terhadap kepemilikan kapitalis akan dihadapi dengan kekerasan dari pemeritnahan kapitalis. Melalui kekuatan tentara, UU, hukum, pengadilan dan penjara negara telah berfungsi menjadi anjing penjaga dari keberlangsungan sistem kepemilikan pribadi yang menguntungkan kelasminoritas. Klas yang berkuasa secara ekonomi –yang memiliki alat-alat produksi– juga berkuasa secara politik.

Sejak negara sebagai alat melalui salah satu klas yang menentukan dan mempertahankan dominasinya/kekuasannya terhadap klas yang lain, kebebasan sejati bagi sebagian besar yang tertindas tak dapat terwujud.

Negara terwujud untuk menjalankan keputusan-keputusan dari klas yang mengontrol pemerintah. Dalam masyarakat kapitalis negara menjalankan keputusan-keputusan dari klas kapitalis. Keputusan-keputusn tersebut dipola untuk mempertahankan sistem kapitalis dimana klas pekerja harus bekerja melayani pemilik alat-alat produksi.

MONOPOLI

Persaingan, sesuai teori, adalah sesuatu yang baik, Tetapi pemodal menemukan bahwa praktek tidak sesuai dengan teori. Mereka menemukan bahwa persaingan mengurangi keuntungan sedangkan penggabungan meningkatkan keuntungan. Bila semua kapitalis tertarik pada keuntungan jadi mengapa bersaing? Lebih baik bergabung.

Melalui penggabungan modal industri dan keuangan berkemampuan untuk berkembang hingga ke tingkat yang begitu besar dimana dalam beberapa industri saat ini sedikit dari perusahaan, secara nyata, menghasilkan lebih dari setengah jumlah keseluruhan produksi atau mendekati jumlah seluruhnya. Misalnya perusahaan sofware komputer Microsoft atau yang lain (kawan-kawan bisa sebutkan contohnya di Indonesia).

Tidak sulit untuk melihat bahwa dengan dominasi yang luas seperti itu, monopoli kapitalis berada di posisi sebagai penentu harga-harga. Dan mereka memang melakukan hal itu. Mereka menetapkannya pada titik dimana mereka dapat membuat keuntungan tertinggi. Mereka menentukannya melalui persetujuan diantara mereka sendiri, atau melalui pengumuman harga perusahaan terkuat dan perusahaan sisanya memainkan peran sebagai “pengikut”, atau, seperti seringkali terjadi, mereka mengontrol paten dasar dan memberikan surat ijin untuk memproduksi hanya sebatas persetujuan yang telah ditentukan.

Monopoli membuat kemungkinan bagi para pemegang monopoli untuk mengerjakan tujuannya – membuat keuntungan yang besar. Industri yang bersifat bersaing menghasilkan keuntungan pada saat-saat yang baik dan memperlihatkan defisit di saat-saat buruk. Tetapi bagi industri yang bersifat monopoli, polanya berbeda – mereka menghasilkan keuntungan yang besar di saat-saat yang baik, dan beberapa keuntungan di saat buruk.

IMPERIALISME DAN PERANG

Pada akhir abad ke 19 dan permulaan abad ke-20, pertukaran komoditi telah menciptakan internasionalisasi hubungan ekonomi dan internasionalisasi kapital, bersamaan dengan peningkatan produksi sekala besar, sehingga kompetisi digantikan dengan monopoli. Dengan kata lain, dalam persaingan bebas, kenaikan produksi berskala luas akan diambil alih oleh monopoli.

Ciri dominan bisnis kapitalis adalah perusahaan-perusahaan yang tidak bisa lagi berkompetisi baik di dalam negerinya sendiri maupun ketika berhubungan dengan negeri-negeri lain, berubah menjadi monopoli persekutuan pengusaha, semacam perserikatan pengusaha (trust), membagi-bagi pasar dunia bagi kepentingan akumulasi kapitalnya masing-masing.

Ciri khas penguasa berubah menjadi pemilik kapital keuangan, kekuatan yang secara khas bergerak dan luwes secara khas jalin menjalin baik di dalam negerinya sendiri maupun secara internasional yang menghindari individualitas dan dipisahkan dari proses produksi langsung yang secara khas mudah dikonsentrasikan atau suatu kekuatan yang secara khas memang sudah memiliki langkah panjang di jalanan yang menuju pusat konsentrasi, sehingga tangan beberapa ratus milyuner saja dan jutawan saja bisa menggenggam dunia.

Kemampuan produksi sebuah barang telah melampaui jumlah penduduk dalam suatu negeri yang mengkonsumsi barang-barang dagangan ini. Tetapi tuntutan kapitalisme bahwa barang-barang ini harus tetap dijual ke pasar untuk mendapatkan keuntungan. Ini berarti bahwa kaum kapitalis harus menjual barang-barang tersebut keluar negeri. Mereka harus menemukan pasar luar negeri yang akan menyerap kelebihan penjualan pabrik mereka. Inilah kemudian yang menyebabkan terjadinya penjajahan (kolonialisme) dari suatu bangsa atas bangsa lain. Kepentingan untuk melakukan penjajahan ke negeri lain bukan saja untuk menjual barang-barang dagangan mereka, melainkan juga kebutuhan akan persediaan bahan-bahan mentah yang sangat besar bagi kegiatan produksi mereka seperti karet, minyak, timah, tembaga, nikel. Mereka menginginkan untuk mengontrol sendiri sumber-sumber bahan-bahan mentah yang penting tersebut. Kedua faktor inilah yang kemudian menimbulkan imperialisme, membangkitkan peperangan antar satu negeri dengan negeri lain. Perebutan pasar di negeri-negeri jajahan akhirnya menimbulkan perang. Semua perang-perang yang terjadi baik perang dunia I, II maupun perang dikomandoi oleh AS saat ini tidak terlepas dari kerangka untuk mendapatkan pasar-pasar baru.

Zaman imperilisme, ditandai oleh kendali setiap oligarki keuangan negeri-negeri kapitalis maju, yang menggunakan kekuasaaan paksaan dan kekerasan terorganisir (mesin-mesin negara yang mereka pimpin) untuk mempertahankan dominasi imperialnya terhadap kehidupan ekonomi dan politik negeri-negeri terbelakang, serta untuk meningkatkan kesejahteraan mereka dengan mengorbankan kelas pekerja di negerinya sendiri dan negeri-negeri lain.

Kapitalisme Neoliberal

Perang dunia II telah berhasil membangkitkan kembali perkembangan modal di negeri-negeri dunia I. Perkembangan ini telah memacu ekspansi modal dari negeri-negeri imperialis dunia pertama bergerak ke negeri-negeri miskin di dunia III. Sejak tahun 1960-an munculnya perusahaan-perusahaan transnasional dunia I di negeri-negeri dunia III terjadi cukup masif. Namun tuntutan perluasan pasar atas tuntutan dari perkembangan modal di negeri-negeri dunia I dirasakan dihambat akibat sejumlah proteksi dari negara-negara dunia III. Oleh karena itu kemudian pemerintah negara-negara imperialis yang tergabung dalam kelompok G7 melihat kebutuhan untuk melakukan sejumlah reformasi strukturural di negara-negara dunia III. Dalam pertemuan tahunan mereka pada tahun 1976 dihasilkan sebuah kesepkatan untuk melakukan reformasi neoliberal yang pada intinya berisi: pencabutan berbagai subsidi negara, kemudahan masuknya investasi asing, privatisasi, liberalisasi perdagangan.

Kekuasaan negara-negara imperialis dalam mengontrol lembaga-lembaga keuangan internasional seperti IMF, Bank Dunia ia telah berhasil mendorong kebijakan neoliberal ini untuk menjadi kebijakan global di seluruh negeri. Lembaga-lembaga keuangan interanasional ini berfungsi tidak lebih sebagai agen pemerintahan negeri-negeri imperialis untuk menjalankan kebijakan ekonomi neoliberal. Ekspor modal melalui hutang luar negeri dari IMF dan Bank dunia menjadi senjata untuk menekan pemerintah negeri-negeri dunia III untuk menjalakan kapitalisme neoliberal.

Walaupun demikian kebijakan ekonomi neoliberal telah terbukti gagal dipraktekkan di sejumlah negara. Paket reformasi neoliberal telah menyebabkan negara miskin dunia ketiga menjadi lebih miskin lagi. Kaum kapitalis bersama pemerintahan negeri-negeri imperialis mencoba mempertahankan kebijakan ini dengan cara memunculkan sebuah propaganda (ideologi) tentang globalisasi. Dalam pandangan ini, perkembangan ekonomi telah menjadi global. Aturan-aturan sebuah negara tidak lagi relevan dalam situasi perekonomian dunia saat ini. Oleh karena itu globalisasi dunia dalam makna globalisasi neoliberal tidak dapat dilawan oleh siapapun karena merupakan tuntutan dari perkembangan ekonomi dunia.

Kenyataannya justru menunjukkan berlainan. Misalnya saja arus investasi dan jumlah barang dunia justru terkonsentrasi di negeri-negeri imperialis. Yang menjadi kenyataan dalam kebijakan ekonomi neoliberal saat ini adalah GLOBALISASI KEMISKINAN dan krisis global sistem kapitalisme.

Kapitalisme telah terbukti tidak mampu mensejahterahkan rakyat pekerja, dan rakyat miskin bukan saja di negeri-negeri miskin dunia III melainkan juga kini di negeri-negeri dunia I. Tingkat kesejahteraan rakyat pekerja di negeri-negeri dunia I telah merosot. Wajar kemudian bila kemudian mulai bangkitnya perlawanan baik dari kaum buruh, pemuda, mahasiswa, perempuan, aktivitis lingkungan menentang keberadaan kapitalisme. Begitu pula halnya di negeri-negeri miskin dunia III, mulai menyadari bahwa perjuangan kaum buruh tidak dapat dilakukan hanya sebatas perjuangan menuntut perbaikan upah semata tanpa menghapuskan akar dari penghisapand dan kemiskinan serta ketidakadilan yaitu sistem kapitalisme. Perjuangan harus ditujukan untuk melakukan perjuangan politik yaitu untuk demokrasi rakyat miskin dan perjuangan untuk sebuah sistem masyarakat yang adil yaitu SOSIALISME.



[1][1] Pertama kali manusia harus berjuang mengubah alam untuk kebutuhan hidupnya ini. Kegiatan produksi ini dilakukan manusia secara sadar melaui kerjanya. Inilah salah satu yang membedakan manusia dengan hewan.

 

 

Sosialisme dan Agama

Vladimir Lenin (1905)

Masyarakat yang ada saat ini sepenuhnya didasarkan atas eksploitasi yang dilakukan oleh sebuah minoritas kecil penduduk, yaitu kelas tuan tanah dan kaum kapitalis, terhadap masyarakat luas yang terdiri atas kelas pekerja. Ini adalah sebuah masyarakat perbudakan, karena para pekerja yang “bebas”, yang sepanjang hidupnya bekerja untuk kaum kapitalis, hanya “diberi hak” sebatas sarana subsistensinya. Hal ini dilakukan kaum kapitalis guna keamanan dan keberlangsungan perbudakan kapitalis.

Tanpa dapat dielakkan, penindasan ekonomi terhadap para pekerja membangkitkan dan mendorong setiap bentuk penindasan politik dan penistaan terhadap masyarakat, menggelapkan dan mempersuram kehidupan spiritual dan moral massa. Para pekerja bisa mengamankan lebih banyak atau lebih sedikit kemerdekaan politik untuk memperjuangkan emansipasi ekonomi mereka, namun tak secuil pun kemerdekaan yang akan bisa membebaskan mereka dari kemiskinan, pengangguran, dan penindasan sampai kekuasaan dari kapital ditumbangkan. Agama merupakan salah satu bentuk penindasan spiritual yang dimanapun ia berada, teramat membebani masyarakat, teramat membebani dengan kebiasaan mengabdi kepada orang lain, dengan keinginan dan isolasi. Impotensi kelas tertindas melawan eksploitatornya membangkitkan keyakinan kepada Tuhan, jin-jin, keajaiban serta jang sedjenisnya, sebagaimana ia dengan tak dapat disangkal membangkitkan kepercayaan atas adanya kehidupan yang lebih baik setelah kematian. Mereka yang hidup dan bekerja keras dalam keinginan, seluruh hidup mereka diajari oleh agama untuk menjadi patuh dan sopan ketika di sini di atas bumi dan menikmati harapan akan ganjaran-ganjaran surgawi. Tapi bagi mereka yang mengabdikan dirinya pada orang lain diajarkan oleh agama untuk mempraktekkan karitas selama ada di dunia, sehingga menawarkan jalan yang mudah bagi mereka untuk membenarkan seluruh keberadaannya sebagai penghisap dan menjual diri mereka sendiri dengaan tiket murah untuk menuju surga. Agama merupakan candu bagi masyarakat. Agama merupakan suatu minuman keras spiritual, di mana budak-budak kapital menenggelamkan bayangan manusianya dan tuntutan mereka untuk hidup yang sedikit banyak berguna untuk manusia.

Tetapi seorang budak yang menjadi sadar akan perbudakannya dan bangkit untuk memperjuangkan emansipasinya ternyata sudah setengah berhenti sebagai budak. Para buruh modern yang berkesadaran-kelas, digunakan oleh industri pabrik skala besar dan diperjelas oleh kehidupan perkotaan yang merendahkan kedudukan di samping prasangka-prasangka religius, meninggalkan surga kepada para pastur dan borjuis fanatik, dan mencoba meraih kehidupan yang lebih baik untuk dirinya sendiri di atas bumi ini. Proletariat sekarang ini berpihak pada sosialisme, yang mencatat pengetahuan dalam perang melawan kabut agama, dan membebaskan para pekerja dari keyakinan terhadap kehidupan sesudah mati dengan mempersatukan mereka bersama guna memperjuangkan masa sekarang untuk kehidupan yang lebih baik di atas bumi ini.

Agama harus dinyatakan sebagai urusan pribadi. Dalam kata-kata inilah kaum sosialis biasa menyatakan sikapnya terhadap agama. Tetapi makna dari kata-kata ini harus dijelaskan secara akurat untuk mencegah adanya kesalahpahaman apapun. Kita minta agar agama dipahami sebagai sebuah persoalan pribadi, sepanjang seperti yang diperhatikan oleh negara. Namun sama sekali bukan berarti kita bisa memikirkan agama sepanjang seperti yang diperhatikan oleh Partai. Sudah seharusnya agama tidak menjadi perhatian negara, dan masyarakat religius seharusnya tidak berhubungan dengan otoritas pemerintahan. Setiap orang sudah seharusnya bebas mutlak menentukan agama apa yang dianutnya, atau bahkan tanpa agama sekalipun, yaitu, menjadi seorang atheis, dimana bagi kaum sosialis, sebagai sebuah aturan. Diskriminasi diantara para warga sehubungan dengan keyakinan agamanya sama sekali tidak dapat ditolerir. Bahkan untuk sekedar penyebutan agama seseorang di dalam dokumen resmi tanpa ragu lagi mesti dibatasi. Tak ada subsidi yang harus diberikan untuk memapankan gereja, negara juga tidak diperbolehkan didirikan untuk masyarakat religius dan gerejawi. Hal-hal ini harus secara absolut menjadi perkumpulan bebas orang-orang yang berpikiran begitu, asosiasi yang independen dari negara. Hanya pemenuhan seutuhnya dari tuntutan ini yang dapat mengakhiri masa lalu yang memalukan dan keparat, saat gereja hidup dalam ketergantungan feodal pada negara, dan rakyat Rusia hidup dalam ketergantungan feodal pada gereja yang mapan, ketika di jaman pertengahan, hukum-hukum inquisisi (yang hingga hari ini masih mendekam dalam hukum-hukum pidana dan pada kitab undang-undang kita) ada dan diterapkan, menyiksa banyak orang untuk keyakinan maupun ketidakyakinannya, memperkosa hati nurani orang-orang, dan menggabungkan pemerintah yang enak dan pendapatan dari pemerintah, dengan dispensasi ini dan itu yang membiuskan, oleh lembaga gereja. Pemisahan yang tegas antara lembaga Negara dan Gereja adalah apa yang dituntut proletariat sosialis mengenai negara modern dan gereja modern.

Revolusi Rusia harus memberlakukan tuntutan ini sebagai sebuah komponen yang diperlukann untuk kemerdekaan politik. Dalam hal ini, revolusi Rusia berada dalam sebuah posisi yang menyenangkan, karena ofisialisme yang menjijikkan dari otokrasi feodal polisi berkuda telah menimbulkan ketidakpuasan, keresahan, dan kemarahann bahkan di antara para pendeta. Serendah-rendahnya dan sedungu-dungunya pendeta Orthodoks Rusia, mereka pun sekarang telah dibangunkan oleh guntur keruntuhan tatanan abad pertengahan yang kuno di Rusia. Bahkan mereka yang bergabung dalam tuntutan untuk kebebasan, memprotes praktek-praktek birokratik dan ofisialisme, hal memata-matai polisi yang sudah ditetapkan sebagai “pelayan Tuhan”. Kita kaum sosialis harus memberikan dukungan kita pada gerakan ini, mendukung tuntutan para pendeta yang jujur dan tulus hati menuju ke tujuan mereka, membuat mereka meyakini kata-kata mereka tentang kebebasan, menuntut bahwa mereka harus memutuskan semua hubungan antara lembaga keagamaan dan kepolisian. Seperti juga bagi Anda yang tulus hati, di tiap kasus Anda harus mempertahankan pemisahan antara Gereja dengan Negara dan sekolah dengan Agama, sepanjang agama sudah dinyatakan secara tuntas dan menyeluruh sebagai urusan pribadi. Atau Anda tidak menerima tuntutan-tuntutan konsisten tentang kebebasan ini, dalam kasus dimana Anda tetap terpikat dengan tradisi inkuisisi, dalam kasus dimana Anda tetap berpegang teguh dengan kerja pemerintahan yang enak dan pendapatan dari pemerintah, dalam kasus dimana Anda tidak percaya terhadap kekuatan spiritual dari senjatamu dan melanjutkan untuk mengambil suap dari negara. Dan dalam kasus itulah para pekerja berkesadaran-kelas di seluruh Rusia menyatakan perang tanpa ampun terhadap Anda.

Sepanjang yang diperhatikan kaum sosialis proletariat, agama bukanlah sebuah persoalan pribadi. Partai kita adalah sebuah asosiasi dari para pejuang maju yang berkesadaran kelas, yang bertujuan untuk emansipasi kelas pekerja. Sebuah asosiasi seperti itu tidak dapat dan tidak seharusnya mengabaikan adanya kekurangan kesadaran- kelas, ketidaktahuan atau obscurantisme (isme kekaburan, ketidakjelasan) dalam bentuk keyakinan-keyakinan agama. Kita menuntut pembinasaan sepenuhnya terhadap Gereja dan dengannya mampu menerangi kabut religius yang begitu ideologis dan dengan sendirinya senjata ideologis, dengan sarana pers kita dan melalui kata dari mulut. Namun kita mendirikan asosiasi kita, Partai Buruh Sosial-Demokrat Rusia, tepatnya untuk sebuah perjuangan melawan setiap agama yang menina bobokan para pekerja. Dan bagi kita perjuangan ideologi bukan sebuah urusan pribadi, namun persoalan seluruh Partai, seluruh proletariat.

Jika memang demikian, mengapa kita tidak menyatakan dalam Program kita bahwa kita adalah atheis? Mengapa kita tidak melarang orang-orang Kristen dan para penganut agama Tuhan lainnya untuk bergabung dalam partai kita?

Jawaban terhadap pertanyaan ini akan memberikan penjelasan tentang perbedaan yang cukup penting dalah hal persoalan agama yang ditampilkan oleh para demokrat borjuis dan kaum Sosial-Demokrat.

Program kita keseluruhannya berdasar pada cara pandang yang ilmiah, dan lebih jauh materialistik. Oleh karenanya, sebuah penjelasan mengenai program kita secara amat perlu haruslah memasukkan sebuah penjelasan tentang akar-akar historis dan ekonomis yang sesungguhnya dari kabut agama. Propaganda kita perlu memasukkan propaganda tentang atheisme; publikasi literatur ilmiah yang sesuai – dimana pemerintah feodal otokratis hingga saat ini telah melarang dan menyiksa – yang pada saat ini harus membentuk satu bidang dari kerja partai kita. Kita sekarang mungkin harus mengikuti nasehat yang diberikan Engels kepada kaum Sosialis Jerman: menterjemahkan dan menyebarkan literatur intelektual Pencerahan Perancis abad ke-18 dan kaum atheis. Namun bagaimanapun juga kita tidak boleh dan tidak patut untuk jatuh dalam kesalahan menempatkan persoalan agama ke dalam sebuah abstrak, kebiasaan jang idealistik, sebagai sebuah masalah “intelektual” yang tak berhubungan dengan perjuangan kelas, seperti yang tidak jarang dilakukan oleh kaum demokrat-radikal yang ada di antara kaum borjuis. Tentulah bodoh untuk berpikir bahwa, dalam sebuah masyarakat yang berdasar pada penindasan tanpa akhir dan merendahkan massa pekerja, prasangka-prasangka agama bisa disingkirkan hanya melalui metode propaganda melulu. Inilah kesempitan cara berpikir borjuis yang lupa bahwa beban agama yanng memberati kehidupann manusia sebenarnya tak lebih adalah sebuah produk dan refleksi beban ekonomi yang ada di dalam masyarakat. Tak satupun dari famplet khotbah, berabapun jumlahnya, dapat memberi pencerahan pada kaum proletariat, jika ia tidak dicerahkan dengan perjuangannya sendiri melawan kekuatan gelap dari kapitalisme. Persatuan dalam perjuangan revolusioner yang sesungguhnya dari kelas kaum tertindas untuk menciptakan sebuah sorgaloka di bumi, lebih penting bagi kita ketimbang kesatuan opini proletariat di taman firdaus surga.

Hal inilah yang menjadi alasan mengapa kita tidak dan tidak akan menyatakan atheisme dalam program kita, itulah mengapa kita tidak akan dan tidak akan melarang kaum proletariat yang tetap memelihara sisa-sisa prasangka lama untuk menggabungkan diri mereka dengan Partai kita. Kita akan selalu mengkhotbahkan cara pandang ilmiah, dan hal itu essensial bagi kita untuk memerangi ketidakkonsistenan dari berbagai aliran “Nasrani”. Namun bukan berarti bahwa pada akhirnya persoalan agama akan dikembangkan menjadi persoalan utama, sementara hal itu sudah tidak dipersoalkan lagi, atau bukan pula berarti bahwa kita akan membiarkan semua kekuatan dari perjuangan ekonomi dan politik revolusioner yang sesungguhnya untuk dipilah-pilah mengikuti opini tingkat ketiga ataupun ide-ide yang tidak masuk akal. Karena hal ini akan segera kehilangan semua arti penting politisnya, segera akan disapubersih sebagai sampah oleh perkembangan ekonomi.

Dimanapun kaum borjuis reaksioner hanya memperhatikan dirinya sendiri, dan sekarang sudah mulai memperhatikan dirinya di Rusia, dengan menggerakkan perselisihan agama – karenanya dalam rangka membelokkan perhatian massa dari problem-problem ekonomi dan politik yang demikian penting dan fundamental, pada saat ini diselesaikan dalam praktek oleh semua proletariat Rusia yang bersatu dalam perjuangan revolusioner. Kebijaksanaan revolusioner yang memecahbelahkan kekuatan kaum proletariat, dimana pada saat ini manifestasinya muncul dalam program Black-Hundred, mungkin besok akan menyusun bentuk-bentuk yang lebih subtil. Kita, pada setiap tingkat, akan melawannya dengan tenang, secara konsisten dan sabar berkhotbah tentang solidaritas proletarian dan cara pandang ilmiah – seorang pengkhotbah yang asing pada apapun hasutan-hasutan perbedaan sekunder.

Kaum proletariat reevolusioner akan berhasil dalam membentuk agama menjadi benar-benar urusan pribadi, sejauh yang diperhatikan oleh negara. Dan dalam sistem politik ini, bersih dari lumut-lumut abad pertengahan, kaum proletariat akan keluar dan membuka pertarungan untuk mengeliminasi perbudakan ekonomi, sumber yang murni dari segala omong kosong relijius manusia.

Novaya Zhizn, No. 28.
3 Desember, 1905
Tertanda: N. Lenin

 

Surat-Surat Cinta Marx

Karya-karya Marx dan Engels (1865)


Di tulis oleh Marx dan Engels pada tanggal 17 dan 18 September 1879. Di cetak sesuai manuskrip yang di terjemahkan oleh Engels dari bahasa Jerman.

Di publikasikan untuk pertama kalinya dalam jurnal Die Kommunstische, Internasionale, XII. Jahrg. , Heft 23, bulan Juni 1931.

Sebuah Manifesto dari Trio Zurich (Hochberg, Bernstein, dan Schram)


Sementara itu, terbitan Jahrbuch yang dikeluarkan oleh Hochberg telah sampai ke tangan kami. Didalamnya dimuat sebuah artikel yang berjudul “Sebuah Retrospeksi Atas Gerakan Sosialis Jerman”, dimana, seperti yang diungkapkan sendiri oleh Hochberg, ditulis oleh 3 anggota Komisi Zurich (Hochberg, Bernstein dan Scharm — Lenin). Disini kami telah telah menangkap apa yang mereka maksud dengan kritik-kritik otentik yang mereka tujukan pada gerakan Sosialis secara keseluruhan. Dan disini kami juga telah menyertakan — apa yang mereka sebut sebagai — garis program otentik yang ditujukan bagi organ baru partai.

Dari permulaan kami kutipkan:

“Gerakan yang dianggap oleh Lassale sebagai gerakan yang sungguh-sungguh politis, yang telah dikumandangkan tidak hanya kepada buruh namun juga kepada para demokrat-demokrat yang tulus, yang berorientasi pada keutamaan atas nama ilmu pengetahuan yang bebas, dan atas nama semua manusia yang dikaruniai dengan kecintaan sejati atas kemanusiaan, ternyata di bawah naungan Johann Baptist Schweitzer telah dipotong menjadi perjuangan sepihak dari buruh-buruh industri demi kepentingan buruh-buruh itu sendiri”

Aku belum akan menguji bagaimana dan sejauh mana hal ini secara historis akurat. Namun kritik yang dilancarkan disini adalah terhadap Schweitzer, karena dia “memotong” Lassaleisme. yang dianggapnya sebagai gerakan — dermawan — borjuis yang demokratis. Disini gerakan gerakan itu telah digambarkan telah dipotong ke arah perjuangan sepihak demi kepentingan buruh-buruh industrial melawan borjuis. Dengan jalan memperdalam karakternya, sebagai perjuangan klas dari buruh-buruh industrial menghadapi kaum borjuis. Berikutnya Schweitzer dicela karena “menolak demokrasi borjuis. Kami ingin bertanya: “Apa urusannya Partai Sosial-Demokrat dengan (perjuangan) demokrasi borjuis? Kalau partai dianggapnya terdiri dari para demokrat yang “tulus” yang tidak dapat diharapkan untuk menerima ajakan mereka tersebut dan kalaupun ajakan itu hendak dipaksakan, bukankah ini semua berarti sebuah ajakan yang sengaja memancing pertengkaran?.

Berikutnya perhatikan lagi kutipan mereka: Partai Lassalist “memilih untuk menempatkan dirinya dalam cara perjuangan sepihak sebagai partai kaum buruh”. Orang-orang yang menulis artikel ini — (secara formal) — adalah juga anggota dari partai yang dimaksud, dan mereka pada saat ini sedang menikmati hak-hak menggunakan inventaris, forum-forum partai — dan terutama kesempatan yang disediakan oleh partai untuk menuliskan artikel tersebut — tidak ada lain adalah demi kebaikan tujuan dan martabat Partai. Disini kami melihat ketidakwajaran yang absolut. Kalau mereka benar-benar bermaksud sebagaimana yang telah dituliskan — tidak ada pilihan lain — mereka harus meninggalkan Partai, atau setidaknya mengundurkan diri, menanggalkan jabatan dan posisi yang telah diberikan Partai. Kalau mereka tidak bersedia melakukan hal-hal tersebut diatas, dan mereka secara terang-terangan menerima dan mengakui bahwa mereka sedang memanfaatkan posisi resmi mereka dalam organisasi untuk menghancurkan watak proletariat Partai,maka bila Partai membiarkan inventaris-inventarisnya, departemen-departemennya, martabatnya dinjak-injak oleh mereka; maka partai juga telah mengkhianati dirinya sendiri(!).

Dalam pandangan orang-orang itu, Partai Sosial Demokrat tidak boleh menjadi sebuah partai yang sekedar berpihak memperjuangkan kepentingan kaum buruh, namun harus merupakan sebuah Partai terbuka yang — mencakup — semua untuk “tiap manusia yang diilhami dengan kecintaan sejati diatas kemanusiaan”. Menurut mereka, diatas segalanya partai harus membuktikan dirinya, dengan menanggalkan keinginan kasar kaum buruh; dan menempatkan kaum buruh dibawah bimbingan borjuis yang dermawan dan terpelajar “dalam rangka membangun citarasa” dan ” belajar tentang hal-hal yang patut dan baik” (Lihat hlm.85 artikel mereka). Maka kemudian “perilaku tak terhormat” dari beberapa pemimpin akan mulai berubah ke arah “perilaku borjuis” yang terhormat. (Jika perilaku seperti ini yang hendak mereka maksudkan, maka ini bukan caci-maki yang terakhir yang akan mereka terima!)

Kemudian selanjutnya:

Sejumlah anggota dari lingkungan klas yang berpunya dan terpelajar akan kita datangkan. Hal ini perlu ditampilkan kalau agitasi yang kita gelar hendak meraih sukses yang menentukan”. Sosialisme Jerman telah “demikian terlekati dengan prioritas kerja untuk massa, dan karenanya telah melalaikan propaganda giat (!) terhadap lapisan atas masyarakat”. Ini semua dikarenakan, “partai demikian kekuarangan sumber daya untuk diwakilkan pada parlemen (Reichstag)”. Untuk itu, bagaimanapun, “benar-benar dibutuhkan dan menjadi sebuah keharusan untuk melimpahkan mandat kepada orang-orang yang mempunyai waktu dan kesempatan untuk membuat dirinya benar-benar berguna untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang relevan. Para pekerja — sederhana — maupun tukang-tukang ahli kerajinan dalam partai…. nampaknya hanya sedikit sekali yang memiliki persyaratan diatas”.

Maka Marilah kita beramai-ramai memilih kaum borjuis!

Singkatnya: pertama, orang-orang itu hendak menyatakan bahwa klas buruh tak akan pernah sanggup membebaskan dirinya sendiri. Untuk itu mereka harus menempatkan dirinya di bawah kepemimpinan “kaum terpelajar dan berpunya” borjuis yang memiliki “waktu dan kesempatan” yang banyak untuk memikirkan kepentingan kaum buruh. Kedua, kaum borjuis bukanlah musuh yang perlu dilawan, namun justru harus dimenangkan lewat propaganda-propaganda yang giat.

Itulah sebabnya bila kita memperoleh dukungan laipsan atas masyarakat, atau sebagian dari elemen-elemen yang bagus, kita tidak boleh menakut-nakuti mereka dengan cara apapun juga. Disinilah Trio Zurich itu mengira bahwa mereka telah membuat penemuan yang spektakuler:

“Terutama tepat pada saat ini — dibawah tekanan dari UU anti sosialis partai seyogyanya menunjukan bahwa dirinya tidak memiliki kecondongan untuk menganjurkan jalan revolusi kekerasan yang berdarah. Namun sebaliknya….menunjukan dirinya mengikuti jalan legalitas, atau jalan reformis”.

Jadi bila sejumlah tak kurang dari limaratus ribu atau enam ratus ribuan pemilih dari partai Sosial Demokrat (yang merupakan sepersepuluh atau seperdelapan dari keseluruhan pemilih) — yang tersebar seantero Jerman—memiliki cukup kewarasan untuk tidak menumbukkan kepalanya ke tembok yang keras … Dan tidak menunjukkan tanda-tanda hendak melakukan “revolusi berdarah”; ini berarti akan meninggalkan keuntungan dari beberapa peristiwa dashyat, sebuah gelombang revolusi bahkan kemenangan yang akan diperoleh dari konflik yang terjadi. Kami berharap agar kota Berlin tidak lagi membiarkan, peristiwa seperti yang dialami oleh Partai Sosial demokrat pada tanggal 18 Maret terulang lagi. Karena menurut mereka yang penting adalah – bukannya mengambil bagian dalam konflik, “demi kepentingan orang-orang yang berkelakuan tak pantas dari klas terbawah” – namun justru kita seharusnya “mengambil jalan legalitas” (lihat halaman 88 artikel trio Zulich) kalau memang begitu, bukankah yang dimaksudkan oleh “tuan-tuan dari Zurich itu adalah … bahwa kita seharusnya menyingkirkan segala rintangan dan hambatan, dengan berhenti melakukan kerja-kerja pengorganisiran massa dan kalau perlu kita diminta untuk berpawai bersama — beriring dan bergandeng — dengan pongah bersama dengan tentara dan mesin-mesin pembantainya, untuk melibas/menumpas habis massa buruh yang kasar dan tak berpendidikan ?

Namun baiklah kita lanjutkan dengan mengupaskan artikel mereka:

“karena itu, dengan semakin tegas dan objektifnya Partai dalam kritik-kritik dan tuntutan atas kondisi-kondisi yang ada saat ini … semakin mustahil pula Partai untuk meraih keberhasilan pada saat ini (apalagi ditengah pemberlakuan UU anti Sosialis)… ”.

“Ketika para reaksioner dengan sengaja mengintimidasi kaum borjuis dengan membangkit-bangkitkan setan merah (hal.88)”.

Dalam rangka menentramkan borjuasi dari kehawatiran mereka terhadap proletariat-menurut para artikel tersebut — kita harus secara jelas meyakinkan bahwa setan merah tersebut benar-benar tidak ada. Apa sesungguhnya yang terdapat dibalik kehawatiran mereka terhadap setan merah tersebut. Apa hakekat dari kekatakutan itu sendiri? ….. kalau bukan suatu kengerian atas perjuangan dan perlawanan hidup mati — yang tak terhindarkan antara borjuasi dan proletariat! Jadi, tidakkah mereka lebih takut lagi membayangkan hasil akhir dari pertanyaan tersebut? Sekarang, kalau kita balik : Siapakah atau pihak manakah yang akan paling diuntungkan bila perjuangan klas ditinggalkan?….Apakah yang akan terjadi kalau kaum proletar menanggapi ajakan manis borjuasi tersebut untuk hidup berdampingan dengan bergandengan tangan? Sipakah yang akan paling diuntungkan, kalau semua ini dibiarkan begitu saja? Jawabnya jelas. Kaum borjuis. Dan kaum proletar hanya akan menjadi mangsa tipuan.

Untuk semua itu, mereka menganjurkan agar partai menampilkan profil yang sederhana, bersahaja….sehingga partai dapat dengan sepenuhnya terbebas dari “ekses-ekses maupun berbagai ketidaksesuaian” yang menjadi penyebab lahirnya UU anti sosialis ini, maka Perdana menteri Bismarck dan borjuasi….pada gilirannya akan memiliki cukup keramahan untuk mencabut kembali UU, karena keberadaannya tidak akan dibutuhkan lagi!

“Janganlah sampai orang-orang salah mengartikan maksud kami”: kami tidak (sungguh-sungguh) ingin mencampakan program partai kita. “Namun pikirkanlah….jika kita mengkonsentrasikan segenap tenaga dan energi — dalam rangka pencapaian tujuan-tujuan tertentu (dengan segera), yang merupakan prasyarat bagi realisasi/pelaksanaan aspirasi kita untuk tahun-tahun kedepan — maka akan begitu banyak hal yang bisa kita kerjakan.”

Maka, kemudian….para borjuis, borjuis kecil dan pekerja-pekerja yang tadinya begitu ketakutan dengan tuntutan-tuntutan kita yang sangat maju akan menyambut ajakan kita dan bergabung dalam jumlah yang sangat melimpah ruah.

Program (perjuangan klas pekerja bagi sosialisme) memang tidak perlu ditinggalkan, namun hanya perlu ditunda saja sampai jangka waktu yang tidak ada batasnya. Maka inilah konsekuensinya bila kita menerima usul Trio Zurich tersebut. Maka walaupun nampaknya kitra sendiri yang menerimanya. Namun implikasi/akibat-akibatnya sungguh tidak akan hanya ditanggung sendiri sepanjang hayat kita. Tapi bahkan akan berkelanjutan setelah kita mati. Implikasinya akan diwariskan kepada anak-cucu-cicit kita. Sementara pada saat yang sama “segenap energi dan kekuatan kita” dicurahkan pada hal-hal sepele dan melakukan antisipasi yang tambal sulam atas tatanan masyarakat kapitalis … sehingga setidaknya akan timbul kesan bahwa kita mengerjakan sesuatu (tanpa pernah menukik pada akar permasalahannya, yakni penyingkiran borjuasi). Di sini aku harus benar-benar “memuji” Miguel si “komunis” yang dengan beraninya dapat memastikan perihal kehancuran—yang tak terhindarkan—dari masyarakat kapitalis; dalam rangkaian perkembangan beberapa ratus tahun ke depan. Semua ini dilakukannya dengan cara memperdaya kita semua, dalam konflik yang meletus pada tahun 1873. Sehingga benarlah, bahwa dia memang menyumbangkan “sesuatu” bagi tatanan yang ada saat ini; yakni dengan membuatnya lebih kuat dan lebih siap dalam menghadapi gempuran proletariat.

Berikutnya mereka menyatakan, kecaman-kecaman yang selama ini dilancarkan untuk penataan yang lebih baik, adalah “kecaman yang terlampau dibesar-besarkan atas penyelenggara perusahaan” yang hanya sekadar merupakan “anak zaman” (children of their time, yakni mereka yang terlahir dalam masa dan kondisi yang berlaku pada masa itu, pent). Sehingga pilihan yang terbaik adalah “dengan tidak mempermasalahkan Strusberg dan orang-orang semacamnya”. Sayang sekali argumen ini dikeluarkan begitu saja, tanpa mengindahkan fakta, bahwa semua orang adalah “anak dari zamannya” (child of his time). Sehingga kalau hal ini akan dipakai sebagai pembenaran yang sah … Maka tidak ada lagi orang yang perlu dikecam … Semua perdebatan, segala bentuk macam perjuangan dan tugas yang perlu kita pikul, tidak akan ada urgensinya lagi. Dengan tenang dan pasrahnya kita menerima saja gebukan, cambukan, injakan, pukulan, tikaman—singkatnya penindasan—yang secara bertubi-tubi diancarkan oleh musuh-musuh kita. Ini semua kita lakukan dan biarkan—karena kita sedemikian bijak dan arifnya—memahami dan memaklumi para musuh kita ini sebagai “anak-anak zamannya”, yang tidak dapat memilih untuk bertindak lain. Sehingga bukannya melakukan perhitungan atas kerugian yang telah ditimpahkan atas kita; kita memilih untuk menangisi kemalangan yang menimpa kita.

Kemudian sekali lagi—menurut mereka—Komune membawa kerugian-kerugian sebagai berikut:

“orang-orang yang seharusnya bersimpati pada kita, akan dikucilkan oleh orang-orang disekitarnya. Kebencian kaum borjuis kepada kita akan semakin meningkat. Lebih dari pada itu, Partai bukannya tanpa andil dalam lahirnya UU anti Sosialis pada bulan Oktober yang lalu, yang menyebabkan meningkatkannya kebencian borjuasi pada Partai kita, pada hal itu semua tidak perlu terjadi”.

Begitulah anda telah mendapatkan sedikit gambaran tentang program yang diperjuangkan oleh trio tukang sensor dari Zurich itu. Singkatnya, para tukang sensor tersebut tidak menawarkan sesuatu yang berharga bagi kita. Sudah jelas bagi kami ungkapan-ungkapan semacam itu dari hari ke hari tahun 1848. Semuanya itu adalah pencerminan dari pandangan dan kepentingan borjuasi yang ingin didengarkan suaranya, yaang penuh kekhawatiran bahwa kaum proletariat dengan posisi revolusionernya dapt “bergerak terlalu jauh”. Jadi yang sesungguhnya ditawarkan oleh Trio Zurich tersebut, tidak lain adalah mediasi atau musyawarah, sebagai ganti dari oposisi politik yang tegas. Juga usulan agar kita melakukan berbagai upaya untuk membujuk kaum borjuis dan menerangkan hati mereka, sebagai ganti dari perlawanan terhadap penguasa dan borjuasi. Bila diringkaskan maka, usul tersebut adalah agar kita tunduk dengan jinaknya kepada kaum borjuis. Serta anjuran agar kita mengakui bahwa kita memang patut dipersalahkan, dan karenanya pantas dihukum. Dengan demikian, segala konflik yang berbasiskan pada keharusan sejarah … semua itu ditafsirkan sebagai “kesalahpahaman belaka”. Dan semua perdebatan ditutup dengan kepastian bahwa pada dasarnya kita sepakat dalam hal-hal yang prinsip. Orang-orang yang tampil sebagai demokrat-demokrat borjuis dalam kudeta ditahun 1848: pada saat ini bisa saja mengaku sebagai kaum Sosial Demokrat. Bagi kaum borjusi suatu republik yang demokratis adalah seperti sebuah tujuan dengan kemungkinan pencapaian yang sangat kecil; sebagaimana halnya penggulingan sistem kapitalis bagi kaum sosial demokrat. Dengan demikian bagi mereka republik yang demokratis, maupun penggulingan sistem kapitalis, tidak memilki urgensi apapun dalam proses politik masa kini. Karena menurut mereka, kita dapat menyelesaikan setiap masalah dengan musyawarah, melakukan kompromi, dengan bersandar kepada kebaikan hati semua orang yang dermawan. Hal yang sama berlaku bagi perjuangan klas antara borjuasi dengan proletariat. Hal ini memang nyata (karena telah diperdebatkan dalam berbagai mas media); namun keberadaannya ditingkat praktek dapat dikesampingkan. Partai Sosial Demokrat bukanlah sebuah Partai kaum pekerja, jadi Partai ini tidak perlu sampai menimbulkan kebencian dikalangan kaum borjuis kecil atau dari manapun. Prioritas Partai ini adalah untuk menyusun propaganda giat di kalangan borjuasi. Dari pada memberikan titik tekan pada tujuan-tujuan yang sedemikian jauh dan tinggi (yang membuat takut borjuasi), dan yang sudah jelas tidak akan mungkin tercapai dalam generasi kita … lebih baik Partai ini menyalurkan segenap tenaga dan energinya pada reformasi versi borjuis kecil yang tambal sulam. Dengan tembal sulam seperti itulah, tatanan masyarakat yang lama akan ditopang dengan tiang penyangga baru: sehingga malapetaka dahsyat yang tadinya akan menimpa kita, dapat ditranformasikan menjadi sebuah perubahan gradual—sedikit demi sedikit—dan sedapat mungkin melenyapkan sumber malapetaka tersebut, dalam proses yang berlangsung secara damai. Mereka inilah orang-orang yang berlagak seolah-olah terlibat dalam aktivitas yang tak kenal lelah bagi pergerakan. Namun yang lebih parah lagi, yakni, mereka tidak hanya sekedar berdiam diri saja secara pasif … akan tetapi justru secra aktif mencegah atau menghambat munculnya perkembangan gerakan yang lebih maju. Diluar itu, masih ada satu hal lagi yang dapat mereka lakukan, yakni berkaok-kaok mengumbar kata-kata kosong. Merka ini jugalah—yang karena ketakutannya atas berbagai kemajuan dalam gerakan yang terjadi pada tahun 1848 dan 1849 — dengan sengaja memotong pergerakan massa dalam setiap tahapannya yang berakibat pada kegagalan pergerakan. Orang-orang sama yang tidak pernah bekerja cukup keras yang kebingungan ketika menemukan diri mereka hanya berputar-putar dijalanan buntu. Mereka ini yang begitu mati-matian dalam usahanya untuk “memenjarakan” sejarah dalam cakrawala Philistinisme mereka yang kerdil, namun dengan begitu gampangnya terbungkuk-bungkuk menyerah pada penguasa tatanan baru.

Manifesto Komunis telah memberikan kecaman-kecaman yang sangat keras atas orang-orang semacam itu, yang mengklaim dirinya sebagai orang-orang sosialis. (Lihat bab tentang Jerman/Sosialisme “sejati”). Ketika perjuangan klas dikerdilkan sebagai fenomena “kasar” yang keberadaannya tiodak sungguh-sungguh dikehendaki (oleh para penulis artikel tersebut, pent) … maka tidak akan ada lagi yang tersisa sebagai basis dari sosialisme, kecuali ungkapan-ungkapan kosong tentang “keadilan” ataupun tentang “cinta sejati atas kemanusiaan”.

Berbasiskan pada rangkaian perkembangan historis, orang-orang yang tadinya merupakan bagian dari klas yang berkuasa—secara tak terhindarkan akan tersesat … tidak punya pilihan lagi selain bergabung dengan kaum proletar yang militan dan memberikan pasokan elemen pendidikan yang dimilikinya. Dengan jelas kami menyatakan hal ini dalam manifesto. Namun ada dua hal yang perlu dicatat:

Pertama. agar dapat mendatangkan kebaikan bagi pergerakan proletariat, maka orang-orang ini harus membawa elemen edukatif/yang mendidik. Namun hal ini tampaknya tidak berlaku dalam kasus Jerman. Betapa banyaknya-pun borjuis-borjuis Jerman yang “bertobat” namun nyatanya baik Zukunft atau Neue Gesselschaft; tidak pernah memberikan sumbangan yang cukup berarti bagi pergerakan. Ini jelas suatu kekurangan yang fatal dalam material-material pendidikan yang sejati baik secara praktis maupun teoritis. Kami melihat adanya kecenderungan untuk memadukan gagasan-gagasan sosialis (yang ditekuni setengah hati) dengan beragam cara-cara pandang teoritik (yang belum teruji kesahihannya) yang didatangkan oleh orang-orang murtad tersebut entah dari Universitas-universitas, pendapat perorangan, sarjana-sarjana borjuis lain. Ini semua berjkaitan dengan proses pembusukan yang melanda sisa-sisa tradisi filsafat Jerman dewasa ini, inilah pula yanng membuat para pemikir dari teoritisi dari tradisi filsafat Jerman ini, saling berbantahan. Mereka hanya dapat saling berbantahan dan cuma dapat menawarkan satu kebingungan sebagai ganti dari kebingungan lainnya. Orang-orang tersebut bukannya mulai dengan mempelajari suatru bidang ilmu baru secara tajam dan tekun. Mereka masing-masing justru memangkas ilmu tesebut sesuai dengan selera mereka masing-masing juga. Tepatnya, sesuai dengan kekeliruan dan kekeruhan cara pandang yang lama. Bahkan lebih lanjut lagi, mereka menjadikan ilmu baru tadi sebagai pengetahuan perorangan, sebagai sesuatu yang diakuinya sebagai penemuan asli dirinya sendiri. Bahkan mereka berpretensi hendak mengajarkan ilmu “baru” itu pula. Begitulah, dengan demikian terdapat beribu-ribu pendapat, sama banyaknya dengan jumlah kepala mereka masing-masing. Sehingga yang bisa mereka sumbangkan tidak lain daripada kebingungan demi kebingungan, diantar mereka sendiri. Bagi elemen-elemen terdidik yang prinsip awalnya adalah mengajar, apa yang mereka yang belum pelajari dapat mereka dapatkan di dalam partai.

Kedua. kalau orang-orang seperti ini—yang berasal dari klas lain—bergabung denga gerakan proletariat, maka syarat pertama yang harus mereka sanggupi adalah kesediaan untuk tidak membawa serta sisa-sisa prasangka borjuis, borjuis kecil, dsbnya. Mereka harus sanggup menerima cara pandang proletariat sepenuh hati. Namun terbukti bahwa orang-orang seperti mereka ini, sarat dengan muatan konsep-konsep borjuis dan borjuis kecil. Di negri borjuis kecil seperti Jerman ini, konsep ini memang mendapatkan pembenarannya. Namun pembenaran ini hanya diluar lingkup Partai Sosial Demokrat. Kalau “tuan-tuan” di Zurich tersebut menggolong mereka sendiri sebagai anggota Partai Borjuis Kecil Sosial Demokrat, mereka boleh-boleh saja melakukannya. Namun kita tidak perlu berurusan dengan mereka, apalagi membenarkan mereka membangun sebuah klik demi kepentingan mereka sendiri. Kami ingin menegaskan bahwa dalam sebuah Partai kaum buruh, mereka inilah yang disebut sebagai elemen “perusak yang cabul”. Kalau memang ada alasan dan pertimbangan-pertimbangan secara keseluruhan untuk tetap membiarkan mereka sementara ini … adalah tugas kami juga untuk mencegah pengaruh-pengaruh merusak mereka dalam kepemimpinan Partai. Sehingga perlu dicamkan bahwa pemisahan dengan mereka hanyalah masalah waktu saja dan waktu tersebut nampaknya telah menjelang tiba. Bagaimana Partai bisa memberikan toleransi atau membiarkan saja sepak terjang para penulis artikel tersebut, memang merupakan sebuah hal yang tidak kami mengerti. Namun bila kepemimpinan Partai sampai jatuh ketangan mereka—sebagian atau seluruhnya—maka Partai akan jatuh dalam kebinasaan dan itu akan menjadi akhir bagi suara kaum proletarian (proletarian snap).

Sedang bagi kami sendiri hanya ada satu jalan yang layak untuk kita tempuh. Hampir selama 40 tahun terakhir ini, kami telah memberikan penekanan pada perjuangan klas; sebagai kekuatan pendorong dalam sejarah dan secara khusus tercermin dalam perjuangan klas antar borjuasi berhadapan dengan proletariat, pengungkit (great lever) dalam sejarah revolusi sosial modern; karenanya adalah sesuatu yang mustahil bagi kita untuk bekerja sama dengan orang-orang yang justru berhasrat untuk menghapus perjuangan klas dari gerakan. Ketika Komunis Internasional pertama dibentuk, kita dengan lantang mengumandangkan teriakan perang: “pembebasan klas buruh haruslah merupakan kerja dari klas buruh itu sendiri. Karenanya — sekali lagi — kita tidak dapat bekerja sama dengan orang-orang yang secara terbuka menyatakan bahwa: kaum buruh terlampau bodoh untuk membebaskan diri mereka sendiri: dan satu-satunya pemecahan bagi mereka sendiri adalah pertolongan dari “atas”. Yakni pertolongan dan pembebasan yang datang dari kaum borjuis besar mapun borjuis kecil. Kalau orang-orang baru Partai mengadopsi garis yang sejalan dengan pandangan orang-orang itu … sebuah garis yang nyata-nyata berkarakter borjuis. Maka tiadak ada lagi yang sisa simpatik dari kita, kita pun tidak perlu menangisi hal ini. Yang perlu dan harus kita lakukan justru, secara terbuka dan tegas menyatakan penolakan kita terhadap mereka. Dan kalau ternyata organ baru Partai malah melindungi mereka, maka kalau perlu kita akan mencabut solidaritas Internasional yang selama ini di atas namakan kepada Partai. Namun baiklah kita berharap bahwa langkah yang terakhir ini hanya akan kita ambil, kalau memang tidak ada pilihan lain …

 

 

 

 

 

Januari 5, 2008 at 3:34 pm Tinggalkan komentar


Daftar Pengunjung

  • 480,557 hits
Oktober 2014
S S R K J S M
     
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Feeds

Koleksi Album

More Photos

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: